Peran Vital & Transformasi BRI Sukseskan Program Revolusi Hijau RI

ADVERTISEMENT

Peran Vital & Transformasi BRI Sukseskan Program Revolusi Hijau RI

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Rabu, 26 Okt 2022 22:19 WIB
Sunarso
Foto: Screenshot/detikcom
Jakarta -

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) turut berkontribusi pada program Revolusi Hijau yang dijalankan pemerintah pada tahun 1980-an. Program tersebut merupakan tonggak dari keberhasilan Indonesia mencapai Swasembada Pangan.

Adjunct Lecturer in Public Policy Harvard Kennedy School Jay K. Rosengard mengulas proyek Revolusi Hijau tercetus pada tahun 1970-1980-an. Saat itu, Pemerintah Indonesia tertarik untuk menjalankan program tersebut. Salah satu realisasinya dengan memperluas penggunaan teknologi untuk kegiatan pertanian.

"Untuk melakukan itu, mereka perlu mengajari para petani cara menggunakan teknologi. Itu merupakan tugas Kementerian Pertanian," jelas Jay dalam G20 Financial Inclusion Talks di CNBC Indonesia, dikutip Rabu (26/10/2022).

Jay menambahkan selain memberikan penyuluhan soal teknologi, pemerintah juga membiayai pembelian bibit, pupuk, pestisida, hingga biaya hidup para petani selama masa transisi ke teknologi terbaru.

"(Pembiayaan) terdapat pada program BRI bernama Bimas (Bimbingan Massal). Inilah permulaan micro banking secara nasional di BRI," tutur Jay.

Jay menyebut program Revolusi Hijau menuai keberhasilan. Indonesia pun mampu mencapai swasembada pangan.

"Revolusi Hijau merupakan kesuksesan yang luar biasa. Indonesia berubah dari pengimpor beras terbesar menjadi pengekspor beras dalam 20 tahun," ulas Jay.

Ia menyebut BRI memiliki peran penting dalam berjalannya program Revolusi Hijau tersebut. Setelah swasembada pangan tercapai, BRI didorong untuk bertransformasi agar bisa memiliki bisnis yang berkelanjutan selain sebagai penyalur subsidi dari pemerintah.

"Sekitar tahun 1983, Kementerian Keuangan mengatakan bahwa subsidi terus tumbuh terutama untuk petani. Mereka mengatakan kepada BRI bahwa mereka perlu membuat keputusan dan bekerja sama dengan jaringan sosial yang besar dari ribuan unit yang disebut BRI Unit Desa dengan 14 ribu karyawan. Jika Tidak, Anda harus menutup sistem membayar subsidi sendiri atau menutup sistem yang berarti sebagian besar (masyarakat) Indonesia tidak memiliki rekening bank," urai Jay.

Namun, pada saat itu BRI mampu berinovasi sehingga mendapatkan formula untuk menjalankan bisnis berkelanjutan. BRI dipercaya masyarakat, termasuk di kawasan pedesaan untuk melakukan aktivitas keuangan, seperti menabung, mengambil kredit, dan sebagainya.

"Namun pada saat itu, banyak orang di seluruh Indonesia membuka rekening di BRI. Mereka juga membuka tabungan Tapenas BRI, (sebuah) program tabungan nasional, kredit Bimas yang mendukung pertanian, baik kredit mini dan kredit midi," ungkap Jay.

Direktur Utama BRI Sunarso menambahkan dalam program Revolusi Hijau itu tidak hanya teknologi pertanian yang dikenalkan ke masyarakat desa, tapi juga akses keuangan yang lebih luas. Dengan begitu mereka bisa mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan usaha pertaniannya.

"Lembaga bukan hanya teknologi yang masuk lembaga ekonomi dimasukkan ke pedesaan melalui Koperasi Unit Desa KUD dan kemudian disebut BUD badan usaha bentuknya koperasi. Dan kemudian proses-proses bisnis di desa itu juga berubah secara sosial dan kemudian lembaga-lembaga komunikasi di-inject ke desa. Dulu ada namanya kolom pencapir kelompok pendengar dan pembaca dan pemirsa dan itu juga merubah cara kita mengakses informasi," papar Sunarso.

Ia menambahkan BRI dimasukkan ke desa sebagai lembaga keuangan penyalur kredit bagi petani. Setelahnya, BRI bertransformasi menjadi lembaga keuangan yang bergerak di level mikro. BRI selanjutnya menjalankan bisnis perbankan yang komprehensif, selain tetap dipercaya menyalurkan program-program pemerintah.

"Setelah swasembada pangan, mau diapakan lembaga ini (BRI Unit Desa). Dan itu kita cerita tentang transformasi BRI yang pertama, jadi itulah setelah tahun 85 BRI merubah, mentransformasi yang tadinya BRI Unit Desa yang khusus difokuskan mensupport program swasembada pangan, kemudian karena swasembada pangannya sudah selesai harus commercial base, jadilah sekarang BRI Unit Mikro yang lebih komersial bukan sekadar menyalurkan program pemerintah," ujar Sunarso.

(prf/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT