×
Ad

UMKM Mulai Beralih dari Kredit Bank ke Pindar, Ini Datanya

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 04 Mar 2026 20:24 WIB
AFPI- Peer-to-peer (P2P) Lending atau pinjaman daring (pindar) menjadi sumber pendanaan alternatif UMKM selain bankFoto: Andi Hidayat/detikcom
Jakarta -

Peer-to-peer (P2P) Lending atau pinjaman daring (pindar) menjadi sumber pendanaan alternatif UMKM selain bank. Bahkan, banyak UMKM yang mulai beralih ke pindar di tengah ketidakpastian.

Senior Analyst Katadata Insight Center Hanif Gusman menjelaskan pengajuan pendanaan UMKM ke pindar terjadi imbas rumitnya proses administrasi kredit di perbankan. Pindar menjadi pilihan alternatif karena pencairan dana yang cepat dan proses pengajuan yang mudah.

Berdasarkan risetnya, Hanif mengatakan 66,7% UMKM mengajukan kredit ke pindar karena proses pencairannya yang cepat dibanding perbankan. Selain itu, ada sebanyak 64,7% UMKM juga menilai manfaat lain dari platform pindar untuk menghadapi kondisi darurat.

"Kita lihat bahwa beberapa hal yang membuat UMKM tidak menggunakan pinjaman dari perbankan, mulai dari proses pengajuan yang terlalu rumit, terus dokumen yang sulit ditemui, sehingga harus ada jaminan. Sementara pindar sendiri sebagai platform digital itu memiliki beberapa kelebihan. Pertama itu pencairan dana yang cepat, proses cepat dan mudah, hingga aplikasi yang lebih mudah digunakan," ungkap Hanif dalam acara Paparan Riset Industri Pindar di On3 Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Hanif menjelaskan, outstanding industri pindar sepanjang 2024 hingga Agustus 2025 tercatat mencapai Rp 87,48 triliun dengan pengguna sebanyak 25,5 juta. Angka tersebut terus bertumbuh mencapai Rp 94,85 triliun per November 2025.

Ia menjelaskan, pindar menopang perekonomian negara melalui penyaluran konsumtif yang mendorong konsumsi rumah tangga. Adapun konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar PDB Indonesia, yang tercatat stabil di kisaran 52-58% dalam lima tahun terakhir.

Sementara penyaluran untuk sektor produktif, pindar mampu mendorong ekspansi bisnis UMKM. Berdasarkan hasil risetnya, tercatat 16,9% alokasi permodalan bisnis melalui pindar untuk pembelian bahan baku usaha.

"Kami juga melakukan perhitungan dampak multiplier dari pinjaman yang dipinjam oleh para UMKM ini terhadap usaha mereka, yang mana secara langsung itu juga berdampak pada pendapatan mereka. Di sini bisa terlihat, dampak finansial Rp 1 rupiah pinjaman yang dipinjam oleh UMKM tersebut berdampak terhadap omset per bulan," imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah, menjelaskan kehadiran pindar memperkuat inklusi keuangan. Pasalnya, akses pendanaan dapat dilakukan di mana pun selama memiliki koneksi internet.

Menurutnya, industri pindar menjadi katalisator perluasan penyaluran kredit yang sejalan dengan program Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengatakan, pindar sendiri berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 340 triliun atau sekitar Rp 30 triliun per bulan.

"Kalau kita bicara inklusi, salah satu inclusiveness-nya itu adalah, hadir secara geografis," ungkapnya.

Kuseryansyah menambahkan, permintaan kredit melalui pindar tercatat tinggi dengan tingkat credit gap mencapai Rp 2.400 triliun berdasarkan data dari Financial Index World Bank. Menurutnya, hal ini menunjukkan banyaknya permintaan kredit di sektor pindar.

"Demand kita itu, kalau bahasa istilahnya, berapa saja dimasukin, di Indonesia itu diserap karena kebutuhannya tinggi. Credit gap kita berdasarkan dari fintech, dari World Bank, tahun ini itu Rp 2.400 triliun, tahun ini saja," pungkasnya.




(ahi/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork