×
Ad

Kenaikan BI Rate Bisa Bikin Kelas Menengah Tunda Beli Rumah dan Motor

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 09 Jun 2026 17:18 WIB
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan untuk mendorong penguatan rupiah dan menahan kenaikan harga-harga barang. Namun, kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate ini turut mendorong kenaikan besaran bunga pinjaman bagi masyarakat.

"Biasanya kenaikan BI rate lebih cepat direspons oleh kenaikan suku bunga pinjaman untuk kredit konsumsi dan kredit investasi. Beda kalau BI menurunkan suku bunga, perbankan biasanya menurunkan suku bunga lebih lambat. Tapi kalau naik biasanya lebih cepat. Biasanya dalam sebulan akan naik," kata Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, kepada detikcom, Selasa (9/6/2026).

Dalam hal ini, kenaikan suku bunga kredit atau pinjaman perbankan maupun lembaga keuangan lainnya akan memengaruhi mulai dari besaran bunga kredit pemilikan rumah (KPR) hingga bunga pinjaman online (pinjol).

"Termasuk tadi KPR biasanya mengikuti. Termasuk pinjaman online juga bunganya pasti oleh pelaku usaha akan ikut naik. Konsekuensinya seperti itu," tegas Tauhid.

Masalah kenaikan bunga pinjaman ini semakin menekan kelompok masyarakat kelas menengah. Pada akhirnya kondisi ini akan memaksa kelas menengah untuk menghitung ulang pengajuan kredit, termasuk KPR hingga pembelian produk elektronik.

"Bagi kelas menengah mereka akan menghitung ulang apakah membeli barang yang mahal dengan cicilan tenor panjang atau justru lebih pendek. Jadi kalau bunga naik ya biasanya mereka bisa saja memanjangkan (tenor), tapi beban totalnya akan lebih berat," jelasnya.

"Jadi ya mereka akan wait and see untuk konsumsi barang-barang yang katakanlah pinjamannya cukup tinggi termasuk KPR, motor, alat elektronik. Kelas bawah juga tertekan, cuma bawah ini kan ada bantalan subsidi, dan mereka nggak banyak dapat pinjaman karena tidak sebagai kelompok yang eligible," terang Tauhid lagi.

Senada, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal melihat di balik upaya penguatan mata uang Garuda ini, terdapat risiko peningkatan suku bunga pinjaman. Hal itu membuat besaran cicilan kredit masyarakat ikut mengalami kenaikan, termasuk di antaranya kredit pemilikan rumah (KPR).

"Jadi biasanya behavior-nya itu kalau BI rate itu naik, yang naik duluan adalah kenaikan di suku bunga kredit di perbankan. Maksudnya ini respons daripada perbankan komersialnya dengan kenaikan tingkat suku bunga acuan," ucapnya.

"Nah KPR pada dasarnya ya juga in general menurut saya akan mengikuti otomatis. Jadi itu akan naik sebagai respons. Walaupun biasanya juga untuk masing-masing bank mungkin reaksinya berbeda-beda," sambung Faisal.

Tentu risiko kenaikan bunga cicilan KPR ini akan memberatkan isi kantong masyarakat, khususnya dari kelas menengah dan bawah. Sehingga penting bagi perbankan untuk menyesuaikan besaran bunga sesuai dengan kondisi nasabahnya.

"Kalau selaku konsumennya, kalau sasaran konsumennya itu menengah ke bawah, nah itu biasanya memang agak susah untuk bisa menyerap kenaikan suku bunga KPR. Nah, itu juga jadi ada perbedaan antarbank penyedia KPR dalam merespons kenaikan tingkat suku bunga acuan," tuturnya.




(igo/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork