Perbankan dinilai perlu mendorong pembiayaan hijau. Keberhasilan keuangan berkelanjutan tidak hanya diukur dari besarnya dana yang disalurkan, tetapi dampak lingkungan yang dihasilkan.
Industri perbankan mencetak kinerja kredit hijau yang positif. Bank semakin agresif memperluas pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis, tidak hanya memenuhi tuntutan regulasi.
"Semakin besar nilai pembiayaan hijau, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa label 'hijau' benar-benar mencerminkan kualitas yang nyata. Jangan sampai laporan pembiayaan hijau ternodai dugaan greenwashing atau pencitraan ramah lingkungan yang tidak sejalan dengan praktik bisnis sesungguhnya," ujar Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, Lukmanul Khakim dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Lukmanul menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif mengingat pembiayaan hijau mampu mempertemukan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Melalui skema tersebut, sektor usaha memperoleh akses pendanaan seiring berkembangnya proyek-proyek ramah lingkungan.
Selain itu, peningkatan pembiayaan hijau juga dinilai memperkuat daya tarik Indonesia di mata investor global yang kini semakin menjadikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai salah satu pertimbangan utama dalam keputusan investasi. Berdasarkan data Global Sustainable Investment Alliance (GSIA), aset pada reksa dana dan Exchange Traded Fund (ETF) berkelanjutan mencapai sekitar US$ 3,9 triliun hingga akhir 2025, melonjak lebih dari 600% sejak delapan tahun terakhir.
Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), Investment Company Institute (ICI) mencatat aset reksa dana dan ETF berbasis ESG mencapai US$ 674,4 miliar pada Mei 2026 dengan arus dana bersih tumbuh positif. Kendati begitu, Lukmanul mengingatkan industri perbankan perlu mewaspadai praktik greenwashing, yakni pencitraan seolah-olah suatu proyek ramah lingkungan padahal tidak.
"Pembiayaan hijau harus mampu membuktikan manfaat lingkungan secara nyata. Ketika klaim keberlanjutan tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi, kepercayaan investor akan melemah dan efektivitas instrumen keuangan hijau ikut dipertanyakan," ujarnya.
(ahi/ara)