Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 06 Agu 2019 11:16 WIB

Meski Ekonomi Lesu, Sektor Saham Ini Bisa Jadi Pilihan Cuan

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2019 masih memperlihatkan tren pertumbuhan yang melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2019 hanya 5,05%.

Ini adalah pertumbuhan ekonomi terendah sejak 2015, dalam periode yang sama. Bahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II lebih rendah dari pencapaian kuartal I yang mampu tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan.

Salah satu penyebabnya adalah memburuknya kinerja ekspor akibat dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Meskipun konsumsi masyarakat dan investasi masih memperlihatkan geliat pertumbuhan positif.


Meski begitu Bahana Sekuritas menilai sektor konsumer masih tumbuh cukup baik meskipun ada hambatan dari faktor global. Masih kuatnya konsumsi masyarakat dinilai berasal dari pengeluaran negara untuk belanja pemilu serta adanya kenaikan gaji pokok pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Kepolisian sebesar 5% sejak Januari 2019, yang pencairannya sudah dilakukan pada April lalu.

''Namun perlu dicermati, apakah konsumsi masih akan tetap kuat dengan kemungkinan harga komoditas diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada kuartal-kuartal selanjutnya, dengan perang dagang yang masih berlanjut,'' papar Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, dalam keterangan tertulis, Selasa (6/8/2019).

Lucky menambahkan, apalagi belum lama ini terjadi permasalahan pemadaman listrik yang sedang terjadi saat ini di wilayah Jawa. Bila berkepanjangan, dia menilai akan berisiko bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III.

Di sisi lain Bank Indonesia (BI) telah memotong suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dari yang sebelumnya sebesar 6%, pada Juli. Tujuannya untuk mendorong geliat perekonomian di tengah rendahnya perkiraan inflasi hingga akhir tahun ini.

Babak baru kebijakan moneter longgar telah dimulai BI, setelah sejak Mei 2018, bank sentral menempuh kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ke depan, BI memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut. Bila sebelumnya BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di bawah titik tengah kisaran 5-5,4%, dengan masih terbukanya penurunan suku bunga lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan bisa berada di atas 5,2%.


Bahana menilai sektor perbankan khususnya bank yang memiliki current account and saving account (CASA) atau yang lebih dikenal dengan dana murah sedikit akan diuntungkan. Karena beban untuk biaya dana akan turun, juga bank yang memiliki loan to deposit ratio (LDR) tinggi akan mendapat dampak positif karena bunga pinjaman masih relatif tinggi.

Sektor infrastruktur terkait telekomunikasi dan konstruksi juga akan mendapat keuntungan karena sektor-sektor ini memiliki utang yang cukup besar, dengan adanya trend penurunan suku bunga ini, maka beban biaya pinjaman akan turun.

"Sektor properti dan otomotif yang sangat sensitif terhadap suku bunga juga akan diuntungkan karena penurunan bunga kredit akan mendongkrak penjualan properti, mobil dan motor,'' papar Lucky.


Simak Video "Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com