ADVERTISEMENT

Suku Bunga AS Meroket, Investor Harus Gimana?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 20 Jun 2022 07:00 WIB
Suku Bunga The Fed Naik
Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
Jakarta -

Bank sentral sejumlah negara telah menaikkan suku bunga acuan, sebagai upaya menekan inflasi yang melonjak. Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan 75 basis poin atau 0,75%. Sementara, bank sentral Inggris (BoE) juga menaikkan suku bunga acuan untuk kelima kalinya sejak Desember 2021, sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1,25%.

Tren ini diperkirakan masih terus berlanjut, seiring inflasi yang melonjak tajam atas harga komoditas. Harga komoditas seperti pangan dan energi naik, karena pasokannya langka akibat pandemi COVID-19, yang diperparah dengan perang antara Rusia dan Ukraina. Naiknya suku bunga tersebut akan sangat berpengaruh, hingga memperlambat ekonomi global maupun domestik. Ujungnya, ancaman resesi pun tak bisa dihindari.

Harga Bitcoin terus mengalami kejatuhan dan pasar saham juga tengah mengalami fluktuasi akhir-akhir ini. Artinya, situasi sekarang bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Hal tersebut sejatinya telah menakuti beberapa investor. Lalu, investasi seperti apa yang harus dilakukan dalam situasi sekarang ini?

Pengamat Pasar Modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia Reza Priyambada mengungkapkan bahwa kondisi itu, bisa membuat pelaku pasar akan melepas posisi mereka dari yang lebih berisiko. Hal ini dilakukan, untuk mengamankan asetnya.

"Kita melihat situasi dan kondisi seperti apa, dari kondisi tersebut pasti ada pengaruh imbasnya ke market. Kita juga melihat bahwa semenjak perang ini terjadi, maka yang paling terkena langsung kan pasar komoditas. Pasar komoditas ini mengalami fluktuatif, ya di situlah pelaku pasar mengambil kesempatan kan. Bahwa akhirnya apa? Ya yang punya posisi di saham akhirnya lepas posisi, yang punya posisi di Bitcoin lepas posisi, obligasi itu juga lepas posisi, masuk ke pasar komoditas," ujar Angga kepada detikcom, Sabtu (19/6/2022).

Menurutnya, pelaku pasar akan cenderung melihat ke aset-aset safe haven, yang dibilang memiliki risiko minim. Seperti halnya emas, dan USD.

"Terus, kemudian kan mereka pasti melihat ketika terjadi perang, mana nih kira-kira yang punya imbas yang katakanlah risikonya minim. Biasanya kan, ke aset-aset safe haven. Aset safe haven itu kan nggak jauh-jauh dari emas, USD seperti itu. Saya kira mata uang USD, karena dia dollar. Jadi ya itu, aset-aset yang dipilih pelaku pasar untuk saat ini," katanya.

Ia menyebutkan, bisa saja pelaku pasar tidak berpindah posisi. Melainkan, lebih memilih untuk memegang cash atau deposito.

"Bisa jadi orang juga nggak masuk ke mana-mana, tapi lebih pegang cash. Jadi, dia nggak megang USD, dia nggak megang komoditi, tapi dia lebih memilih untuk mengamankan cashnya. Ibaratnya jika ada seorang yang khawatir nempatin aset ke komoditi nanti turun, yaudah jadi mikirnya mendingan saya taruh di tabungan aja deh gitu. Apalagi, kalau dilihat dari fenomena yang ada saat ini, dikala suku bunga akan mengalami kenaikan, orang pasti akan berpikir jangan-jangan suku bunga tabungan akan naik nih, yaudah lah daripada gue berisiko menempatkan uang di mana-mana yaudah mendingan saya taruh di deposito aja," kata Reza.

Reza juga mengatakan kondisi tersebut sifatnya bisa sementara atau berkelanjutan. Hal ini akan tergantung dari beberapa faktor. Misalnya seberapa cepat potensi terkait perang antara Rusia dan Ukraina, ataupun statement dari petinggi negara. Karena semua pasar keuangan itu, akan digerakan oleh sentimen.

"Ini kan sifatnya sementara, jadi pelaku pasar ya pakai momentum ini untuk sementara juga. Nanti, begitu kondisinya sudah membaik, ya pelaku pasar akan lihat lagi sentimen dan instrumen investasi mana aja yang bisa menjadi pilihan. Biasanya kan, ketika kondisi sudah normal maka aset-aset ya katakanlah seperti saham, Bitcoin dan sebagainya itu akan kembali menjadi pilihan. Kalau sekarang ini kan, orang lagi mengamankan posisi semua," sambungnya.

Dirinya juga menegaskan bahwa tidak ada yang namanya investasi aman, semua akan ada risikonya. Kemudian, Ia mengungkapkan terkait investor yang panik dengan situasi ini, ada 2 kemungkinan penyebabnya. Pertama, mereka memang tidak mempersiapkan untuk dana darurat. Kedua, mereka adalah orang memiliki sifat oportunis (mengambil peluang).

"Orang yang oportunis itu, ya mereka akan melihat apa yang lagi ada sekarang. Nah, orang kalau punya sikap opportunities, berarti kan akan cari peluang-peluang yang ada. Nanti, begitu katakanlah ada berita di AS yang membuat nilai USDnya turun, nah dia itu pasti akan keluar, masuk ke yang lain, misalkan masuk ke obligasi corporate, atau saham. Ya seperti itu," terangnya.

Reza menerangkan sejatinya orang oportunis ini akan lebih aktif. Namun, bisa disebut juga sebagai investor yang 'tidak tenang'.

"Take opportunities ini lebih aktif. Tapi bahasa kasarnya ya, ini investor yang nggak tenang. Karena dia kalau lagi ramai ini, masuk ke sini, ramai itu masuk ke situ. Jadi, harus tiap hari mantau sentimen di pasar. Harus bolak balik melakukan pemindahan aset," jelasnya.

Sementara, Financial Educator yang juga Analis Kripto Angga Andinata mengungkapkan memang ada investor yang menjual instrumen investasi yang dianggap berisiko.

"Memang ada pedagang maupun investor institusi, yang menjual investasi yang dianggap berisiko. Tapi dicase kripto, turunnya harga-harga coin utama juga disebabkan karena likuidasi, atas aset yang dijadikan kolateral. Ketika koinnya dilikuidasi, maka akan dijual diharga market oleh sistem. Makanya, menyebabkan ada selling pressure di market," kata Angga.

Menurutnya, justru di saat resesi dan harga aset-aset turun, pelaku pasar bisa membeli aset dengan harga discount. Disaat seperti inilah, kesempatan emas untuk masuk market. Investor jadi kaya di masa krisis, bukan dimasa emas.

"Misal kita beralih ke investasi emas boleh, tapi emas sifat nya very-very long term. Kalau saya pribadi, lebih suka beli aset yang sudah jatuh harganya. Karena market nggak selamanya 'tidak baik', ada masanya market akan kembali ke awal. Kembali menjadi baik, maksudnya. Karena semuanya udah ada siklusnya," terangnya.

Angga mencoba memprediksikan, berapa lama kondisi kritis yang tengah berlangsung ini, hingga akhirnya bisa aman kembali. Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia sejatinya termasuk ada di dalam kondisi yang agak spesial.

"Nggak ada yang tahu pasti berlangsung berapa lama, tergantung eskalasi kondisi perang di Ukraina dan Rusia. Tapi, perkiraan saya antara 12-18 bulan. Dan kita udah pernah mengalami yang lebih buruk, yaitu pandemi. Indonesia mungkin agak spesial, karena UMKM nya kuat. Tahun 98 kita survive, tahun 2021 kita survive. Juga dari sisi pemerintah, saya lihat sudah ada persiapan yang cukup baik. Misalnya adanya Program Pengungkapan Sukarela (PPS) sampai bulan Juni ini. Jadi, semua kalangan masyarakat bisa aktif partisipasi. Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih cukup baik, dibanding indeks lainnya. Masih +6% year to date (ytd) kalau gak salah, dibanding dg SP500 yang udah drop 23% an ytd," ungkap Angga.

Adakah hal paling tepat yang perlu dilakukan investor, sembari menunggu situasinya kembali membaik?

"Nah, kalau ini preferensi masing-masing investor beda. Nggak ada jawaban yang pasti benar. Karena tergantung dari manajemen emosi masing-masing investor. Kebutuhan masing-masing, trust pada suatu aset, dan lain-lain. Bahkan, saya setiap hari juga masih evaluasi strategi saya, dan pivot anytime kalau ada perubahan besar di market," ujar Angga.

Menurutnya, investasi terbaik adalah ada pada diri sendiri. Investasi yang paling aman dan pasti Return on investment (ROI) adalah dengan membangun skil yang ada pada diri kita.

"Tapi, investasi terbaik adalah pada diri sendiri. Sebelum investasi dalam bentuk uang, penting untuk kita mau investasi waktu, energi, tenaga, dan pikiran untuk belajar skill baru. Contoh, Pak Lo Kheng Hong bukan kaya dari investasi. Lo Kheng Hong kaya karena kemampuannya melihat perusahaan bagus, dengan harga bajaj melalui laporan keuangan. Para trader handal, bisa cuan di market apapun karena punya skill membaca market, melalui berbagai analisa,"

"Jadi, kalau ada orang beranggapan kita bisa make money dari investasi itu salah besar. Investasi kita bisa lose money, kalau kita tidak punya skill-nya dan hanya ikuti apa kata orang. Sebaliknya, investasi juga bisa buat kita make big bucks as long as kita punya skillnya. Jadi, investasi yang paling aman dan pasti Return on investment (ROI) adalah dengan membangun skill. Karena tidak bisa dicuri, tidak bisa turun, dan pasti bukan scam," tutup Angga.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT