Banyak Gedung Kosong, Harga Sewa Perkantoran di Jakarta Terjun

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 06 Jan 2021 13:55 WIB
Suasana gedung perkantoran di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (5/4/2019).
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tingkat kekosongan gedung perkantoran di Jakarta semakin meningkat. Hal itu dikarenakan adanya sistem kerja dari rumah (work from home/WFH) selama pandemi, ditambah adanya pasokan gedung baru yang dibangun.

Colliers International Indonesia (CII) mencatat ada sekitar tujuh gedung baru beroperasi selama tahun 2020. Hal itu menambah total pasok kumulatif mencapai 6,87 juta meter persegi (m2) untuk area Central Business District (CBD) dan 3,58 juta m2 untuk luar CBD.

Namun tambahan gedung baru itu tidak diiringi oleh tingkat keterisian ruang perkantoran. Tingkat hunian disebut terus terjadi penurunan sejak kuartal III-2020 dan diprediksi akan terus berlangsung sepanjang 2021.

"Memang 2021 ini kita lihat masih banyak pasok office yang akan masuk, jadi masih tetap challenging sektor ini karena dipicu oleh faktor supply dan memang belum ada keseimbangan yang bisa mendorong tingkat hunian bisa naik di 2021. Jadi memang kita harus mengatakan tahun 2021 tingkat hunian diperkirakan akan terus menurun," kata Senior Associate Director CII, Ferry Salanto dalam briefing media secara virtual, Rabu (6/1/2021).

Hal itu berdampak terhadap harga sewa dan harga jual gedung perkantoran. Ferry mengungkap bahwa rata-rata tarif sewa kantor di CBD Rp 257.532 per m2 atau turun 7% dibanding tahun lalu. Begitu juga di luar CBD, harga sewa turun jadi Rp 190.047 per m2 atau turun 2,5% dibanding tahun lalu.

"Ini harga sewa yang ditawarkan oleh pemilik gedung dan harganya masih bisa sangat negotiable. Apalagi dalam kondisi sekarang itu diskonnya bisa lumayan tinggi tergantung tenant-nya apa, kira-kira brand-nya terkenal nggak, apakah mereka ngambilnya cukup besar, itu diskonnya bisa lebih besar, jadi itu sangat situasional," jelasnya.

Penurunan harga sewa perkantoran tersebut diprediksi terus berlangsung sepanjang 2021 karena pengembang akan mengejar untuk mengisi tingkat kekosongan yang terjadi.

"(Harga) di CBD bisa sama dengan harga yang ada di Simatupang. Sekarang memang banyak pilihan mau penyewa di mana berkantor, banyak gedung yang masih kosong terutama gedung-gedung yang okupansinya lebih rendah itu mereka sangat fleksibel untuk menawarkan harga sewa," tambahnya.

Hal itu membuat pasokan gedung perkantoran baru diprediksi turun drastis selama 2021-2024. Beberapa proyek yang masih dalam perencanaan dinilai tidak akan memulai konstruksi sebelum mendapat komitmen penyewa.

"Sudah ada kewaspadaan bahwa mereka (pengembang) tidak akan jor-joran. Kelihatannya jadwalnya bisa sangat dinamis, situasional melihat kondisi yang ada sekarang. Sebelumnya mereka diproyeksikan masuk 2023-2024, tapi dalam kondisi sekarang akan berpikir melihat situasi. Beberapa proyek akan melihat dulu sentimen pasar seperti apa," tandasnya.

(ara/ara)