Liputan Khusus

Pesanan Sepi, Pembuat Rumah 'Ant Man' Beralih Bikin Sepeda Bambu-Jual Cupang

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 28 Feb 2021 21:44 WIB
Ilustrasi Bisnis Maket
Foto: Ilustrasi Bisnis Maket (Istimewa/Dok. Prabu Pratama)
Jakarta -

Sepinya pesanan maket miniatur dan diorama membuat para perajin atau pembuat rumah 'Ant Man' itu harus putar otak untuk bertahan hidup. Selama hampir 1 tahun pandemi, para pebisnis jasa maket itu hanya menerima pesanan yang jumlahnya bisa dihitung jari.

Menurut pengamat bisnis dan pakar marketing Yuswohady, pebisnis maket adalah usaha yang sangat terkait dengan sektor properti. Sayangnya, sektor tersebut sedang jatuh, dan diramal membutuhkan waktu lama untuk bangkit.

"Ini agak gloomy, karena memang properti itu sektor yang paling cepat kena, dan paling lama balik. Jadi memang meternya begitu. Makanya kalau memang mengandalkan customernya ke properti, ya agak berat. Artinya kan menunggu, wait and see. Karena memang properti ini nggak akan cepat balik," kata dia kepada detikcom, Kamis (25/2/2021).

Untuk itu, ia menyarankan para pebisnis jasa maket melaksanakan 1 dari 3 pilihan untuk bisa bertahan hidup.

"Makanya kalau dari sisi maket ini, tadi 3 opsinya, pertama diversifikasi bisnis atau produk, kompetensinya mungkin sama, bikin rumah, jadi mobil, atau pajangan misalnya. Tapi prinsipnya kira-kira sama, yang ada pasarnya. Kedua adalah diversifikasi market, dari properti ke mana gitu, itu mungkin teman-teman di maket bisa mengendus," papar Yuswohady.

"Atau terakhir, sama sekali pivot, tapi itu mungkin bisnis sementara. Karena bisnisnya mati, terpaksa untuk bisa hidup mesti ada bisnis lain, tetapi setidaknya ada kompetensi yang relevan. Sehingga nggak mulai dari nol," sambung dia.

Pada faktanya, para pebisnis jasa maket memang mencari bisnis lain untuk tetap bisa mencari uang dan menafkahi keluarga.

Misalnya Ronny (39), pemilik usaha maket miniatur Prabu Pratama. Ia kini sedang mencari bisnis lain karena pesanannya sepi. Padahal, dia biasa meraup pendapatan belasan-puluhan juta rupiah per bulan. Bahkan kini ia harus rela menjual mobil pribadinya, dan juga 2 unit sepeda motor sebagai kendaraan operasional.

"Sebenarnya kalau kondisi normal bisnis ini menguntungkan sekali. Sampai saya bisa gonta-ganti beli mobil. Tapi karena pandemi, sekarang sudah terjual, sampai 2 motor buat operasional juga saya jual," kata Ronny ketika ditemui di kediamannya, Jakarta.

Ia juga terpaksa menjual perkakas yang biasa ia gunakan untuk membuat maket. "Seperti alat/ perkakas circular saw, mesin bor, kompresor untuk mengecat, mesin paku tembak, printer LaserJet, PC all in one, dan bahan sisa-sisa pembuatan maket/diorama di jual loakan," ungkap Ronny.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Dari Barang Bekas, Diorama Mobil Remot Kontrol Mirip Aslinya"
[Gambas:Video 20detik]