Bayar Utang, Evergrande Jual Saham Rp 2 T

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 10 Nov 2021 10:44 WIB
Evergrande
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Raksasa real estat China yang saat ini tengah dilanda krisis utang, Evergrande, telah berhasil mengumpulkan dana sekitar US$ 145 juta atau setara dengan Rp 2,06 triliun (kurs Rp 14.200) tepat sebelum batas waktu pembayaran bunga utang mereka.

Melansir BBC, Rabu (10/11/2021), guna mendapatkan dana, perusahaan konglomerat ini telah menjual sekitar 5,7% saham miliknya di perusahaan media HengTen Networks Group.

Evergrande mengumpulkan sejumlah dana ini untuk keperluan pembayaran bunga sebesar US$ 148 juta (sekitar Rp 2,1 triliun) yang akan jatuh tempo pada minggu ini.

HengTen Networks Group sendiri merupakan perusahaan yang memproduksi film dan acara televisi serta mengoperasikan platform streaming.

Sebelumnya Evergrande memiliki saham mayoritas di HengTen pada awal tahun ini. Namun sejak kondisi perusahaan yang memburuk akibat utang, Evergrande telah melakukan sejumlah penjualan saham guna mengumpulkan uang untuk memenuhi komitmen keuangannya.

Pemegang saham perusahaan besar HengTen lainnya adalah raksasa teknologi China Tencent. Sebelumnya Tencent telah membeli 7% saham dari Evergrande dengan harga sekitar US$ 266 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun pada Juli kemarin.

Sekarang ini, dengan adanya penjualan saham HengTen Networks Group oleh Evergrande terbaru ini, sekarang ini Tencent merupakan pemegang saham terbesar perusahaan media tersebut. Dikatakan kalau saat ini Tencent memiliki hampir 24% saham HengTen Networks Group.

Sebagai informasi, sejauh ini Evergrande telah berjuang untuk menjual beberapa aset miliknya yang lain dalam beberapa bulan terakhir karena upaya untuk mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran bunga utang.

Untungnya hal ini telah berhasil membuat Evergrande menghindari gagal bayar atas utangnya dengan melakukan pembayaran lewat jatuh tempo tepat sebelum masa tenggang 30 hari berakhir.

Meski demikian gunung utang Evergrande senilai US$ 300 miliar dan masalah perusahaan dalam melakukan pembayaran utang telah memicu kekhawatiran akan potensi keruntuhannya yang dapat mengirimkan 'gelombang kejutan' pada pasar global.

Tonton juga Video: Ini Loh! Ciri-Ciri Robot Trading Abal-Abal

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)