Rekomendasi Lokasi Investasi Properti hingga 5 Tahun ke Depan

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 20:30 WIB
Real estate or property investment. Home mortgage loan rate. Saving money for retirement concept. Coin stack on international banknotes with house model on table. Business growth background
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Zephyr18
Jakarta -

Tahun 2022 diprediksi akan menjadi titik balik bangkitnya sektor properti di Indonesia. Menurut hasil survei Indonesia Property Survey yang dilangsungkan oleh Knight Frank Indonesia pada April 2022 lalu, ada 90% responden yang menggambarkan optimisme terhadap akan pulihnya sektor properti tahun ini.

Hal itu diikuti dengan 57% responden yang mengindikasikan bahwa, sektor properti akan sepenuhnya bangkit di kuartal keempat tahun ini. Namun, survei juga mencatat beberapa potensi tantangan dan risiko dalam bangkitnya sektor properti.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menyebutkan bahwa sebagian besar responden menilai Pajak Pertambahan Nilai (PPN), inflasi, dan perang antara Rusia-Ukraina telah menjadi faktor utama yang berdampak negatif pada momen pemulihan sektor properti saat ini.

"Sebagian besar responden menilai bahwa kenaikan PPN, tingginya inflasi, dan krisis ekonomi global akan sangat berdampak terhadap perkembangan sektor properti saat ini. Namun optimisme tetap tergambar, apalagi dengan masih adanya insentif PPN DTP yang bisa membantu menggenjot performa subsektor residensial," ungkap Syarifah dalam keteranganya, dikutip detikcom Kamis (26/5/2022).

Sekitar 66% responden mengungkapkan bahwa naiknya gelombang inflasi di ranah global dan nasional akan sangat berdampak pada pemulihan sektor properti. Sementara itu, masing-masing 61% dan 59% responden juga berpendapat bahwa pemberlakuan kenaikan angka PPN serta krisis global akibat perang Ukraina-Rusia juga merupakan dua faktor utama yang berdampak negatif pada pemulihan sektor properti secara umum.

Sementara itu, survei mencatat bahwa subsektor residensial masih mendominasi (60%) sebagai sektor properti yang dinilai mampu memiliki performa positif bahkan di tengah berbagai tantangan di atas.

Indonesia Property Survey juga mencatat bahwa selain wilayah Jabodetabek, beberapa kota wisata diprediksi sebagai lokasi yang potensial untuk investasi properti dalam periode 3-5 tahun ke depan, termasuk Bali (24%), Lombok (11%), dan Labuan Bajo (11%).

Penajam Paser Utara, sebagai calon IKN (Ibu Kota Negara), juga dianggap sebagai kota yang potensial untuk investasi properti oleh 16% responden.

"Rencana pemerintah memindahkan IKN dari Jakarta ke Penajem Paser Utara menjadikan kota tersebut dinilai cukup prospektif untuk investasi properti beberapa tahun ke depan selain Jakarta dan Bodetabek. Perspektif baru juga terbentuk di mana potensi investasi properti melebar dari kawasan bisnis strategis konvensional, namun juga dapat dilakukan pada wilayah dengan pergerakan ekonomi yang berpusat pada pariwisata seperti Bali, Lombok, dan Labuan Bajo." kata Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip.

(eds/eds)