Saatnya Jadi Bos

Icip Budi Daya Lobster Yuk! Modal Rp 1 Juta Bisa Dapat Puluhan Juta

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 15:55 WIB
Lobster jadi salah satu hasil laut andalan di Pulau Simeulue, Aceh. Harga jual yang cukup menggiurkan membuat warga membuka penangkaran untuk berternak lobster.
Foto: Dok. Pribadi
Jakarta -

Gema Paku Bumi sukses menjadi pengusaha budi daya lobster air tawar dengan omzet ratusan juta rupiah. Bahkan bisnisnya itu semakin lebar sayapnya dengan membuka workshop budi daya hingga lobster siap makan.

Kesuksesannya itu bermula dari 2010, saat itu dia masih duduk di bangku kuliah semester 3 di Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat itu dia terpikir untuk mengembangkan riset budi daya yang ranah bisnisnya masih memiliki peluang besar.

"Awalnya di 2010 itu kita sudah mulai budi daya lele, nila, gurame, bahkan ayam unggas. Tapi itu sudah masuk komoditas, jadi ya yang punya modal yang besar yang bisa menguasai. Akhirnya ketemu lobster air tawar dari Australia. Jadi sebenarnya lobster air tawar yang ada di sini ada dari Australia sebenarnya," ucapnya saat dihubungi detikcom, Jumat (19/3/2021).

Kebetulan saat itu juga ada program dari pemerintah khususnya Ditjen Dikti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bernama Program Kreativitas Mahasiswa. Program itu memberikan modal untuk mahasiswa yang ingin mengembangkan penelitian dengan tujuan memberikan manfaat untuk masyarakat luas.

Riset yang diajukan Gema melalui kampusnya itu akhirnya diterima. Kebetulan juga saat itu belum ada riset pengembangan budidaya lobster air tawar di Indonesia.

Gema pun mendapatkan modal yang cukup besar yakni Rp 100 juta. Modal itu dia gunakan untuk riset pengembangan budi daya lobster air tawar dari Australia hingga riset tentang pakannya. Selain itu risetnya tersebut diturunkan kepada adik tingkat kampusnya.

"Waktu itu kan masih kuliah ketika dibiayai dananya jadi ngerjainnya sebagian di lab kampus, sebagian di kos-kosan. Jadi ada ruang kosong kita pakai ember, pakai bak, bahkan pakai lemari baju plastik yang slorokan itu kita jadikan kolam," kenangnya.

Gema mengaku memang sejak awal dia mengembangkan riset itu untuk dijadikan tumpuan hidupnya. Dia memang bercita-cita ingin jadi pengusaha. Orang tuanya yang berjualan di pasar menjadi sosok yang menginspirasinya.

"Orang tua di pasar, ya anaknya tak ingin jadi pedagang tapi pengusaha. Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah kerja biasa," ucapnya.

Di tahun-tahun pertama, hasil budidaya lobsternya dia jual ke toko-toko ikan hias atau hobi. Sebab saat itu masih jarang lobster air tawar di Indonesia, sehingga kebanyakan dijadikan sebagai penghias aquarium.

Seiring berjalannya waktu, budi daya lobster air tawar semakin banyak, akhirnya mulailah lobster air tawar dijadikan konsumsi. Harganya bervariasi mulai dari Rp 140 ribu per kg, Rp 170 ribu per kg, hingga Rp 500 ribu per kg.

"Mitra kita bisa jual di Bali itu tembus Rp 500 ribu per kg. Jadi tergantung yang konsumsi juga, turis asing banyak yang konsumsi. Ini juga bisa jadi substitusi lobster laut yang belum bisa dibudidaya," ucapnya.

Lobster air tawar memiliki karakter yang berbeda dengan lobster laut. Dari segi rasa lobster laut cender gurih dan amis, sedangkan lobster air tawar rasanya cenderung manis. Dari sisi ukuran juga lebih besar lobster laut ketimbang lobster air tawar.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2