Saatnya Jadi Bos

Top! Mantan OB Jadi Bos Ayam Goreng Beromzet Rp 1,2 T

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 25 Mei 2021 16:00 WIB
Top! Mantan OB Jadi Bos Ayam Goreng Beromzet Rp 1,2 T
Foto: Dok. Instagram @nurulatik_rocketchicken
Jakarta -

Kisah sukses dan perjalanan karier Nurul Atik bisa dijadikan pelajaran bagi semua orang. Bermodal hanya ijazah SMA, tidak membuatnya surut dalam menggapai kesuksesan. Dia merintis semua kesuksesannya dari titik bawah.

Nurul Atik saat ini menjadi bos Rocket Chicken, dia bahkan disebut sebagai juragan franchise karena usahanya sudah menyebar ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, Rocket Chicken memiliki 900-an lebih outlet.

"Yang belum ada hanya di Sulawesi dan Papua," kata dia kepada detikcom, Selasa (25/5/2021).

Dia pun tidak menyangka bahwa konsep usahanya ini bakal digemari oleh banyak orang. Pria yang awalnya bekerja sebagai office boy (OB) di restoran siap saji CFC, kini berhasil mengumpulkan omzet Rp 1,2 triliun per tahun alias Rp 100 miliar per bulan dari seluruh outletnya.

Top! Mantan OB Jadi Bos Ayam Goreng Beromzet Rp 1,2 TTop! Mantan OB Jadi Bos Ayam Goreng Beromzet Rp 1,2 T Foto: Dok. Instagram @nurulatik_rocketchicken

Untuk mencapai titik kesuksesannya, Nurul menceritakan butuh perjuangan dan mental yang kuat. Setelah lulus SMA, dirinya membutuhkan waktu dua tahun untuk mendapatkan pekerjaan. Pada usia 23 tahun, dirinya diterima kerja sebagai OB di CFC.

Pada saat itu, banyak kisah yang dijadikan pelajaran olehnya sekalipun itu perlakuan kurang mengenakkan dari orang-orang. Karena kerja kerasnya, dirinya pun diangkat menjadi manajer area di restoran cepat saji.

Meski sudah memiliki jabatan yang bagus, dirinya tidak cepat dan tidak ingin terjebak di zona nyaman. Nurul memutuskan untuk merintis usaha bersama dengan dua orang temannya. Usaha yang dibuka pun masih seputar ayam goreng.

Dengan usaha barunya tersebut, Nurul mengemban dua jabatan sekaligus yaitu menjadi manajer area di CFC dan direktur di bisnis ayam goreng bersama temannya.

"Karena saya masih muda, dan mumpung masih muda saya tidak mau di zona nyaman, lalu di usaha yang barengan itu punya saham 8%, gaji itu sudah lumayan Rp 10 jutaan, dan punya 8% itu 3 bulan saja bisa dapat Rp 400 juta. Tapi saya itu karena orang dari bawah, bisa merasakan susahnya orang bawah, jadi saya punya rasa empati ke temen-temen nggak bisa kaya gini walaupun sedikit punya saham di situ. Karena nggak cocok saya mengundurkan diri," jelasnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Lihat juga Video: Perjuangan Pelaku UMKM Pertahankan Bisnis di Tengah Pandemi

[Gambas:Video 20detik]