ADVERTISEMENT

Jatuh Bangun Bisnis dari Rumah, Ini Cerita Dyah & KaLu

Dea Duta Aulia - detikFinance
Kamis, 28 Jul 2022 11:08 WIB
HM Sampoerna
Foto: HM Sampoerna
Jakarta -

Sebelas tahun lalu, tepatnya tahun 2011, Dyah Yesnita Narendra Dewi, memulai bisnis produk kreasi berbahan tenun lurik khas Yogyakarta. KaLu, singkatan dari "Katun Lurik", dipilih Dyah karena dianggap simple dan mudah diingat. Perjalanan membangun bisnis yang dilalui Dyah tak mudah.

Berawal dari keinginannya untuk memiliki lebih banyak waktu bersama sang anak, Dyah memilih melepaskan statusnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Namun, pilihan untuk lebih banyak berada di rumah dan fokus ke keluarga tak membuatnya berdiam diri. Ia mulai mencoba berbisnis.

"Sebelum KaLu, saya sempat bisnis usaha gerobak kopi. Tapi cuma berjalan tiga bulan, sampai akhirnya yang bertahan KaLu ini," kata Dyah dalam keterangan tertulis, Kamis (28/7/2022).

Inspirasi Lurik

Dyah menceritakan ide menciptakan produk tersebut berawal ketika dirinya melihat keindahan baju berbahan lurik di sebuah majalah. Lalu ia coba membuat kreasi dari kain khas Yogyakarta.

"Ide dari situ. Akhirnya, saya putuskan untuk mencoba mengolah lurik dari Yogyakarta. Pertimbangannya, bahan baku banyak dan tidak terlalu mahal. Saya belajar otodidak, trial, error, tapi enggak patah semangat," ujarnya..

Perjalanan KaLu juga bukan tanpa tantangan. Jatuh bangun sudah ia lalui. Dengan modal terbatas, Dyah tetap optimistis bahwa usaha yang dirintisnya akan membuahkan hasil.

"Saya sampai menggadaikan gelang emas seserahan untuk modal usaha ini, karena tabungan saya habis untuk modal usaha sebelumnya yang akhirnya gagal," kata Dyah.

Dalam hal pemasaran, sebelas tahun lalu, media sosial belum segencar saat ini. Kala itu, Dyah mengatakan masih jarang orang yang berjualan daring. Ia pun mulai memasarkan produknya melalui media sosial Facebook dan BlackBerry Messenger yang tenar saat itu. Tantangan lainnya, tak mudah memperkenalkan keindahan kain lurik.

"Dulu mindset-nya, lurik itu kesannya kain ndeso. Selain itu, panas, tidak nyaman dipakai. Nah, pada 2012, 2013, sudah banyak desainer yang mulai melirik lurik. Sehingga, akhirnya jadi lebih mudah memasarkannya karena produk-produk dari lurik mulai populer," papar Dyah.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>



Simak Video "Berburu Pakain Keren Perpaduan Kain Lurik Khas Kota Gudeg, Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT