×
Ad

Berawal dari Hobi, Usaha Tas Tenun Batik Indari Jadi Langganan Suvenir BUMN

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Sabtu, 30 Mei 2026 21:34 WIB
Pemilik La Suntu Tastio, Indari, mengenalkan tas tenun batik di sebuah pameran (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)
Jakarta -

Mengawali binis berdasarkan hobi jadi salah satu yang didambakan banyak orang. Bayangkan, mengerjakan hal yang digemari sembari mendapatkan pundi-pundi cuan dan diapresiasi dari kesenangan tersebut.

Hal ini dilakoni oleh Indari (53), pemilik usaha tas tenun batik, La Suntu Tastio, yang kini produknya tak hanya melenggang di pasar domestik, tapi juga tengah merambah pasar global bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Seperti apa kisahnya?

Pagi itu, Indari mengikuti sebuah pameran di Jalan M.I Ridwan Rais, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Ia dengan bangga memamerkan beberapa produk andalannya yang kerap jadi langganan suvenir instansi pemerintah.

Di hadapan para calon pembeli, Indari menjelaskan detail pertanyaan terkait barang yang tersusun rapi di rak. Seperti sejumlah tas, goodie bag, hingga, pernak-pernik yang memiliki unsur batik nusantara.

"Usaha saya namanya La Sunto Tastio, artinya tas yang cantik, diambil dari gabungan kata Spanyol. Kita ada berbagai model tas, yang biasa jadi suvenir," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Berawal dari Hobi

Indari mengatakan usahanya ini bermula dari kegemarannya mengoleksi tas di tahun 2010. Saat itu, ia melihat peluang baru jika kain tradisional seperti batik dan tenun diaplikasikan pada sebuah tas.

Karena tidak bisa menjahit, Indari membawa ide desainnya ke penjahit baju biasa. Namun, percobaan pertamanya gagal total. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang penjahit tas di Depok.

"Itu dikenalin sama teman ke si mamang, dia orang sunda. Kata dia, dikombinasikan aja bu, biar bagus, karena kalau cuma satu motif jelek. Yaudah deh coba bikin dua ya kata saya," ceritanya.

"Begitu jadi kok hasilnya bagus ya. Kan ada motif ininya ya, batik sama campuran gitu. Terus dicampur kombinasi kayak barang-barang sintetis gitu," imbuhnya.

Tas batik dan tenun tersebut kemudian ia bawa-bawa ke berbagai acara seperti arisan keluarga. Tak disangka, hal itu menarik perhatian banyak orang yang melihat tasnya.

"Ini bagus lucu gitu kan. Udah deh sini kita beli. Karena waktu itu di tahun 2010 belum ada yang jual model tas begini, jahitannya rapi, kombinasi tenun batik dan kulit sintetis gitu," ungkapnya.

Salah satu tas batik dan tenun La Suntu Tastio (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)

Buka Pre-Order 2010

Dari situ, Indari mulai membuka sistem pre-order bagi orang yang berminat dengan model tasnya. Pesanan pertama datang dari ibu-ibu arisan sebanyak 10 tas.

"Waktu itu masih harga Rp 40.000-Rp 50.000 gitu. Eh lama-lama teman-teman pada mau juga, bikinin dong nanti aku jualin, kalau sekarang reseller gitu," tuturnya.

Pesanan demi pesanan terus mengalir, membuat Indari mantap untuk menyeriusi usaha ini. Ia pun mulai menggaet penjahit tas tersebut dan belajar pembuatan pola dan teknik jahit sendiri.

Indari mengaku penjahit tasnya ini memegang peran krusial dalam perjalanan bisnisnya. Dari perajin itu pula ia bisa membuat tas yang berkualitas.

"Tapi sekarang penjahitnya (si mamang) udah meninggal. Saya utang budi sama dia. Tapi ilmunya masih bermanfaat sampai sekarang," kenangnya.

Indari kemudian mulai kerja sama dengan para perajin lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendapatkan tenun batik yang berkualitas sebagai bahan dasar. Hal itu didapatnya saat mendatangi berbagai pameran.

"Kita kenalan dengan kelompok perajin NTT di pameran, terus tawarin produk juga ya, saling kolaborasi istilahnya. Jadi kita beli bahan-bahannya di sana," tuturnya.

Daftar HAKI, Ikut Rumah BUMN BRI

Seiring berjalannya waktu, usahanya semakin berkembang. Ia mendaftarkan usahanya bernama La Sunto Tastio di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Nama ini diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti tas yang cantik.

Menurut Indari, nama ini membawa filosofi dan harapan agar usahanya selalu membawa kebaikan, keberkahan, dan kecantikan bagi siapapun yang memakainya.

"Jadi pas daftar HAKI itu pokoknya pengen yang enak didenger ya, tapi nyambung gitu filosofinya. Memang usahanya jadi berkat, membawa kebaikan ke semua," jelasnya.

Setelahnya pada 2018, ia mulai gabung bersama Rumah BUMN BRI. Di sana, ia mendapatkan berbagai pelatihan untuk meningkatkan skala usahanya.

"Dari Rumah BUMN itu pelatihannya kan banyak ya ada marketing, manajemen keuangan, kalau sekarang ada AI jadi macam-macam deh," tuturnya.

Tak hanya ilmu pelatihan, Rumah BUMN BRI juga membuka gerbang relasi yang luas baginya. Indari bisa mengikuti berbagai pameran-pameran yang didapat dari jejaringnya.

Aneka suvenir La Suntu Tastio Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Jadi Langganan Suvenir Korporat

Bak gayung bersambut, usaha Indari semakin dikenal luas, khususnya di kalangan instansi pemerintah, usai bergabung menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Sejak saat itu, ia rutin mendapatkan pesanan suvenir tas setiap tahunnya.

"Kebetulan di Rumah BUMN BRI itu kami terima pesanan suvenir untuk perusahaan, kantor, dan lain-lain. Alhamdulillah mereka sering order rutin setiap tahun, jadi banyak banget manfaatnya," ujar Indari.

Langkah besar Indari dimulai saat ia mendapatkan pesanan perdana dari sebuah perusahaan pelat merah. Tidak tanggung-tanggung, orderan pertama yang masuk mencapai 3.500 unit paket suvenir.

Jumlah fantastis ini sempat membuatnya panik lantaran kapasitas penjahitnya masih sangat terbatas. Pintu rezeki itu rupanya terbuka lewat sang keponakan yang bekerja di BUMN tersebut.

"Dia bilang saya bikin suvenir. Kasihlah sampelnya. Setelah itu langsung order banyak. Itu drama juga tuh, kan kita belum pernah ngerjain sebanyak itu," kenangnya.

Kini, produk yang ditawarkan Indari semakin variatif untuk memenuhi berbagai segmen pasar. Harganya dibanderol mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 1 juta untuk paket suvenir yang paling eksklusif.

"Kisaran di kami itu yang paling murah 10 ribu, kayak goodie bag gitu dan sudah termasuk logo. Kalau tas-tas yang sekarang itu macam-macam," jelas Indari.

Untuk paket premium seharga Rp 1 juta, ia menawarkan paket lengkap yang dikemas secara mewah. "Isinya itu tas laptop, tempat kartu, sama dompet. Terus sudah ada kotaknya, jadi lengkap-lengkap dan siap dibagikan," terangnya.

Usaha milik Indari dalam menangani pesanan skala besar pun kian teruji. Pesanan terbesar yang pernah digarapnya bahkan mencapai ribuan unit untuk didistribusikan ke jaringan perbankan di seluruh Indonesia.

"Paling banyak 6.000 pieces untuk bank untuk seluruh Indonesia. Jadi biasanya kalau bank itu, kita kontak kantor pusat, jadi mereka yang bagi. Kalau BRI kemarin itu, malah pesan suvenir yang eksklusif," jelasnya.

Pameran ke Luar Negeri

Saat ini, La Sunto Tastio telah mempekerjakan 10 orang penjahit yang tinggal dan bekerja di workshop-nyadi kawasan Depok. Ia juga dibantu oleh tenaga freelance saat mengikuti sejumlah pameran.

Berkat ketekunannya ini, produk-produk tas tenun batik Indari ini telah melanglang buana ke berbagai negara melalui undangan pameran resmi pemerintah, termasuk dari BRI. Indari bersyukur atas pencapaian ini.

"Alhamdulillah kami sudah jadi binaan pemerintahan juga, customer kami sudah banyak dan kami berkesempatan juga untuk pameran di luar negeri di Korea, di Manila, Singapura, Malaysia, Johor, bawa produk Indonesia, alhamdulillah, ini dari pemerintah dan BRI," jelasnya.

Saat ini, La Sunto Tastio tengah mengikuti program BRIncubator. Program pelatihan, pembinaan, dan akselerasi bisnis dari BRI ini ditujukan khusus untuk pelaku UMKM agar dapat berkembang dan berorientasi ekspor.

"Jadi kita memang disiapkan. Waktu itu daftar, terus kurasi, terpilih BRIncubator. Kemudian sekarang sih lagi proses. Jadi nanti salah satunya ita diajak untuk event pameran internasional. Mungkin ada apa namanya, jembatan untuk ekspor. insya allah," pungkasnya.

La Suntu Tastio binaan Rumah BUMN BRI (Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)

BRI Bantu UMKM Naik Kelas

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas seperti La Sunto Tastio

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan keberhasilan La Suntu Tastio mencerminkan hasil nyata dari pemberdayaan UMKM yang dijalankan BRI secara konsisten dan berdasarkan kebutuhan pelaku usaha.

"La Suntu Tastio adalah contoh konkret bagaimana UMKM mengalami transformasi nyata ketika mendapatkan akses terhadap pemberdayaan yang relevan, termasuk pemanfaatan layanan digital BRI yang mendukung operasional usaha secara efektif," jelasnya.

"Rumah BUMN bukan hanya ruang pelatihan, tetapi menjadi simpul pemberdayaan jangka panjang yang disiapkan untuk mencetak UMKM tangguh dan berdaya saing. BRI akan terus memperkuat infrastruktur pemberdayaan ini agar semakin banyak UMKM di seluruh Indonesia bisa naik kelas secara berkelanjutan," pungkas Akhmad.




(akd/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork