Follow detikFinance
Senin 03 Apr 2017, 07:08 WIB

Wawancara Khusus

Tekad Jonan Garap 'Harta Karun Energi' RI

Wahyu Daniel - detikFinance
Tekad Jonan Garap Harta Karun Energi RI Foto: Dok, PGN.
Jakarta - Potensi energi panas bumi di Indonesia sangat besar. Ada hampir 30.000 megawatt (MW) potensi listrik panas bumi yang dimiliki Indonesia. Namun sekarang baru sekitar 1.600 MW atau sekitar 5% yang digunakan.

Panas bumi adalah 'harta karun energi' besar Indonesia yang belum banyak tergarap. Indonesia masih bergantung pada energi fosil seperti gas dan batu bara untuk bahan bakar pembangkit listrik.

Jumat pekan lalu, Menteri ESDM, Ignasius Jonan, mengunjungi sumur panas bumi terbesar di dunia yang potensinya lebih dari 1.000 MW. Sumur ini berlokasi di Sarulla, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Sumur ini digarap oleh konsorsium PT Medco Power Indonesia, Itochu Corporation (Jepang), Kyushu Electric Power (Jepang), dan Omat International (Amerika Serikat).

Saat ini baru 110 MW listrik yang dihasilkan dari PLTP Sarulla unit I. Jonan meminta listrik panas bumi yang dihasilkan dari sumur ini bisa mencapai1.000 MW, dan menjadi salah satu sumber listrik utama di Sumatera.

Sebelum lebaran tahun depan, Sarulla bakal menghasilkan listrik hingga 330 MW.

Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Menteri ESDM, Ignasius Jonan, saat penerbangan dari Medan ke Jakarta, Sabtu (1/4/2017), terkait pengembangan energi terbarukan khususnya panas bumi di Indonesia:

Bagaimana visi Anda mendorong energi terbarukan, khususnya panas bumi?
Pemerintah punya komitmen di dalam kebijakan energi nasional (KEN) dan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Energi baru terbarukan porsinya dari seluruh penggunaan energi di Indonesia, terutama listrik dan kendaraan bermotor, karena porsi keduanya besar, itu mencapai 23% dari total bauran energi nasional di 2025.

Apakah mudah dicapai? Jawaban saya tidak. Kalau dilihat saat ini, energi terbarukan untuk listrik itu kira-kira masih 8-9%. Kendaraan bermotor minimal sekali. Tapi kalau dijumlah, mungkin sekrang 9-10%. Kita masih punya waktu 8 tahun.

Apakah bisa dicapai target 23% itu?
Kalau diprediksi, itu paling kurang 20%, dan itu juga sudah luar biasa. Itu komitmen pemerintah. Selain itu, pemerintah juga sudah berkomitmen pada COP21 di Paris, Desember 2015 lalu. Pemerintah berkomitmen ikut menjaga pengurangan dampak dari gas rumah kaca. Ini akan kami kurangi sebanyak mungkin. Makanya listrik pakai energi baru terbarukan. Salah satunya yang bisa masif itu dengan geothermal atau panas bumi.

Tekad Jonan Garap 'Harta Karun Energi' RIFoto: Wahyu Daniel


Kenapa panas bumi, kan ada energi terbarukan lain seperti matahari?
Karena penggunaan energi matahari atau surya itu tidak ada yang kapasitas listriknya besar. Kemarin itu PLN tandatangan 45 MW, itu kecil. Prancis juga menawarkan untuk membangun energi matahari di Bali sebesar 100 MW. Saya bilang boleh, cuma ini belum ada dalam perencanaan. Kalau di Papua masih bisa.

Sementara geothermal atau panas bumi itu adalah potensi besar dari alam yang dimiliki Indonesia. Negara kita ini di ring of fire, potensinya besar. Menurut studi itu potensinya 29,5 Gigawatt (GW), sekarang baru digunakan 1.600 MW, atau baru 5-6%. Ini kita dorong, sampai 2025 kurang lebih 10%. Sepanjang tarifnya terjangkau oleh PLN, karena tarif ini akan diterjemahkan dalam daya beli masyarakat juga.

Memang investasi listrik panas bumi besar. Seperti di Sarulla, itu investasinya per 1 MW kira-kira sekitar US$ 5 juta. Kalau PLTU super critical paling banyak US$ 2 juta per MW. Pakai gas paling banyak US$ 1,2 juta per MW. Tapi begini, kalau gas investasinya US$ 1,2 juta per MW, biaya operasinya tinggi karena pakai gas, demikian juga batu bara (PLTU). Sementara panas bumi, investasinya besar tapi energi primernya ini nyaris gratis. Jadi saya minta untuk Sarulla terus dikembangkan karena potensi panas buminya besar salah satu yang terbesar di dunia dalam satu wilayah kerja.

Sekarang ini ada sepuluh besar operasi panas bumi untuk listrik di dunia. Sarulla itu kalau 110 MW sudah jalan belum masuk (sepuluh besar), tapi kalau 330 MW bisa masuk sepuluh besar dunia. Kalau bisa 1.000 MW, itu terbesar di dunia.

Tekad Jonan Garap 'Harta Karun Energi' RIFoto: Wahyu Daniel


Berapa harga listrik di Sarulla?
Rata-rata dalam 30 tahun ini US$ 6,7 sen per kWh. Jadi dalam 10 tahun pertama sekitar US$ 7,9 sen per kWh, tapi nanti turun lagi tiap 10 tahun hingga rata-ratanya US$ 6,7 sen per kWh. Harapan saya ke depan bisa makin turun tarifnya.

Jadi ke depan, energi panas bumi bisa menjadi andalan pembangkitan listrik di Sumatera Utara?
Begini, Sumatera dalam 2 tahun ke depan tidak ada lagi istilah (sistem kelistrikan) Sumatera Utara, jadi satu (sistem) semua. Seperti Jawa-Bali yang menjadi satu kesatuan transmisi listriknya. Sumatera sekarang sedang bangun transmisi. Sarulla bisa menjadi sumber listrik yang besar bila terpasang 1.000 MW. Dalam 3 tahun listrik di Sumatera bakal bertambah 700 MW sampai 2019. Sumatera pertambahan (konsumsi) listriknya 8-9% per tahun. Defisit listrik bisa teratasi.

Sampai 2019 pemerintah bakal mati-matian mengaliri listrik di banyak tempat, bagaimana caranya?
Ada 2.500 desa tanpa listrik sekarang. Kita sedang menunggu Peraturan Presiden (Perpres) yang sebentar lagi jadi, kita approach, pertama desa yang belum dapat listrik dipasang home solar system. Jadi untuk lampu dulu. Asal satu rumah bisa menyalakan lampu pakai solar cell terlebih dahulu. Sambil PLN bangun jaringan listrik ke desa-desa tersebut, atau off grid pakai PLTMH atau tenaga surya. Dan ada 10.000 desa yang kelistrikannya tidak lengkap, ini yang harus kita kejar. Mudah-mudahan bisa 2019, minimal ada lampunya. Jadi PLN dan swasta kami ajak. (wdl/mca)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed