Wawancara Khusus

Bos BPJT Buka-bukaan soal Kenaikan Tarif hingga Sepeda Masuk Tol

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 07:10 WIB
Pakar Transportasi Universitas Gajah Mada (UGM) , Danang Parikesit
Foto: Kepala BPJT Danang Parikesit (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Tapi selama pengerjaan konstruksi jalan tol tetap berlangsung di tengah pandemi, ada pekerja yang terpapar?
Ya di beberapa tempat yang terakhir saya terima cukup banyak ya. Awal-awal dulu itu (tol) Serang-Panimbang yang dikerjakan oleh konsorsium Wika dan PP itu sempat mengalami penghentian karena ada yang positif COVID. Sekarang ini juga untuk tol di Aceh itu mengajukan permohonan untuk penghentian konstruksi karena beberapa pekerja konstruksinya terkena COVID. Sebelumnya juga di (tol) Manado-Bitung juga ada laporan mengenai permohonan penghentian selama dua minggu karena adanya COVID di pekerjanya. Jadi kita sudah memiliki protokol yang diterbitkan Pak Menteri itu mengatur mengenai penghentian konstruksi bagi jalan-jalan tol yang sedang dibangun berkaitan dengan COVID. Kemudian yang tol-tol operasi kan kita tetap mengimplementasikan protokol COVID terutama di rest area.

Total pekerja konstruksi yang terkena COVID berapa?
Kita masih mendata terus untuk jumlah pekerja yang kena. Contoh di Aceh-Sigli dari total jumlah karyawan di kontraktornya yang di-swab sebanyak 556 orang, yang sudah keluar hasilnya 546 dan ada 78 yang terdeteksi positif COVID di awal. Tapi setelah itu ada pengurangan sehingga dari kontraktornya yang masih terdeteksi 41 orang. Jadi memang ini sangat dinamis dan kita melakukan penanganan COVID di proyek-proyek konstruksi ini secara serius untuk bisa mengurangi ini. Badan usaha jalan tolnya yang di Aceh ada 40 karyawan, 5 orang terindikasi COVID. Jadi memang khusus untuk Aceh, Hutama Karya sudah mengajukan surat kepada Pak Menteri untuk penghentian sementara konstruksi dan ini sedang diproses untuk penghentiannya, sehingga mereka bisa melakukan pengelolaan mengenai COVID ini dengan lebih baik.

Jadi begitu ada pekerja yang terdeteksi COVID langsung diberhentikan pengerjaannya?
Iya permintaannya dari badan usaha jalan tol, nanti kita akan proses penghentian sementara dan dievaluasi selama dua minggu. Kalau karyawan-karyawan lainnya tidak terdeteksi COVID, maka konstruksi biasanya dilanjutkan dan pekerja yang terkena COVID ditangani.

Presiden Jokowi melalui Kementerian PUPR gencar banget bangun jalan tol, berapa kilometer lagi jalan tol yang bakal dibangun?
Sekarang ini kan sudah lebih kurang 2.800 jalan tol operasi, itu termasuk nanti yang akan dioperasikan dalam waktu dekat Pekanbaru-Dumai 131,5 km. Ada juga Manado-Bitung seksi 1 dan seksi 2, tol (Bogor) Ring Road sampai ke Simpang Kayu Manis, Balikpapan-Samarinda ada seksi 1 dan 5 itu 33 km, ada Cimanggis-Cibitung seksi 1A. Ini yang dalam waktu dekat dalam sebulan, dua bulan ini lah akan dioperasikan. Beberapa di antaranya kita menunggu jadwal peresmian dari Bapak Presiden seperti Pekanbaru-Dumai dan Manado-Bitung.

Itu kan yang tinggal menunggu dioperasikan, kalau yang baru mau dibangun?
Kalau yang sudah kami tandatangani PPJT-nya (Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol) baru saja kan Jogja-Solo itu lebih kurang 96 km. Kemudian yang sedang berprogres itu adalah Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) 60 km. Kemudian akses Kertajati yang baru saja Bapak Menteri menghadiri untuk ground breaking-nya itu 3,6 km.

Kemudian yang menjadi perubahan lingkup investasi baru ada dari Soreang-Pasir Koja, terus ke utara hingga ke sisi utara timur Bandung itu 14 km. Kemudian yang cukup panjang itu adalah jalan tol HBR (Harbour Road) II dari Tanjung Priok ke Pluit ada tambahan lajur baru. Kemudian Jogja-Bawen itu 76 km itu posisi sekarang adalah sedang dalam proses evaluasi dokumen tendernya, proses sudah berjalan ya ada dua peserta tender dan ini sedang kita evaluasi dokumen tendernya supaya kita bisa berikan tandatangan pengusahaan itu diakhir tahun.

Kemudian Gilimanuk-Mengwi di Bali itu juga Pak Menteri menyampaikan prioritas akan dibangun mulai tahun ini. Kemudian Kediri-Kertosono yang menghubungkan antara Solo-Ngawi-Kertosono dengan Kediri-Kertosono yaitu menuju ke akses bandara Kediri yang baru dan ini rencananya 20,3 km. Juga tidak kalah penting adalah akses pelabuhan Patimban, jadi dari Cipali nanti akan ada jalan langsung ke Patimban.

Saya kira itu sih ada sembilan ruas baru yang pada saat beberapa hari yang lalu presiden mengumumkan dengan anggarannya lebih kurang Rp 100 triliun, ini kan ada yang sudah tender selesai berarti kita tahu estimate biaya investasinya. Tapi ruas tol lain yang masih belum optimal itu sifatnya masih estimate, tapi total estimate kira-kira Rp 100 triliun yang disampaikan Pak Menteri pada saat sambutan di penandatanganan konsesi Solo-Jogja.

Dananya dari mana saja?
Ada dari swasta biasanya mereka konsorsium swasta sama BUMN, atau swasta sendiri, atau BUMN sendiri. Yang konsorsiumnya dipimpin swasta itu Solo-Jogja, kemudian Cisumdawu itu lead-nya oleh swasta juga, Kertajati-Cipali itu oleh swasta Astra, kemudian North-South (NS) Link Bandung oleh swasta juga, HBR II oleh swasta, kemudian Jogja-Bawen ini dalam proses tender kita nunggu pemenangnya, kemudian Gilimanuk-Mengwi itu pemrakarsanya juga swasta, Kediri-Kertosono pemrakarsanya ada investornya antara Jasa Marga dengan investor Hong Kong dan akses pelabuhan Patimban itu adalah Jasa Marga.

Jadi kalau kita lihat dari sembilan ini yang lead konsorsiumnya BUMN hanya dua, Kediri-Kertosono dan akses pelabuhan Patimban. Saya kira ini sangat sejalan dengan semangat Pak Presiden untuk mendorong investasi, tidak hanya di BUMN tapi juga oleh swasta dan mereka di dalam menggerakkan bisnisnya tidak hanya menggerakan modal dalam negeri tetapi juga investasi luar negeri, foreign investment itu juga masuk dalam proyek-proyek tol. Seperti Kertajati-Cipali itu sebagian pemegang sahamnya adalah Kanada, kemudian Kediri-Kertosono itu pemegang sahamnya 40% dari investor lembaga pembiayaan Hong Kong.

Bagaimana perbandingan jalan tol di Indonesia dengan di luar negeri seperti China? Katanya Indonesia masih kalah jauh?
Ya secara panjang kita dibandingkan China itu masih cukup jauh. Kalau kita kan 2.200 km yang sudah beroperasi, mereka sudah 50x lebih terutama di China untuk jalan tol.

Kita sendiri secara agregat total kan dalam jangka panjang merencanakan hampir 19.000 km jaringan jalan tol. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan China itu sangat berbeda karena mereka rata-rata semua daratan, sedangkan kita itu pulau-pulau sehingga komparasi dengan China maupun Malaysia kurang cocok menurut saya. Tapi yang jelas kita akan menargetkan untuk memenuhi kewajiban kita di 2024 dengan 2.500 km jalan tol baru, jadi perkiraan kita 4.700 km di akhir 2024.

Memang ini karena ada beberapa ruas baru tambahan yang sifatnya prakarsa, kalau Bina Marga memperkirakan pada akhir 2024 itu jumlah panjangnya 4.800 km sedangkan estimasi kita 4.700 km. Jadi sebenarnya mirip dan itu mengakomodasi dinamika kalau ada perubahan-perubahan jumlah dan panjang investasi yang akan dilakukan.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4