Wawancara Khusus

Menristek Buka-bukaan soal Startup hingga Deteksi COVID-19 dari Napas

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 08:15 WIB
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (10/5/2019). Agung Pambudhy/Detikcom.
Menristek Bambang Brodjonegoro/Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Apakah Indonesia punya insentif untuk pelaku usaha yang gencar melakukan R&D di Indonesia? Jika iya apa saja insentifnya?
Memang ada satu yang belum kita punya, yaitu tax insentif yang signifikan bagi swasta agar mau invest di R&D. Tapi sekarang kita sedang selesaikan Peraturan Menteri Keuangan soal super tax deduction mudah mudahan itu bisa dorong. Kenapa perlu insentif? Karena swasta itu melihat R&D sebagai hal yang berisiko karena bukan berarti kalau punya R&D bisa langsung ada product development yang membuat produk bersaing bisa gagal juga, atau produknya mengecewakan. Nah risiko itu harus dikompensasi dengan insentif.

Rancangan PMK yang digodok adalah berikan tax deduction sampai 300%. Misal perusahaan kamu 1 juta dolar untuk R&D maka nanti pajak badannya bisa dikurangi 3 juta dolar ini diharapkan menarik. Negara lain di ASEAN berikan itu 200-400%. Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Jadi kalau kita tidak berikan, kegiatan riset dari swasta industri itu dilakukan di negara itu, karena dapat fasilitas di situ. Upaya kami menarik sebanyak mungkin tarik swasta jadikan R&D sebagai daya tarik negara kita. Selain bisnis utama mereka.

Lalu negara mana saja yang sudah sukses menerapkan ekonomi berbasis Inovasi?
Sebenarnya begini kalau saya tarik dari sejarahnya. Inovasi sejalan dengan revolusi industri akan lahirkan inovasi. Inovasi pertama mesin uap yang ditemukan oleh James Watt. Saat itu mesin uap adalah inovasi yang luar biasa karena ciptakan kebaruan yang luar biasa sekali karena sebelumnya dilakukan secara manual.

Kemudian berubah jadi mesin uap, artinya tenaga yang dihasilkan uap. Artinya ada inovasi yang membuat kenapa Inggris sempat jadi superpower dunia saat itu sebelumnya superpower karena kekuatan AL-nya. Ketika James Watt temukan mesin uap dia jadi superpower ekonomi.

Revolusi industri kedua oleh Thomas A Edison dia orang AS. Listrik hasil inovasi itu membuat AS jadi negara terkemuka di dunia. Jadi terdepan dan hebatnya AS dia tetap jaga kekuatan R&D nya sampai revolusi ketiga komputer di seluruh dunia.

Ketiga ada Microsoft dan Apple ini muncul dari AS. Revolusi industri keempat melahirkan banyak inovator baru di bidang kreatif dan digital. Seperti Amazon, Google, Facebook dan perusahaan yang lebih kreatif atau IKEA dari Swedia.

Itu yang lakukan inovasi sesuai zamannya itu revolusi industri keempat. Negara mana yang melakukan? Negara yang maju dan negara yang mau maju contoh Korea tadi. Korea itu lakukan terobosan inovasi di akhir revolusi industri kedua dan awal revolusi industri ketiga.

Jepang bisa berubah jadi ekonomi kedua terbesar karena dia jalankan ekonomi berbasis inovasi khususnya di otomotif dan elektronik. Dia ciptakan inovasi untuk bersaing dengan AS. Kita banyak belajar dari Jepang dan Korea. Jepang belajar bikin mobil dari AS tapi dia nggak cukup hanya dari Ford, Chrysler, dan General Motors. Di situ dia kembangkan inovasinya. Mobil Jepang ada ciri yang berbeda, mobil Jepang jadi market leader bukan lagi AS.

Inovasi itu muncul karena kemampuan industri baca kebutuhan market. Ini saya ambil contoh mobil Jepang. Kenapa dia bisa kuasai pasar dan geser AS. Ya kalau di tahun 50an itu mobil besar ya bahan bakarnya pasti boros dan membutuhkan space jalanan yang juga relatif lebar.

AS penghasil minyak, jual minyak nggak ada masalah. Daya beli AS bagus, kalau naik nggak masalah. Orang AS besar-besar dan utamakan kenyamanan dia ingin mobilnya besar. Setelah tahu dia mikir yang butuh mobil bukan hanya AS makanya Jepang sasar Asia.

Orang di Jepang waktu itu tidak sebesar di AS. Jepang tidak punya BBM tidak hasilkan minyak. Kalau mobilnya boros dia tidak feasible. Maka lahirlah mobil Jepang kecil, hemat bensin dan cocok untuk keperluan orang Asia terutama. Muncul trademark mobil Jepang hasil inovasi, akhirnya mengalahkan mobil AS sendiri.

Saya sampaikan inovasi itu bukan hal baru, inovasi sudah ada revolusi industri pertama. Dinamis dan berkesinambungan. Karena kalau inovasi berhenti anda pasti tersusul.

Waktu HP pertama kali populer akhir 90an tahun 2000an. Orang semua bilang Nokia, saat itu populer dan inovatif untuk zamannya. Tapi dia tidak inovasi tahapan berikutnya. Dia bukan yang pertama ciptakan smartphone, hal hal kecil ini akhirnya menggerogoti market share Nokia, smartphone makin banyak kamera makin canggih, aplikasi banyak. Akhirnya Nokia yang terlambat akhirnya dia out dari smartphone dan itu kalah dari Apple dan Samsung. Inovasi tidak boleh berhenti terlalu lama, harus jalan terus, bukan berarti untuk selamanya.

Semakin modern semakin pendek umur teknologi, Kecuali yang revolusioner. Jadi intinya negara-negara yang disebut negara maju ini, memang yang sangat maju dengan inovasinya. Swedia itu negara 10 juta orang tapi dia sangat maju dalam inovasinya dan dianggap paling inovatif. Dia produknya ikuti revolusi industri kedua, dengan produk Volvo dan Ericsson selalu ikuti perkembangan zaman. Dia temukan Skype kemudian bluetooth kemudian juga yang kedua Spotify. Kelihatannya sepele tapi itu inovatif, karena itu Swedia terdepan untuk inovasi, dia juga kembangkan ke ekonomi kreatif.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3