Wawancara Khusus

Menristek Buka-bukaan soal Startup hingga Deteksi COVID-19 dari Napas

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 08:15 WIB
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (10/5/2019). Agung Pambudhy/Detikcom.
Menristek Bambang Brodjonegoro/Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta -

Pengembangan ekonomi berbasis inovasi saat ini dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi yang efisien. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menceritakan inovasi bisa menjadi salah satu cara untuk tetap bertahan dalam dunia usaha.

Bambang juga mengungkapkan jika Indonesia saat ini memiliki visi 2045 untuk keluar dari daftar negara berpendapatan menengah dan menjadi negara yang berpendapatan tinggi. Kira-kira apa saja inovasi yang dibutuhkan dan sudah dilakukan oleh Indonesia untuk mewujudkan visi 2045?

Berikut kutipan wawancara detikcom dengan Menristek:

Bisa dijelaskan konsep innovation driven economy yang sedang didorong oleh pemerintah saat ini?
Pertama kita punya visi 2045 sebagai bangsa dan negara kita harus punya tujuan yang akhirnya bisa perbaiki kehidupan masyarakat. Visi 2045 itu salah satu ambisi kita sebagai negara ketika merayakan 100 tahun kemerdekaan adalah Indonesia menjadi negara maju atau high income country. Nah saat ini Indonesia sedang berada di posisi upper middle income ya berpendapatan menengah atas tapi masih di awal sekali di tahun 2020 ini. Tapi tinggal 25 tahun kita bisa naik kelas dan keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah.

Masalahnya ternyata di dunia yang bisa lolos dari jebakan kelas menengah itu sangat sedikit. Kebanyakan akhirnya stuck artinya benar-benar terjebak dan tidak pernah keluar dan tidak berhasil naik. Kita ingin jadi negara yang sedikit tadi yang bisa lolos.

Nah kebetulan yang saya pelajari negara-negara yang tadi berhasil lolos dari jebakan pendapatan kelas menengah terutama di Eropa Barat dan Asia Timur jauh dan Amerika Utara kuncinya mereka bisa lakukan loncatan dan loncatan itu basisnya inovasi. Negara itu akhirnya berhasil masuk di negara berpendapatan tinggi atau maju karena konsisten melakukan ekonomi yang berbasis inovasi.

Contohnya?
Contoh nyata di Korea Selatan, menariknya Korsel itu tahun 1950an-1960an Korsel itu tahun 50an masuk negara miskin di Asia barengan dengan Indonesia. Mereka selesai perang Korea, Indonesia baru selesai pengalihan kedaulatan dari Belanda.

Nah tetapi tahun 70an Korsel berhasil loncat jadi negara kelas menengah. Indonesia sayangnya akhir 80an itu baru jadi lower middle income nah Korea Selatan di tahun 90an itu mereka naik lagi dari menengah ke negara pendapatan tinggi. Korea itu jadi salah satu negara yang bisa naik kelas dalam waktu cepat.

Korea Selatan bisa kenapa Indonesia tidak? Padahal start-nya sama? Sama-sama negara miskin, Indonesia kaya sumber daya alam kaya biodiversity Korsel nggak punya apa-apa?
Korea memang dari awal sadar dengan kekurangannya itu, karena itu dia fokus pada sumber daya manusia (SDM) penguatan SDM itu ada tujuannya. Disiapkan agar mereka bisa jalankan ekonomi berbasis inovasi, jadi syarat pertama untuk punya ekonomi berbasis inovasi adalah adanya manusia yang jadi talent yang benar benar siap untuk lakukan inovasi. Jangan lupa untuk sampai ke inovasi diperlukan research and development (R&D) yang juga kuat.

Jadi SDM Korsel itu diarahkan untuk R&D menjurus ke inovasi akhirnya Korsel menentukan model pembangunannya dengan ekonomi berbasis inovasi. Sektor andalannya adalah manufaktur. Tapi walaupun hanya manufaktur mereka tak hanya jadi assembly. Tapi dia lebih jauh lagi ingin jadi produsen dari produk manufaktur tersebut. Dia kembangkan merek dan produk development dia lakukan dengan mengedepankan inovasi berbasis R&D.

Dari SDM nya R&D nya sampai inovasi yang berujung product development akhirnya Korea Selatan terkenal sebagai produsen HP terkemuka di dunia. HP Korea itu terkenal di dunia bukan karena harganya murah bukan karena diskon atau macam-macam subsidi. Dia memang karena teknologi baru berkembang terus, fitur baru diperkenalkan. Itu muncul karena lakukan R&D sendiri dia tidak sekadar beli lisensi dari orang lain dia lakukan sendiri itu yang kemudian menjadi ciri khas dia seperti Ericsson di Swedia dan Nokia di Finlandia dan kita lihat hari ini Samsung jadi yang terdepan, karena itu di Indonesia kita harus punya pemikiran seperti itu.

Masalahnya di Indonesia kita ini kaya SDA biodiversity dan sering tergoda fokus di ekstraksi SDA sendiri. Menggali tambang, menanam, dan cepat menjual hasil kebunnya. Justru dari hasil pertanian pertambangan itu di situlah inovasi berperan. Seharusnya dengan pendekatan R&D teknologi apapun hasilnya di SDA kita di pertanian maupun pertambangan di situlah inovasi harusnya berperan sehingga nantinya Indonesia bisa tetapkan ekonomi berbasis inovasi dan mengedepankan SDA.

Kalau Korea bisa lakukan tanpa SDA harusnya kita punya kemampuan itu. Sekarang kita revolusi industri ke-4 harus sejalan dengan revolusi industrinya sendiri. Misalnya ekonomi kreatif digital. Kita tampaknya akan menjadi ciri ekonomi Indonesia berbasis inovasi ke depan dan bawa Indonesia keluar dari middle income trap di 2045.

Berapa besar anggaran untuk riset dan development yang ada di Indonesia? Apakah sudah memadai?
Mungkin saya gunakan tidak anggaran ya karena seolah ini urusan pemerintah. Saya gunakan investasi dan pengeluaran untuk R&D. Di Indonesia realisasi hanya 0,25%, Korea Selatan tadi yang terdepan di dunia 4,3%. Jadi Korea untuk investasi R&D total 4,3% dari GDP dan jangan lupa GDP Korea masih lebih besar. Perbedaan secara absolut. Bukan itu yang terpenting, harus dibedah lagi.

Di Indonesia yang 0,25%, itu 80% dari pemerintah 20% dari luar pemerintah termasuk swasta dan industri. Korea 4,3% itu 70% dari swasta, pemerintah hanya 30%.

Jadi keberhasilan inovasi kalau dilihat dari pembiayaan itu tidak berarti bahwa semakin besar anggaran pemerintah inovasi kita berkembang cepat justru yang penting adalah sektor swasta mau besar di R&D inovasi di Indonesia akan berkembang cepat. Ikuti pola Korea tadi, siapa yang butuh inovasi? Pemerintah itu posisinya fasilitasi dorong inovasi ekosistem inovasi itu sendiri. Yang butuh inovasi yang punya motif dorong inovasi adalah swasta. Kan mereka ingin eksis di market ya butuh kompetitif, dia harus punya produk untuk lakukan pembaruan, produk ga itu itu aja dan terus berkembang.

Contohnya HP itu cepat sekali berubahnya, kalau satu merek bisa satu tahun sekali. Tapi kalau berbagai merek ini bisa sebulan sekali. Nah kebaruan inilah dari kebutuhan inovasi bagi perusahaan swasta dan industri yang paling butuh. Industri mau invest lebih banyak untuk R&D agar lahirkan inovasi bagi mereka.

Dalam lakukan R&D mereka bisa bikin unit sendiri seperti perusahaan besar di dunia dan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Kita nggak bicara dari anggaran pemerintah dan APBN tapi seberapa jauh swasta masuk ke R&D.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3