Blak-blakan MES soal Jusuf Hamka Merasa Diperas Bank-Prospek Ekonomi Syariah

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 15:46 WIB

Apakah tren bisnis syariah itu khas Indonesia atau memang sudah memang global, kita di awal-awal reformasi banyak bermunculan aturan-aturan di daerah daerah pengin berdasarkan syariah, semangatnya sama dengan di politik aturannya dan di bisnis pun mengikuti. Benar nggak ada kaitannya ke arah sana?

Jadi fenomena atau tren itu sesungguhnya nggak cuma di Indonesia, tetapi terjadi juga secara global. Muncul ada beberapa tren kenapa bisnis syariah ekonomi dan keuangan syariah itu meningkat? Nomor satu ada peningkatan jumlah kelas menengah muslim seluruh dunia diiringi dengan demand yang sangat besar. kedua, adanya kesadaran bahwa value syariah itu diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari termasuk konsumsi maupun investasi.

Ketiga faktor tak terhindarkan konektivitas karena digitalisasi ini dan angka-angkanya menunjukkan tren-tren tersebut jadi peningkatannya luar biasa, CAGR bisnis di seluruh dunia itu luas biasa. Apakah kaitannya dengan Indonesia? Apakah kita dengan penduduk Indonesia dengan pendudukan terbesar di kolong langit ini, pusat islam itu di Indonesia bukan Arab Saudi. Kalau lihatnya jumah penduduk pusat islam itu di RI, maka potensi sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah itu sangat besar. Lalu pilihannya, apakah kita sekedar mau menjadi sekedar pasar atau menjadi produsen?

Mungkin kalau mengingat, contoh sederhana Wapres pernah nulis arah baru ekonomi syariah dan salah satu ilustrasi yang ditulis di situ adalah betapa mengejutkan ketika produsen untuk makanan halal untuk daging terutama daging dan ayam unggas terbesar itu justru dari Brasil. Kenapa terus kemudian nggak Indonesia? Jadi kalau yang pernah ke haji umrah pernah biasanya orang Indonesia pernah memakan Al Baik itu KFC-nya Arab yang memang berbeda. Pangsa dan harganya juga lebih murah dari KFC. Ternyata impor ayam dari Brasil dan itu menjadikan Brasil produsen atau eksportir makan-makanan halal untuk unggas terbesar di dunia. Untuk daging sapi itu ke New Zealand dan Australia.

Indonesia karena penduduk besar tadi kan juga bisa jadi tadi pangsa pasar tersendiri tapi juga seharusnya bisa meningkatkan nggak hanya target pasar tapi juga sebagai produsen yang bisa memproduksi ekspor dan lain-lain. Termasuk keuangan syariahnya yang punya peran untuk menunjang ekosistem syariah di Indonesia. Jadi ini keniscayaan sesuatu yang seharusnya mengarah ke sana. Saya nggak melihat sisi politisnya bahwa kemudian ada yang melihat peluang ketika misal sertifikasi halal dan lain-lain ini.

Ini yang coba dilakukan MES contoh aja nih, misal ketika ada sertifikasi itu menambah biaya dengan UMKM. Belum lama ini MES bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM untuk melakukan pelatihan dan sertifikasi UMKM secara gratis kepada para pelaku dari tadi kita juga untuk menghilangkan stigma bikin lebih mahal dikit beban di uang UMKM-nya.

Sebenarnya image yang ada bertahun-tahun berjalan begitu ya bahwa untuk mendapatkan sertifikasi hal yang memberatkan padahal semuanya mayoritas muslim, kenapa ada biaya tambahan ya.

Betul setuju. Nah itu juga bagian yang kemudian edukasi lalu manfaat yang harus kemudian kita rasakan dan sebetulnya saya yang tadi kan bisa dibuat pola kemitraan tertentu sehingga UMKM nggak harus jadi berat dan kalaupun katakan di pastro itu jadi kemudian ke konsumen secara umum ketika konsumen juga menikmati itu jadi nggak masalah.

Saya jadi inget ya kebetulan saya pernah jalan-jalan ke Jepang. Kemudian sama nih karena kesadaran kita kan kita nyarinya yang halal itu mencari Wagyu yang halal itu tapi jauh lebih mahal ketimbang yang nggak pakai sertifikasi halal. Kita sampai ditunjukkan 'Ini Pak dagingnya itu sertifikatnya nomor sekian nomor sekian,' Sampai dikasih tahu karena prosesnya dan itu ketika di-packing dengan satu cara tertentu malah bikin wisatawan-wisatawan itu nyarinya itu, nggak peduli itu lebih mahal. Memang mungkin di masyarakat kita karena masih baru tumbuh nih kelas menengah yang masih di konsen. Tetapi nanti itu kan udah nggak dipikirin lagi karena itu sesuatu yang harus melekat di kita.

Nih kalau kita ada kulkas di label halal dan kita juga nggak habis pikir awal-awal, mohon maaf nih. Saya memposisikan sebagai orang awam apa dan saya protes ke kawan-kawan saya di MUI yang melakukan sertifikasi apa perlunya kulkas itu dikasih label halal jangan berlebihan kemudian dilabeli. Tapi luar biasanya dan membuka mata saya ketika diterangkan produsen kulkas itu menjelaskan 'Pak bahwa untuk bikin komponen di dalam itu sebagian besar menggunakan komponen dari babi.' Di situ nanti dianggap kalau terus di laci-lacinya memakai komponen yang terkait sama babi dikhawatirkan bisa kemudian terkontaminasi karena kan poinnya,

Kalau terkontaminasi kan prinsip di makanan, sekecil apapun komponen haram itu ada akan menjadi haram. Misal bikin ikan satu ember gede tapi ditetesin minyak babi jadi haram.

Ketika saya dapat penjelasan itu 'Oh iya juga ya'. Lipstik juga nggak dimakan itu tapi terus kemudian jadi haram. Sempat diledekin juga di kalangan kita gitu ya bahwa. Ini cerita aja nih sampai gambarannya begini ada perempuan itu memanggil teman laki-lakinya 'Mas sini cium' katanya laki-lakinya kan soleh nih nggak mau kalau belum sah gitu kan 'kan belum muhrim belum boleh', 'tapi saya lipstiknya ada cap halalnya boleh berarti' katanya gitu. Tetapi itu kan bentuk-bentuk itu kita sih santai aja bagian dari dialektika bagian dari dinamika sepanjang komunikasi itu dilakukan dengan baik.

Kalau prospeknya sendiri, melihat Mas Iggi yang menekuni dari awal terkait ekonomi syariah seperti apa? Halal itukan sebagai dari syariah kan ya?

Angka dari State of Islamic Economy Report. Ini Global nih jadi tahun 2019 konsumsi muslim global itu berbagai sektor industri halal itu sampai US$ 2 triliun itu meningkat 3,2%. Lalu pada saat yang sama tadi keuangan syariah nya juga tumbuh pada tahun yang sama sudah mencapai US$ 2,8 triliun angkanya itu peningkatannya 14% dari tahun sebelumnya. Ke depannya gara-gara COVID-19 tetap di diperkirakan apa namanya tumbuh walaupun sekitar 2%.

Jadi angka-angka statistik itu menunjukkan peluang, menunjukkan perkembangan yang luar biasa tinggal tadi punya keyakinan nggak gitu kan bahwa ini kemudian bisa bermanfaat dengan baik. Coba deh lihat lihat YouTube deh orang destinasi halal tadi dicari untuk memperoleh sesuatu yang halal friendly itu disediakan di sana nanti sekaligus.

Saya kasih tahu juga saya informasikan belum lama ini juga MES di Korea Selatan terbentuk jadi masalah ekonomi syariah tuh punya perwakilan perwakilan di luar negeri termasuk di Korea Selatan. Memang sekarang lagi pandemi sehingga mungkin menurun tetapi mereka mengantisipasi bahwa turis-turis dari Indonesia dari Malaysia negara muslim itu meningkat ke Korea yang sekarang yang membantu komunitas Korea untuk tadi menyediakan katakan pusat makanan yang halal lalu kemudian tadi Hotel akomodasi yang muslim friendly dan seterusnya mereka berinisiatif membentuk di Korea Selatan untuk membantu memfasilitasi itu.

Berlanjut ke halaman berikutnya.