Blak-blakan MES soal Jusuf Hamka Merasa Diperas Bank-Prospek Ekonomi Syariah

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 28 Jul 2021 15:46 WIB

Sementara ketika mau memasuki wilayah bali malah dicurigai, wah ini mau ngapain mau bikin islamisasi ya, jadi curiganya ke arah sana.

Menurut saya mungkin itu salah strategi kali awalnya gitu kan. Jadi wisata halal itu bukan kemudian melakukan Islamisasi atas tempatnya kan nggak ada. Nah ini kan menyediakan tadi muslim friendly, halal friendly begitu. Nggak perlu ada kekhawatiran tadi lah Islamisasi dan lain-lain gitu ini karena ini agak khawatir aja lah terlalu serius itu kadang kita tidak begitu begitu nggak termasuk urusan Jusuf Hamka juga karena kita terlalu terlalu serius.

Posisi Indonesia sendiri di tengah laju apa bisnis syariah secara global yang tadi angkanya lumayan fantastis yang disebut di sini, kalau posisi Indonesia sendiri di mana?

Jadi tadi ya ada pemeringkatan jadi ada pemeringkatan global atas negara-negara yang menjalankan ekonomi dan keuangan syariah yang tadi saya sebut dari Islamic Economy Report itu itu posisi kita masih nomor 4 walaupun sudah meningkat nih satu tingkat dari tahun sebelumnya. Malaysia masih nomor satu padahal saya skala atau luasannya Malaysia nggak sebesar itu. Orang kan selalu 'Kenapa gitu ya?'. Kalau kita selalu membandingkan Malaysia, 'Indonesia agak lama ya kalau buatnya'. Ya udah nggak apa-apa kita bersyukur aja karena perbedaan dari awal.

Dari awal Malaysia itu Top Down, jadi pemerintahnya yang membuat supaya dicari itu dikembangkan dan berbagai insentif dikasih. Sementara di Indonesia itu berangkatnya itu justru dari inisiatif dan voluntary dari masyarakat itu sendiri. Jadi biasanya akan lebih kuat cuma lebih lambat itu aja. Contoh aja undang-undang bank syariah itu apa namanya kemudian belakangan setelah sudah ada inisiatif perlunya misalnya yang Bank Muamalat itu terus kalau kita ingat lagi sebelum ada undang-undang maka peraturannya dari banyak inisiatif-inisiatif itu dari kita gagasan jalan dari publik.

Belakangan ini kan pemerintah juga mulai menyadari bahwa ekonomi dan keuangan syariah itu salah satu motor pertumbuhan ekonomi saat ini salah satu sarana juga untuk pemerataan menjadi sebagai contoh di tahun 2020 kemarin lembaga keuangan syariah tumbuh positif walaupun lagi pandemi, dibandingkan dengan yang konvensional misalnya. Jadi ini kan pemerintah juga perlu cari alternatif source untuk mendorong pertumbuhan bisa tetap berjalan dengan baik.

Saya pernah nulis kok di detik salah satu artikel karena menjawab artikel yang lain soal ekonomi syariahnya Jokowi Ma'ruf Amin, kenapa pemerintah melakukan kebijakan kebijakan untuk men-support tadi proses bottom up tadi. Jadi ini bisa lebih cepat lagi.

Muncul seorang Jusuf Hamka mengajukan keluhan. Kita kan kalau menyelesaikan kredit lebih cepat dari yang diperjanjikan itu biasanya kena penalti. Nah mungkin kalau di tengah pandemi semacam ini ketika semua orang susah apa nggak ada keringanan-keringanan nih kan pendekatannya syariah yang lain. Kata pak Jusuf Hamka kalau untung fifty-fifty, kalau rugi misalnya nggak fifty-fifty ada tenggang rasanya. Ini sebagai perwakilan dari MES yang sudah berbincang dari hati ke hati dengan Jusuf Hamka, seperti apa menanggapi isu ini?

Itu tadi lah karena pada terlalu serius aja itu ya Pak Jusuf Hamka nya maupun terus kemudian belakangan yang nanggepin kan kayak gitu. Ya jadi saya memahami juga kekecewaannya Pak Jusuf Hamka tapi ya bukan terus kemudian mau menyalahkan kan harus dilihat lagi tadi akadnya tuh apa. Ini juga sampai dicoba sindikasi bank syariah itu apakah murabahah, itu jual beli ini sebagai salah satu contoh ya supaya jadi jadi ilustrasi yang lain ternyata produk jual belinya bank syariah untuk perumahan itu justru sangat dinikmati oleh banyak orang.

Karena apa karena dengan harga dengan jual beli itu harganya sudah fix karenanya udah fix sampai tenor tertentu jadi nggak akan ada resiko fluktuasi suku bunga tuh nah ternyata yang kredit kredit-kredit rumah itu atau pembiayaan rumah itu mungkin perlu kepastian belinya sama kaya perempuan kali ya, sehingga mengharapkannya kan kepastian. Bank syariah itu menawarkan kepastian itu jadi selama misal 10 tahun 15 tahun itu cicilannya itu fix nggak berubah.

Nggak kayak konvensional nih konvensional yang terus kalau bunganya naik dia bisa naik itu sebetulnya nggak ada kepastian itu salah kalau salah satu itu yang udah menikmati produk Syariah di antaranya Raffi Ahmad tuh ditanya jatuh happy nggak nggak pake bank syariah itu kan beli rumah lagi dibantu lagi sama bank syariah

Sementara yang ilustrasi kalau kemudian lagi untung bayarnya juga bisa lebih banyak tapi pada saat turun sama-sama berempati dong Nah itu salah satu sebetulnya yang membedakan Syariah sama konvensional yang lain tapi itu akad nya adalah mudharabah bagi hasil saya punya pengalaman nih untuk urusan bagi hasil ini biar jadi ilustrasi di mana posisinya lembaga keuangan karya yang biasanya sering kejepit.

Contohnya, tabungan atau deposito bank syariah itu prinsipnya bagi hasil. Jadi ketika bagi hasil itu ketika terus kemudian bank syariah mendapatkan katakan revenue yang lebih tinggi maka bisa memberikan return yang lebih tinggi kepada nasabah, masa nasabah penyimpan dana itu. Sekarang apakah di sisi pembiayaannya sisi kredit kalau konvensional itu juga menggunakan bagi hasil nggak banyak yang pakai bagi hasil.

Waktu di pasar modal pertama kali 2002 saya mengenalkan sukuk bagi hasil waktu itu Indosat itu dulu waktu itu direktur keuangan nya punya pemahaman syariah yang baik, Pak Junino Yahya tuh. Kita pakai bagi hasil, apa konsekuensinya? Katakan udah perkiraan kira-kira akan memberikan hasil pada waktu itu ya 15%. Tetapi kalau pendapatannya Indosat meningkat sampai dua kali lipat maka bayarnya bisa aja 30%, waktu itu Pak Junino ngerti itu dan katanya 100% pun naiknya di saya bayar Lah katanya. Walaupun dia koreksi ya jangan 100% lah.

Setelah bukan Pak Juni dilakukan ketika terus kemudian ada peningkatan bagi hasil. Waktu itu ada pertanyaan 'Ini kok mahal banget ya mahal banget?'. Dia akan membandingkan dengan konvensional. Kenapa saya nggak pakai konvensional karena itu, ada periode ketika pendapatannya turun ketika pendapatannya turun ini mintanya yang mengeluarkan sukuk ya turun, senang.

Sama aja kan cost-nya jadi turun yang protes siapa ini nih investor yang membeli sukuk kok turun? Katanya 'nggak ini nih nggak berpihak kepada kita nih yang yang lagi mencoba memberikan yang tinggi' terus saya tanya 'Itu yang waktu kemarin tinggi itu nggak protes ya gitu eh ketinggian nih balikin dong gitu misalnya nggak jadi'.

Di pasar keuangan itu selalu ada dua sisi ada investor dan ada juga peminjam sekarang posisinya Pak Jusuf Hamka Tuh kan ini si peminjam kalau terus hasilnya tinggi dia bisa berikan pendapatan yang lebih tinggi ke bank yang akhirnya kepada nasabah penabung yang juga lebih tinggi kalau rendah bisa disesuaikan sehingga hasilnya pun rendah. Yang protes dari si penabung tapi akad yang dipakai itu bukan itu, akad yang dipakai murabaha sudah diatur tenornya tahun misalnya udah jual-beli udah fix

Sekarang ketika di tengah mau prepayment mau melunasi terjadilah negosiasi ada ruang negosiasi karena harga jual beli yang sudah ditetapkan harus dikompromikan. Saya mau jual nih dari komponen harga komponen harga jual itu kan ada margin dan ada juga pokoknya gitu. Saya bisa minta namanya keringanan atas yang saya nggak alamin tadi.

Praktiknya sebetulnya sama seperti konvensional pasti juga misal ada kalau di konvensional penalti sifatnya penalti cicilan berapa kali cicilan misalnya, disuruh hitung-hitungannya istilahnya diskon marginnya. Ini yang belum ketemu kalau menurut saya lalu proses-proses negosiasi hasil proses ngobrol antar pihaknya itu kayaknya belum ok. Jadi yang satu merasa kecewa kan kayak gitu sementara di bank di para peserta sindikasi yang sebagian besar itu adalah BPD juga nggak gampang memberikan penurunan gitu aja mereka bisa diperiksa BPK kerugian negara nanti kan jadi seperti itu.

Jadi tadi ya jauh banget sih nih jauh dari kejam sih. Makanya ngobrol sama beliau mungkin apa karena lagi jarang ke gym pandemi ini jadi ngomong kejam begitu bisa aja. Setelah ngobrol tadi akhirnya kan ya saya bilang Pak itu menyinggung banyak orang "saya nggak bermaksud untuk bank syariahnya," makanya kan bilang minta maaf.

Berlanjut ke halaman berikutnya.