ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus CCO Yummy Corp Marbio Suntanu

Rahasia Bisnis Restoran 'Siluman' dan Formula Jitu Bisnis Kuliner

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 12 Jul 2022 08:00 WIB
CCO Yummy Corp Marbio Suntanu dan Marius Suntanu
Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -

Pernahkah kamu ketika membeli makanan di aplikasi ojek online tapi tak ada restoran fisik? Jadi cuma dapur yang menyediakan makanan siap saji untuk dibawa pulang atau diambil ojek online.

Nah konsep ini dinamakan dengan cloud kitchen. Cloud Kitchen adalah bisnis model dapur bersama yang menyediakan fasilitas untuk memproduksi makanan dari berbagai brand kuliner dan hanya melayani pembelian dengan sistem pesan antar. Hal ini membuat cloud kitchen kerap dianalogikan seperti restoran 'siluman' karena tanpa fisik alias konsumen tidak bisa makan di tempat.

detikcom kali ini mewawancarai Co-Founder & CCO Yummy Corp Marbio Suntanu. Yummy Corp adalah startup yang membawahi Yummy Kitchen, salah satu cloud kitchen terbesar di Indonesia. Yummykitchen sebagai operator full-service cloud kitchen telah beroperasi di lebih dari 70 lokasi, mengurus segala keperluan seperti sewa tempat, pekerja, dan biaya operasional.

Yummy Kitchen dalam bisnisnya berhasil meraih pendanaan dari investor luar negeri. Selain itu salah satu pendirinya juga masuk daftar Forbes under 30.

Seperti apa lengkapnya bisnis cloud kitchen dan apa kiat suksesnya hingga membangun bisnis sebesar ini dalam waktu singkat? Berikut wawancara selengkapnya:

Bagaimana sejarah didirikannya Yummy Kitchen?

Kami mulai di tahun 2017. Saat itu kita menyadari pentingnya makanan di waktu kita kerja. Apalagi orang kan kalau kerja 8-10 jam. Sebagian besar kehidupan hanya untuk bekerja. Awalnya kita, sampai kita berhasil seperti sekarang kita bekerja sama dengan Unilever, Wings, Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Indonesia, JD.id sampai Huawei untuk menyediakan konsep kantin untuk perusahaan mereka. Nah baru-baru ini kita juga tanda tangan dengan Kedutaan Besar Australia untuk menjalankan facility management dari sisi makanan mereka. Awalnya dari itu saja.

Kami mengusung konsep tidak semua makanan mahal. Tapi kami sesuaikan dengan jenjang karena kalau manajer akan berbeda spending uangnya untuk makanan, staf juga berbeda. Lalu pimpinan-pimpinannya mau bikin acara bisa di tempat. Jadi kami berusaha untuk mengakomodir dari ujung ke ujung.

Cloud kitchen tahun berapa?

Nah cloud kitchen pertama kali kami itu 2019 di Cideng. Sebelum orang mulai dan dengar cloud kitchen, kami mulai duluan. Di Cideng itu, kami nggak punya banyak cuma sekitar 10-15 saja lah yang ada di situ. Karena memang kami juga masih coba konsep itu.

Datanglah 2020, saat itu mulai COVID-19 kan di Indonesia. Kami sadar, di sini kami harus berani ambil langkah. Apalagi semua restoran tutup, mal juga tutup nggak ada yang datang. Ya brand-brand besar restoran banyak yang tutup lah. Kami sadari itu, apalagi makanan kami juga lebih murah dari yang di dalam mal. Tahun 2020 itu kami buka lagi di hampir 50 lokasi, tahun 2021 kami buka lagi 50 lokasi.

Kenapa cloud kitchen menjadi pilihan?

Kenapa kami mulai cloud kitchen? Begini, di dunia makanan dan minuman selalu ada dua masalah atau tantangan yang bisa membantu kita untuk tumbuh. Pertama adalah modal dan kedua tenaga kerja yang baik. Di sini Yummy Corp kami berupaya untuk menggunakan konsep economy sharing. Di mana kami revenue sharing bersama brand yang jadi partner di sini.

Jadi kami bisa bantu mereka, contohnya ada brand yang dulunya hanya buka di dua lokasi lalu naik jadi lima lokasi dan jadi 10 lokasi. Targetnya bisa 50 lokasi bahkan sampai 100 lokasi. Jadi pemilik brand berkesempatan membuka di banyak lokasi kami.

Nah salah satu brand partner kami namanya Dailybox, kami bisa bantu mereka untuk membuka 30 lokasi. Dulunya mereka hanya buka di 5 lokasi. Jadi mereka juga tetap bisa punya gerai sendiri dan punya gerai di Yummy Kitchen.

Berapa modal awal yang digunakan untuk membangun Yummy Corp?

Begini, modal awal kami sebenarnya tidak terlalu besar. Karena kami memulai dari perusahaan jasa. Seperti tadi kerja sama dengan Unilever untuk menyediakan makanan. Kami hanya dihitung sebagai penyedia jasa. Kemudian kami juga masuk dari angel investor Ismaya Group, mereka sebenarnya salah satu investor kami.

Menurut saya, di sini sebenarnya yang terpenting bukanlah modal. Tapi bagaimana kita mencari solusi dari masalah yang ada dan dicari oleh pasar. Kemudian saat ini kami memiliki tim yang suportif dan ujung-ujungnya sih fleksibilitas dalam usaha, harus ada inovasi. Karena kalau dulunya kita tidak bikin produk baru seperti cloud kitchen ini kita mungkin ketinggalan. Nah setiap masa itu fleksibilitas pasti akan berbeda.

Dulu kita ada masa B2B, lalu masa cloud kitchen dan sekarang kita kalau nggak bergerak ke online atau ke offline mungkin kita juga akan ketinggalan. Dalam berbisnis memang benar-benar harus fleksibel.

Bisnis cloud kitchen ini mulai kencang pas COVID-19 ya?

Benar, karena yang B2B melambat. Jelas, karena orang kan tidak masuk ke kantor. Nah di cloud kitchen justru berkembang pesat, kami mulai fokus ke sana.

2020 cloud kitchen berkembang pesat, paling banyak di wilayah Jabodetabek?

Benar, memang kami fokus dulu ke Jabodetabek. Karena kami juga kan memang baru mulai, kami harus memahami dan mengerti konsep ini, bagaimana jika terus berkembang pesat. Kami juga belajar bagaimana mengontrol outlet yang tidak kelihatan seperti di luar kota. Membangun sistem, CCTV, sentral kasir, inventory dan semua produk bisa terdata. Jadi kami membangun sistem yang kuat dan menargetkan menguasai pasar Jabodetabek dulu.

Berarti pegawai yang menjaga gerai itu adalah pegawai Yummy Corp?

Betul, sekarang kami ada pegawai sekitar 1.400. Dulunya tahun 2017 pegawai kami sekitar 30 untuk outlet B2B. Lalu mulai cloud kitchen naik menjadi sekitar 150-200. Itu dulu tergantung shiftnya. Jadi tahun pertama kami punya maksimum 200 orang. Saat buka cloud kitchen memang tak terlalu banyak, tapi tahun ini kita semakin berkembang.

Memang ini bisa dibilang usaha padat karya. Jadi kita perlu banget orang-orang dan tim yang suportif yang bisa membantu kita tidak hanya di lapangan tapi di kantor dan juga bisa mengerti sistem dan cara kontrol sekarang digital.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT