Kebijakan Ekonomi RI untuk Tangkal Corona Dianggap Kurang Jitu

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 12 Mar 2020 15:41 WIB
Suasana Gedung-gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Sabtu (10/1/2015). Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2015 sebesar 5,6 persen.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi akan tumbuh namun terbatas. Hal ini disebabkan oleh lemahnya daya beli, virus corona hingga perang harga minyak yang terjadi belum lama ini.

CORE Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di kisaran 5%, walaupun tidak bisa terlalu tinggi.

"Range ekonominya di kisaran 4,9%-5,1% masih sangat terbatas," kata Direktur Riset CORE Piter A. Redjalam di kantor CORE, Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Dia mengungkapkan, saat ini respons kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum terukur. Pasalnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk paket masih bersifat menahan perlambatan bukan untuk melawan.

"Pelonggaran PPh21 itu untuk menaikkan daya beli di tengah penurunan daya beli yang sudah terlanjur begitu besar, karena kenaikan cukai rokok, plastik. Tapi alhamdulillah iuran BPJS Kesehatan ditolak Mahkamah Agung (MA)," jelas dia.

Menurut Piter, Indonesia akan sulit berada di pertumbuhan ekonomi V Shape seperti yang disebutkan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Pasalnya ada wabah corona yang kemunculannya menimbulkan ketidakpastian.

Dia menyebut, corona sebelumnya diprediksi bisa diatasi dalam waktu cepat. Di China, penyembuhan dan proses recovery memang sudah terjadi. Namun corona muncul di negara - negara lain dan meledak seperti di Italia, Iran hingga Korea Selatan.

"Hal inilah yang justru mengkhawatirkan, karena menyerang ekonomi global dan penyelesaiannya akan jadi lebih panjang," imbuh dia.



Simak Video "Kasus Corona di India Nyaris Sentuh Angka 30 Juta"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)

Tag Terpopuler