Ekonomi RI 2020 Diprediksi Minus, Pemerintah Mau Berbuat Apa?

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 19 Agu 2020 18:05 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mengungkapkan peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level negatif pada tahun 2020 sangat besar. Pemerintah sendiri sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi di kisaran minus 1,1% hingga 0,2% selama tahun 2020, dari yang sebelumnya di kisaran minus 0,4% sampai 2,3%.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan ada beberapa upaya yang akan dilakukan pemerintah agar pertumbuhan ekonomi tidak turun secara dalam di tahun 2020. Upaya tersebut mulai dari mempercepat penyerapan belanja pemerintah hingga merealokasi anggaran program perlindungan sosial yang belum berjalan efektif.

Dia menceritakan, percepatan belanja pemerintah bisa menggantikan peran konsumsi rumah tangga dan investasi yang terkontraksi sangat dalam pada kuartal II-2020.

"Semua K/L (kementerian/lembaga) harus kerja keras, spending ini harus diarahkan ke multiplier yang besar sehingga mendukung pelemahan ekonomi yang tidak terlalu dalam," kata Febrio dalam video conference, Jakarta, Rabu (19/8/2020).

Selain itu, pemerintah juga akan merealokasi anggaran stimulus fiskal yang pada pelaksanaannya belum berjalan efektif. Realokasi anggaran stimulus yang belum tergunakan dimanfaatkan untuk program-program perlindungan sosial yang baru, seperti bantuan gaji Rp 600.000 untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta per bulan hingga bantuan produktif lainnya.

"Jadi kita dengan memberikan bantalan ini kita berharap tidak terlalu negatif, tapi memastikan bantalan untuk masyarakat yang paling penting, ini juga tantangan ke 2021, karena COVID tidak hilang," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan berada di kisaran minus 1,1% sampai positif 0,2% di tahun 2020. Hal itu menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi minus 5,32% pada kuartal II tahun ini.

Akibat pandemi COVID-19, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami revisi dari Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), dimana pada awalnya pemerintah memperkirakan tahun ini pertumbuhan ada di kisaran minus 0,4% sampai dengan 2,3%. Namun, sesudah melihat realisasi kuartal ke-2 dan angka pada bulan Juli maka diperkirakan untuk pertumbuhan tahun 2020 di kisaran ada di minus minus 1,1 hingga positif 0,2% artinya agak bergeser ke arah negatif atau mendekati 0.

"Tekanan di kuartal kedua sangat dalam dan faktor-faktor untuk kuartal ketiga harus betul-betul diusahakan tidak hanya tergantung dari pemerintah, meskipun pemerintah merupakan pemegang peran yang cukup besar di dalam pemulihan ekonomi," kata Sri Mulyani Indrawati seperti yang dikutip dari laman resmi kementerian Keuangan, Senin (17/8/2020).

Proyeksi ini dilihat terutama terkait pada konsumsi rumah tangga yang memang mengalami tekanan yang cukup dalam dan diperkirakan ada di dalam pertumbuhan antara minus 1,3 hingga 0%. Sedangkan untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan investasi juga masih di dalam kisaran zona negatif -4,2 hingga -2,6%.

Untuk ekspor maupun impor seiring dengan tekanan yang luar biasa di perekonomian global juga mengalami tekanan atau masih berada dalam zona negatif yaitu untuk ekspor -5,6% hingga -5,4%dan untuk impor -10,5% hingga -8,4%.



Simak Video "Targetkan Pertumbuhan Ekonomi RI 5,0%, Ini Strategi Sri Mulyani"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)