Anak Buah Sri Mulyani Ungkap Belanja Pemerintah Banyak yang Bocor

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 25 Sep 2020 15:10 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengakui banyak belanja negara yang bocor. Dia menjelaskan, anggaran bocor ini tidak berdampak besar bagi perekonomian nasional.

Hal itu diungkapkannya saat acara Kupas Tuntas Ekonomi dan APBN secara virtual, Jumat (25/9/2020).

"Indonesia dalam beberapa tahun sebelum 2020 adalah efisiensi. Karena kita melihat nggak sedikit pengeluaran pemerintah tidak efisien, banyak bocor, tidak perlu yang tidak hasilkan nilai tambah besar," kata Febrio.

Belakangan ini pemerintah fokus menyusun anggaran yang lebih efisien. Banyak alokasi anggaran yang dipotong, seperti perjalanan dinas. Tujuannya, agar APBN lebih terjaga.

"Tiap tahun dipotong, perjalanan dinas dipotong, meeting di hotel apakah perlu. Itu kemudian hasilkan disiplin fiskal relatif solid. Itu juga buat rating surat berharga kita naik," jelasnya.

Dia mengatakan, belakangan ini pemerintah sudah berhasil menjaga defisit fiskal atau APBN di bawah 3% atau sesuai dengan UU Keuangan Negara. Pengelolaan defisit fiskal yang berada di bawah 3% terhadap PDB juga menjadikan rasio utang pemerintah Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Indonesia saat ini melakukan penyesuaian defisit APBN menjadi 6,34% terhadap PDB. Penyesuaian dilakukan akibat pandemi Corona.

"Ini best practice yang sudah dilakukan sampai sebelum 2020. Itu buat negara kita relatif lebih siap hadapi 2020 dibandingkan banyak negara lain. Ketika tiba-tiba naikkan defisit 6,34%, rasio utang naik dari 30% bisa ke 36 persen tahun ini saja. Gara-gara defisit itu," ungkapnya.

(hek/ara)