IMF Ingatkan Negara soal Lonjakan Utang di Tengah Corona

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 17:02 WIB
imf
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengingatkan perlunya langkah-langkah untuk mengatasi beban utang yang semakin tidak berkelanjutan di beberapa negara. Pihaknya mendesak kreditur dan debitur untuk memulai proses restrukturisasi lebih cepat.

"Kami mengulur waktu, tetapi kami harus menghadapi kenyataan bahwa ada tindakan yang jauh lebih menentukan di depan kami, mendesak kreditur dan negara yang menghadapi kesulitan utang untuk memulai merestrukturisasi utang tanpa penundaan," kata Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva dikutip dari Reuters, Senin (19/10/2020).

Dia mengatakan kreditur harus mengadopsi ketentuan kontrak untuk meminimalkan gangguan ekonomi, meningkatkan transparansi, dan mendukung kerangka kerja bersama yang telah disepakati oleh G20.

Pernyataan Georgieva muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang peningkatan tajam soal utang, terutama di antara negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang terpukul akibat dampak virus Corona hingga menyebabkan penurunan pariwisata, serta harga minyak yang lebih rendah.

Inisiatif penangguhan layanan utang G20 telah membantu 44 negara menangguhkan US$ 5 miliar untuk dibelanjakan guna mengurangi krisis COVID-19, tetapi kemanjurannya telah dibatasi oleh tidak adanya kreditur swasta dan kegagalan China untuk memasukkan semua lembaga milik negara.

Banyak negara yang lebih miskin enggan meminta pembekuan pembayaran obligasi pemerintah, karena khawatir hal itu dapat mengganggu kemampuan mereka untuk meminjam uang di masa depan.

Mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers pekan lalu mendesak IMF untuk meningkatkan pinjaman, memanfaatkan cadangan emasnya yang besar, dan mengeluarkan lebih banyak mata uang Hak Penarikan Khusus. Hal itu merupakan sebuah langkah yang mirip dengan pencetakan uang bank sentral yang telah diblokir oleh AS.

"Sejarah mengajarkan kita bahwa ada kesalahan yang tak terhitung banyaknya karena terlambat untuk setiap kesalahan karena terlalu dini, dan kita hampir tidak melakukan apa-apa," tandasnya.

(ara/ara)