OPEC dan Rusia Sepakat Genjot Produksi Minyak Bulan Depan

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 04 Des 2020 09:40 WIB
Hasil positif diraih PT Pertamina EP Asset 3 Field Subang yang mencatatkan produksi minyak dan gas bumi melebihi target.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Rusia sepakat meningkatkan produksi secara tentatif mulai bulan depan. Meskipun, pandemi virus Corona (COVID-19) terus menghilangkan prospek permintaan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), mengatakan bahwa pembatasan produksi akan sedikit dilonggarkan mulai 1 Januari 2021 oleh anggota aliansi OPEC+.

"Mulai Januari 2021, negara-negara peserta (OPEC+) memutuskan untuk secara sukarela menyesuaikan produksi sebesar 0,5 juta barel per hari," katanya dikutip dari CNN, Jumat (4/12/2020).

Harga minyak berjangka Brent naik 27% pada November ke level tertinggi sejak Maret, dibantu oleh pengembangan vaksin virus Corona yang telah meningkatkan prospek permintaan minyak.

Sebelumnya, Aliansi produsen minyak memangkas produksi pada Mei dan Juni sebesar 9,7 juta barel per hari atau sekitar 10% dari produksi global setelah lockdown dan larangan perjalanan menghancurkan permintaan. Harga minyak mentah Brent sempat di bawah US$ 20 per barel pada April.

Pemangkasan itu dikurangi pada bulan Agustus dan direncanakan pasokan akan ditingkatkan sebanyak 2 juta barel per hari mulai Januari. Tetapi gelombang kedua lockdown di beberapa bagian Eropa dan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan harga minyak lagi, mendorong produsen dan Badan Energi Internasional untuk memangkas perkiraan permintaan untuk tahun ini dan awal 2021.

Berita menjanjikan mengenai beberapa kandidat vaksin virus Corona membuat harga minyak lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Sebab, para pedagang yakin bahwa vaksin akan memacu aktivitas ekonomi.

Kepala Strategi Pasar di FXTM, Hussein Sayed mengatakan meningkatnya permintaan minyak di Asia dan meredanya ketidakpastian politik di AS juga membantu meningkatkan sentimen. Meskipun lingkungan secara fundamental tetap tidak menguntungkan untuk harga minyak dalam jangka pendek, mengingat kelebihan pasokan dan permintaan global yang lemah.

"Harga akan tetap di sekitar level saat ini sampai pesawat, kereta api dan mobil mulai bergerak lagi dengan frekuensi yang lebih besar dan peluncuran vaksin mulai bekerja melalui ekonomi global," kata Kepala Strategi Pasar Global di Axi, Stephen Innes.

(eds/eds)