Imbas Pandemi, UMKM Terlilit Utang hingga Sulit Bayar Sewa Toko

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 21 Jan 2021 16:09 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) memang tak pandang bulu. Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pun ikut dihantam. Akibatnya banyak dari mereka yang kesulitan membayar utang hingga membayar sewa tempat/toko.

UNDP Indonesia Country Economist Rima Prama Artha menjelaskan setidaknya ada tiga dampak keuangan yang utama di saat pandemi yang dirasakan oleh para pelaku UMKM.

"Yang pertama mereka kesulitan, tentu saja untuk membayar hutang. Kemudian membayar biaya tetap seperti misalnya sewa tempat. Kemudian yang terakhir ada pembayaran gaji karyawan," kata dia dalam webinar Jakarta Post, Kamis (21/1/2021).

Tak hanya itu, mayoritas UMKM ini mengalami penurunan omzet, laba, aset, dan jumlah karyawan.

"Penurunan jumlah karyawan ini terjadi untuk semua tipe jenis usaha kecuali untuk kelompok mikro. Hal ini mungkin karena usaha mikro mungkin karyawannya tidak terlalu banyak," sebutnya.

Lalu, sekitar 88% UMKM merasakan adanya penurunan profit. Sementara untuk penurunan tenaga kerja ini paling dirasakan oleh usaha menengah dan besar, setidaknya 79% yang menyatakan bahwa mereka harus mengurangi jumlah karyawan.

Dari sisi penawaran, ada 47% UMKM yang menyatakan mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan baku produksi. Kemudian 75% UMKM juga merasakan adanya kenaikan harga bahan baku sehingga mereka sulit untuk berproduksi.

Untuk sisi permintaan, 90% UMKM merasa permintaan terhadap produk mereka sangat menurun akibat pandemi. Kemudian UMKM juga merasa kesulitan untuk menentukan harga karena fluktuasi dari harga bahan baku.

"Yang terakhir mereka juga menyebutkan bahwa terutama di awal pandemi, kemudian ada PSBB ketat ini membuat para UMKM kesulitan untuk mendistribusikan barang dagangannya," paparnya.

Dia menjelaskan survei tersebut dilakukan terhadap lebih dari 1.100 UMKM yang tersebar di 15 provinsi di Indonesia, yakni 60% berasal dari Pulau Jawa dan 40% di luar pulau Jawa.

Kemudian menjelaskan, saat survei ini dilakukan pada Agustus 2020, rata-rata menjawab bahwa mereka tidak bisa bertahan lebih dari 10 bulan. Secara rata-rata, usaha mikro memiliki ketahanan yang lebih pendek.

"Jadi (usaha mikro), mereka mengakui (data tahannya) sekitar 4 sampai 6 bulan," ujar Rima.

"Dan mengingat survei ini dilakukan bulan Agustus, jadi sekitar 5 bulan yang lalu, jadi apabila masih banyak UMKM yang bertahan ini adalah salah satunya dampak positif dari support government (dukungan pemerintah), melalui PEN dan juga melalui support yang lain terhadap UMKM, Jadi mereka bisa survive," tambahnya.

(toy/dna)