Aroma Kartel di Balik Rugi Rp 5,4 Triliun Peternak Ayam

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 23 Mar 2021 08:10 WIB
Mengenal Sukarman, Peternak yang Sudah Kenyang Asam-garam Dunia Perteluran

menunjukan peternakan ayam petelur miliknya di Kecamatan Ponggok, Blitar (2/2/2021). Sukarman menekuni dunia perteluran tidak kurang sejak 3 dekade silam. Ia mengenal baik pasang surut mengelola industri ayam petelur sehingga terbiasa menghadapi kondisi yang selalu fluktuatif. Saat ini ia menjadi salah satu pengurus di Koperasi Peternak Unggas Sejahtera yang menaungi para peternak telur di Blitar.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Aroma kartel dan monopoli terendus pada bisnis peternakan ayam. Para peternak mandiri menduga praktik itu terjadi pada penjualan bibit anak ayam (Day Old Chicken/DOC). Hal ini pun langsung disampaikan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) Alvino Antonio menjelaskan telah terjadi kartel penentuan harga pada tingkat breeding farm alias peternakan bibit ayam. Alvino menilai bahwa harga DOC selalu sama dijual oleh berbagai breeding farm.

Dia menyimpulkan harga yang ditawarkan ini seolah dimainkan beberapa pihak, oleh karena itu dia menduga ada praktik kartel yang terjadi dalam penentuan harga DOC.

"Kita laporkan ini ada dugaan kartel, di penjualan bibit anak ayam, ini harganya selalu kompak. Harganya selalu sama, baik saat masih rendah dan tinggi tetap sama. Karena itu harga selalu sama, saat ini range-nya itu Rp 7.500 per ekor, selalu sama harga itu," ujar Alvino ditemui di Kantor KPPU, Jakarta Pusat, Senin (22/3/2021).

Masalahnya, harga yang dia sebut kartel ini sekarang sudah sangat jauh dari harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Dia menjelaskan harga acuan Kementerian Perdagangan berada di Rp 5.000-6.000 per ekor.

"Harga DOC ini jadi diatur nggak wajar, padahal acuan Kemendag kan Rp 5.000 sampai Rp 6.000, ini kenyataannya bisa sampai Rp 7.000," papar Alvino.

Selain melaporkan adanya praktik kartel dalam penentuan harga DOC, Alvino juga menilai pembagian DOC dari breeding farm kurang adil. Menurutnya, banyak petani rakyat mandiri sepertinya tidak bisa mendapatkan bibit ayam.

Menurutnya, para peternakan penjual bibit anak ayam tidak menjual bibit anak ayam sesuai dengan ketetapan. Dalam aturan yang dibuat Kementerian Pertanian, dia mengatakan breeding farm wajib menjual bibit setidaknya 50% ke peternakan rakyat. Sisanya bisa dijual ke perusahaan afiliasinya atau peternak integrator.

Namun kenyataannya, Alvino menilai saat ini kebanyakan breeding farm menjual DOC lebih banyak ke peternakan yang merupakan afiliasinya dibandingkan ke peternakan eksternal. Hal ini menurutnya merupakan praktik monopoli dan menimbulkan kelangkaan bibit anak ayam.

"Jadi breeding farm itu prioritaskan DOC-nya ke kendang internal dan afiliasinya mereka. Padahal Kementan atur breeding farm harus 50% jual ke eksternal bukan cuma kemitraan," ujar Alvino.

Berapa kerugian yang ditimbulkan dari praktik-praktik kartel yang diduga terjadi bagi para peternak?

Lihat juga video 'Penyiksaan Ayam di Peternakan Australia Terekam Kamera':

[Gambas:Video 20detik]