Yuan Naik Tinggi Terhadap Dolar AS, China Malah Waswas

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 03 Jun 2021 10:43 WIB
Dolar, Euro, Yuan: Mana yang Jadi Mata Uang Global Berikutnya?
Foto: DW (News)
Jakarta -

Pemerintah China waswas melihat pergerakan nilai mata uang yuan. Saat ini mereka sedang mencoba untuk mengendalikan yuan yang nilainya melonjak ke level tertinggi selama tiga tahun terhadap dolar AS.

Dilansir dari CNBC, Kamis (3/6/2021), apabila nilai yuan lebih kuat dari dollar AS, barang-barang produk China akan relatif lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Hal itu memicu kekhawatiran tentang daya saing ekspor China.

Seperti diketahui ekspor barang China merupakan penyumbang utama pertumbuhan ekonomi nasional negeri tirai bambu.

Yuan China sendiri tercatat diperdagangkan sedikit lebih lemah terhadap dolar AS pada hari Rabu. Hal itu terjadi setelah People's Bank of China (PBOC) menetapkan titik tengah harian yuan di angka 6,3773 terhadap dolar AS.

Langkah tersebut dinilai mampu membalikkan enam hari perdagangan berturut-turut yang membuat nilai yuan lebih kuat sejak 24 Mei.

PBOC telah mencoba untuk membuat pasar memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan nilai tukar yuan. Bank sentral mempertahankan beberapa kendali melalui penetapan titik tengah harian terhadap dolar, memungkinkan yuan untuk bergerak 2% lebih tinggi atau lebih rendah dari level itu.

Di sisi lain, bank sentral pada Senin malam mengeluarkan kebijakan mulai 15 Juni lembaga keuangan harus meningkatkan rasio simpanan valuta asing mereka sebesar 2 poin persentase, menjadi 7%.

Kenaikan ini memaksa bank untuk mempertahankan lebih banyak kepemilikan mata uang asing mereka, mengurangi jumlah yang dapat digunakan untuk mempengaruhi nilai tukar mata uang asing. Ini adalah kenaikan pertama dalam 14 tahun sejak perubahan sebelumnya pada Mei 2007.

Diperkirakan langkah tersebut akan mengurangi jumlah mata uang asing yang tersedia untuk perdagangan jangka panjang sebesar US$ 20 miliar.

Pihak berwenang China berusaha untuk menjaga ekonomi tumbuh dengan stabil ketika dunia berusaha untuk pulih dari goncangan pandemi virus Corona tahun lalu.

Namun, kebijakan moneter Beijing telah menyimpang dari AS dan negara-negara maju utama, membuat aset China lebih menarik bagi investor global.

Misalnya, obligasi pemerintah China jangka 10-tahun menghasilkan imbal hasil 3,07%, sementara yang dikeluarkan AS memiliki hasil yang jauh lebih rendah sekitar 1,62%.

Kesenjangan dalam imbal hasil telah menciptakan lingkaran setan uang yang mengalir ke aset berdenominasi yuan dan memperkuat mata uang tersebut. Pada gilirannya kemudian menarik lebih banyak modal asing.



Simak Video "RI-China Sepakat Dagang Gunakan Rupiah & Yuan"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/das)