Kasus COVID-19 Terus Meroket, Jangan Harap Ekonomi RI Tumbuh 5%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 25 Jun 2021 12:12 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi ancaman pandemi COVID-19. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,9% di tahun 2021.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Lonjakan kasus COVID-19 masih terus terjadi. Bahkan, 20.574 kasus baru COVID-19 dilaporkan terjadi dalam sehari kemarin.

Bila pandemi COVID-19 terus memburuk, peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar Hirawan, ragu target pertumbuhan ekonomi di angka 5% bisa tercapai.

Pasalnya, bila kasus COVID-19 terus menanjak, pemulihan ekonomi juga akan terganggu. Menurutnya efektivitas pergerakan ekonomi akan berkurang dengan adanya virus yang mengintai masyarakat.

"Jika masih terus memburuk, ini benar-benar menjadi backfire dan pemulihan ekonomi akan terganggu. Dengan kata lain, lupakan proyeksi 4-5% pertumbuhan ekonomi di tahun 2021," kata Fajar kepada detikcom, Jumat (25/6/2021).

Lebih lanjut, secara riil, bila lonjakan kasus COVID-19 terus terjadi dapat berpengaruh kepada kurangnya pendapatan pekerja harian. Seperti diketahui pekerja informal di Indonesia masih sangat banyak jumlahnya.

Bila kasus melonjak dan pengetatan terus terjadi, maka pendapatan pekerja informal akan menurun. Bahkan, bila pengetatan terus berlanjut ekstrim ke opsi lockdown total, PHK besar-besaran kemungkinan akan terjadi.

"Karena efektivitas ekonomi berkurang, maka salah satunya mengurangi pendapatan pekerja harian. Kalau PHK secara besar-besaran mungkin akan terjadi ketika total lockdown diimplementasikan," ungkap Fajar.

Lanjut halaman berikutnya.

Lihat Video: BPK: Defisit APBN 2020 Melebar Menjadi Rp 947,7 Triliun dari PDB

[Gambas:Video 20detik]



Sama seperti Fajar, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal juga pesimis dengan pertumbuhan ekonomi di sisa 2021 akan terus negatif. Di kuartal III dan IV kemungkinan pertumbuhan ekonomi akan terus negatif.

"Apabila kasus positif COVID harian terus meningkat di semester kedua tahun ini, maka pertumbuhan ekonomi di semester kedua berpotensi di bawah 2%, tidak menutup kemungkinan kembali negatif di triwulan III-IV," ungkap Faisal kepada detikcom.

Faisal menjelaskan, dengan kasus yang terus melonjak akan terjadi penurunan permintaan barang dan jasa. Dampak ngerinya, bila penurunan itu terus terjadi akan ada peningkatan pengangguran hingga sulitnya mencari lapangan kerja baru.

"Penurunan permintaan terhadap barang dan jasa akan terus terjadi. Ini berdampak terhadap penurunan lapangan kerja, ujungnya peningkatan pengangguran," ungkap Faisal.

(hal/fdl)