Ekonomi RI Meroket 7,07%, Mendag: Sangat Menggembirakan!

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 05 Agu 2021 14:09 WIB
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 mencatatkan positif 7,07% secara tahunan (year on year/YoY). Dengan begitu, Indonesia berhasil keluar dari resesi setelah kuartal sebelumnya masih kontraksi -0,74%.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan hasil pertumbuhan ekonomi tersebut sangat menggembirakan. Selain sejalan dengan tren pemulihan ekonomi global, ekonomi di beberapa negara yang jadi mitra dagang Indonesia pada kuartal II-2021 juga menunjukkan pertumbuhan yang positif.

"Pengumuman BPS dikatakan kuartal II-2021 pertumbuhannya sangat menggembirakan yaitu 7,07% dibanding periode yang sama 2020," kata Lutfi dalam webinar Dialog Ekonomi, Kamis (5/8/2021).

Selain itu, ada faktor pendukung yang terjadi di dalam negeri yaitu kinerja ekspor tumbuh 31,78% dan impor tumbuh 57,80%.

"Untuk Januari-Juni 2021 ekspor kita bernilai US$ 100,2 miliar di mana sektor non migas berada di 97,06% artinya tumbuh 34,06% dibanding semester yang sama 2020 dan impor kita sudah tumbuh sehat yaitu 28,42% di semester I-2021 US$ 91 miliar, berbanding dengan US$ 70,9 miliar pada semester I-2020," jelasnya.

Konsumsi rumah tangga, tulang punggung perekonomian Indonesia juga tumbuh 5,93% YoY. Indeks kepercayaan konsumen pada Mei-Juni 2021 tumbuh 107%, yang artinya kepercayaan indeks konsumen tumbuh sangat baik dan sangat menguat.

"Pertumbuhan konsumsi sudah berada di level 5,93%, datanya itu menunjukkan ini adalah level sudah kembali bahkan lebih baik dibanding sebelum masa pandemi," imbuhnya.

Kemudian investasi, lanjut Margo, tumbuh 7,54%. Ini karena dukungan belanja modal dari APBN yang pada kuartal II-2021 naik 45,56% yoy.

Sementara konsumsi pemerintah tumbuh 8,06%. Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 25,1%, sektor akomodasi makanan dan minuman tumbuh 21,58%, sektor perdagangan termasuk ritel tumbuh 9,44%, dan sektor industri pengolahan tumbuh 6,58%.

"Bahan bakar kendaraan bermotor tumbuh 46,6%, suku cadang dan aksesoris tumbuh 24%, makanan minuman tumbuh 19,2% dan sandang tumbuh 53,7%, itu merupakan penopang pertumbuhan PDB di sektor perdagangan," tandasnya.

(aid/zlf)