BKPM Catat Realisasi Investasi Januari-Juni 2021 Tembus 442,8 Triliun

Khoirul Anam - detikFinance
Kamis, 26 Agu 2021 17:36 WIB
grafik
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi langsung (direct investment) selama Januari-Juni 2021 mencapai Rp 442,8 triliun atau mencapai 49,2% dari target investasi 2021 sebesar Rp 900 triliun. Nilai investasi itu mengalami kenaikan sebesar 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Diketahui, investasi langsung tersebut berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA). Total pertumbuhan investasi langsung juga turut meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebanyak lebih dari 620 ribu orang.

Staf Ahli Menteri Investasi Indra Darmawan menyatakan tingkat optimisme investasi selama pandemi cenderung meningkat. Hal ini, kata dia, mendorong pemulihan ekonomi.

"Dilihat dari realisasinya, realisasi investasi di Pulau Jawa dan luar Jawa cukup seimbang. Begitu pula balance pada PMDN dan PMA juga makin seimbang," tuturnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/8/2021).

Untuk mengoptimalkan penyerapan investasi, menurut Indra, digunakan strategi Bertahan dan Menyerang.

"Artinya, sembari mencari investor baru, kita tetap mengopeni, membantu, dan memfasilitasi yang sudah ada," jelasnya.

Ia menyebutkan, salah satu upaya pemerintah dalam mendorong tumbuhnya investasi adalah dengan mengembangkan sistem perizinan usaha secara online. Langkah itu, yakni melalui Online Single Submission yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo baru-baru ini.

Adapun dalam proses perizinannya, sistem ini memudahkan pengusaha mikro, kecil, menengah, bahkan besar, dengan mengakses https://oss.go.id/.

Menurutnya, kebijakan gas dan rem dari pemerintah untuk menyeimbangkan perlindungan kesehatan dan pemulihan ekonomi adalah langkah tepat agar Indonesia berhasil melalui masa pandemi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Shinta Widjadja Kamdani juga menggarisbawahi hal tersebut. Menurutnya, pemulihan sektor kesehatan berimbas pada pemulihan ekonomi. Meski kondisi tidak mudah dalam pembatasan mobilitas, Shinta berharap para pengelola usaha tetap adaptif dan lincah.

"Pelaku usaha justru bisa memanfaatkan momentum ini untuk bertransformasi dan berinovasi, di antaranya, dengan mengoptimalkan penggunaan platform digital untuk meningkatkan penjualan produk," ujarnya.

Shinta menyebut, bahkan pelaku UMKM pun sudah banyak memanfaatkan platform digital seperti e-commerce dan media sosial. Guna mendorong pertumbuhan investasi, menurutnya, diperlukan penguatan daya saing dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia sebagai aset.

"Selain itu, tak kalah penting adalah pembangunan infrastruktur baik yang hard maupun soft, serta industrialisasi dengan produksi bahan baku dari Indonesia," tambahnya

Optimisme akan pertumbuhan investasi juga diungkapkan oleh Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Menurutnya, hal ini dapat dilihat melalui berbagai indikator, misalnya tingkat kepercayaan pelaku bisnis yang terjaga, atau impor bahan baku industri yang berada di level optimis dan menandakan bahwa industri dalam negeri terus bergerak meski di tengah pandemi.

"Semoga pertumbuhan investasi di Indonesia terus terjadi terutama di sektor industri manufaktur yang memiliki kontribusi besar," ungkapnya.

Menurutnya, penanganan pandemi dari sisi kesehatan paling esensial untuk mendukung proses pemulihan ekonomi. Masyarakat harus terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baru seperti disiplin protokol Kesehatan.

Yusuf berharap, investasi bisa menopang pemulihan ekonomi dan berlaku inklusif sehingga dapat dirasakan semua golongan.

(mul/hns)