Buset! Rp 43 T Perhiasan yang Diekspor RI 'Dicaloin' Singapura

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 12:14 WIB
Pekerja menata perhiasan emas yang dijual di Cikini Gold Center, Jakarta, Senin (27/7/2020). Pada Senin (27/7), harga emas Antam berada di Rp997.000 per gram atau naik Rp8.000 per gram dibanding hari sebelumnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/pras.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebut Indonesia mengekspor perhiasan emas senilai US$ 8,2 miliar pada 2020, setara Rp 116,4 triliun (kurs Rp 14.200). Namun lebih dari sepertiga nilai ekspor tersebut dijual ke berbagai negara melalui 'calo', yakni Singapura.

Lutfi menyebut 37% perhiasan emas yang diekspor ke Indonesia dibeli oleh Singapura. Lalu Negeri Singa itu menjual perhiasan tersebut ke sejumlah negara, di antaranya negara anggota Dewan Kerjasama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC).

"Kalau kita lihat dari US$ 8,2 miliar kita ekspor perhiasan emas kita tahun lalu 37% itu perginya ke Singapura. Setelah kita perhatikan kenapa? Ternyata barang-barang itu dibeli oleh Singapura dijual mainly (terutama) kepada GCC Country," katanya dalam webinar 'UOB Economic Outlook 2022' Rabu (15/9/2021).

Jika dihitung, 37% dari US$ 8,2 miliar adalah US$ 3,03 miliar (Rp 43 triliun). Artinya emas perhiasan Indonesia sebanyak Rp 43 triliun dijual ke berbagai negara terutama GCC melalui Singapura.

Negara-negara GCC membeli perhiasan emas melalui Singapura karena harganya lebih murah dibandingkan beli langsung dari Indonesia. Sebab, mereka sudah menjalin kerja sama perdagangan dengan Singapura.

"Karena di GCC Country ini mereka mempunyai perjanjian perdagangan. Artinya kalau barang kita dijual langsung dari Jakarta harganya 5% lebih mahal, kalau dijual lewat Singapura artinya 5% lebih murah," tutur Lutfi.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) sudah berjanji akan mendorong perjanjian perdagangan untuk memastikan negara transisi atau negara transit tidak lagi mengganggu penjualan barang-barang Indonesia.

Lalu dia menyinggung bahwa sebelum dirinya menjadi Mendag baru ada dua perjanjian perdagangan Indonesia dengan negara lain, yaitu dengan Jepang dan Pakistan berupa Preferential Trade Agreement, dan Skema ASEAN.

"Hari ini kita mempunyai lebih dari 20 (perjanjian perdagangan) karena kenapa? Karena kita memerlukan daripada pertumbuhan perekonomian kita ini dari evolusi yang tadinya menjual barang mentah/setengah jadi, menjadi barang industri dan industri berteknologi tinggi," tambah Lutfi.

Simak juga Video: Gerak Kementan Tingkatkan Ekspor Tanaman Hias

[Gambas:Video 20detik]



(toy/ara)