d'Mentor

Untung Buntung Bisnis Kuliner Kekinian

dtv - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 08:50 WIB
Jakarta -

Berbisnis di bidang kuliner dan minuman kekinian tidak semudah membalikkan tangan. Terlebih buat pemula yang ingin menggeluti bisnis di situasi seperti sekarang ini.

"Bikin brand sendiri prosesnya jauh lebih susah dibanding ambil franchise, itu sudah pasti karena tingkat kesulitannya tiga banding satu bikin brand sendiri sama franchise berat yang bikin brand sendiri," ujar CEO Masakin Group dan Co-Founder Menantea, Bisma Adi Putra dalam acara d'Mentor detikcom, Rabu (6/10/2021).

Bisma mengatakan ada banyak faktor yang harus diperhatikan sebelum terjun ke dunia bisnis F&B (Food And Beverage). Salah satunya dengan mengandalkan transaksi harian makan di tempat hingga branding produk.

"Bisnis F&B itu selalu berubah setahun minimal dua kali, tren sama market setahun minimal dua kali itu selalu berubah nggak pernah nggak, karena itu kita enggak pernah bisa berhenti, harus terus bergerak dan kenapa harus mengikuti model kekinian pertama modalnya lebih sedikit kalau pakai konsep kekinian modal secara duit lebih sedikit terus upaya atau usaha secara operasional jauh lebih ke kontrol," papar pria yang akrab dipanggil Bimbim.

Bisma menjelaskan bisnis kuliner kekinian harus bisa adaptasi digital. Lantaran peluang dan market sekarang didominasi milenial dan gen z, yang senang dengan sosial media.

"Makanya untuk mengerti atau menjalankan bisnis kekinian, umur boleh tua tapi jiwa harus gen Z, harus jiwa-jiwa anak main TikTok, karena kalau pikirnya mau tahu jualan produk enak sekarang udah enggak bisa, sekarang itu harus benar-benar main di sosial media, harus main di platform F&B, harus main di platform-platform baru," jelasnya.

Bisma menjelaskan kalau bisnis F&Bn bisa untung dan buntung cepat, karena ada biaya pengeluaran tetap tiap bulannya. Oleh karena itu pentingnya pematangan rencana sebelum memulai bisnis.

"Makanya dibilang untung cepat bener, buntung juga cepat karena kita punya fixed cost ada rental harus dibayar ada karyawan harus dibayar, terus tiba-tiba omzet turun tinggal setengah, nah kita udah pernah bikin perhitungan belum kalau omzet setengah, kita bisa bayar sewa nggak ? Akhirnya bulan kita bisa bayar karyawan nggak ? Solusinya apa ? Rencana cadangan apa kalau omset tinggal setengah. Nah itu begitu buntung minusnya bisa jutaan per bulan bisa belasan sampai puluhan juta per bulan," pungkasnya.

(edo/fuf)