Garuda 'Dipelototi' 800 Kreditur Terkait Utang Rp 138 T, Ini 3 Faktanya

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 23 Nov 2021 07:30 WIB
Jakarta -

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk harus menghadapi 800 kreditur dan lessor untuk menyelesaikan utang US$ 9,75 miliar atau Rp 138,45 triliun (kurs Rp 14.200) sehubungan dengan implementasi Peraturan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 73. Saat ini pihaknya telah menyerahkan skema proposal restrukturisasi utang.

Sampai saat ini, Irfan melihat proses restrukturisasi berjalan positif. Proses negosiasi dengan para lessor disebut sudah dilakukan sejak tahun lalu, dengan hasil maskapai pelat merah tersebut bisa hemat Rp 2 triliun hasil negosiasi pada 2020.

"Banyak orang nggak tahu bahwa Garuda itu sudah saving Rp 2 triliun setahun hasil negosiasi tahun lalu. Hanya saja kedua belah pihak kita maupun lessor itu beranggapan bahwa 2021 kondisi membaik, ternyata kan tidak dan utang jadi menumpuk," kata Irfan dalam program Blak-blakan detikcom yang tayang Senin (22/11/2021).

Berikut 3 faktanya:

1. Beragam Respons Kreditur

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menjelaskan respons kreditur usai menerima skema proposal restrukturisasi. Secara keseluruhan dirinya cukup optimis bahwa proses ini akan berhasil.

"Selama kondisi normal kan Garuda bayar terus, ketika pandemi ini Garuda nggak mampu bayar. Rasanya kami tahu posisi mereka, mereka juga tahu posisi kita tinggal dicari formula, kata-kata dan kesepakatan apa yang bisa dicapai," jelasnya.

"Ada yang ngambek, ada yang marah, ada yang baik hati 'udah nggak usah dipikirin utang Anda, nanti kalau sudah ada kita ngomong', macam-macam lah ragamnya karena kita punya 800 kreditur," tambahnya.

Lanjutkan membaca -->

2. Kreditur Nggak Punya Banyak Pilihan

Irfan menyebut para kreditur tidak punya banyak pilihan untuk menolak restrukturisasi Garuda. Pasalnya jika Garuda bangkrut, mereka kemungkinan tidak akan kebagian apapun dari hasil penjualan aset.

"Dua belah pihak Garuda maupun 800 kreditur itu harus mencapai kesepakatan karena kalau tidak yaudah bangkrut. Kalau Garuda pailit atau bangkrut, aset-asetnya dijual, kalau aset-asetnya dijual ada aturan pembagian hasil penjualan aset, kemungkinan besar 800 kreditur nggak dapat apa-apa karena nilai aset kita itu kecil dan airlines memang by definition asetnya kecil," jelasnya.

"Jadi kadang-kadang buat kreditur ini nggak punya pilihan yang baik, mendingan terima proposalnya Garuda daripada Garuda bangkrut," tambahnya.

Lanjutkan membaca -->

3. Beberkan Rencana Bisnis ke Depan

Agar para lessor dan kreditur mau menerima proposal Garuda untuk negosiasi utang, manajemen mencoba meyakinkannya dengan cara menceritakan rencana bisnis ke depan. Irfan menyebut bisnis Garuda nantinya akan menguntungkan karena berbagai kegiatan yang bikin rugi bakal ditinggalkan.

"Supaya meyakinkan mereka bahwa 'oh it's worth kok saya terima proposal Garuda karena Garuda akan seperti ini'. Di situ memang story-nya mesti meyakinkan, masuk akal, story telling-nya juga mesti benar, saya ketemu dengan banyak pihak dan saya cerita ini lho Garuda ini," terangnya.

(aid/zlf)