Investor Prancis Lebih Pede Macron Jadi Presiden Lagi, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Investor Prancis Lebih Pede Macron Jadi Presiden Lagi, Ini Alasannya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 25 Apr 2022 10:44 WIB
Current French President and centrist presidential candidate for reelection Emmanuel Macron arrives to delivers his speech at his election night headquarters Sunday, April 10, 2022 in Paris. French polling agencies projected Sunday that incumbent Emmanuel Macron and far-right nationalist Marine Le Pen are heading for another winner-takes-all runoff in the French presidential election, with their fierce political rivalry and sharply opposing visions pulling clear of a crowded field of 12 candidates in the first round of voting. (AP Photo/Thibault Camus)
Foto: AP Photo
Jakarta -

Jelang pemilihan umum Prancis, calon Presiden petahana Emmanuel Macron diprediksi akan mendapatkan suara lebih banyak daripada pesaingnya, Marine Le Pen. Investor pun lebih setuju bila Macron menjabat kembali lima tahun ke depan.

Dilansir dari CNN, Senin (25/4/2022), investor justru gelisah bila Le Pen memenangkan pemilihan umum. Hal itu diyakini akan mengguncang ekonomi Prancis yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua di Eropa itu.

Kekhawatiran resesi timbul bila Le Pen memenangkan pemilihan umum. Malah disebut-sebut Le Pen dapat membawa dampak ekonomi lebih besar daripada Brexit ataupun kebijakan ekonomi Donald Trump.

"Itu bisa lebih besar dari Brexit. Itu bisa lebih besar dari Trump, jika Le Pen menang," kata Michael Hewson, kepala analis pasar di CMC Markets.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada hari Selasa, ahli strategi di Citi menempatkan probabilitas kemenangan Le Pen sebesar 35%. Meski begitu, mereka mendorong kliennya untuk melakukan lindung nilai pada aset obligasi pemerintah Prancis. Secara blak-blakan Citi mengatakan kemenangan Le Pen bakal merugikan pasar saham.

Kemenangan untuk Le Pen akan segera menimbulkan pertanyaan tentang hubungan politik dan ekonomi Prancis dengan Uni Eropa. Dia pernah mengatakan akan membawa Prancis keluar dari blok tersebut, meskipun saat ini dia telah membatalkan janjinya itu.

Tujuan kebijakannya misalnya seperti menghentikan pekerja asing datang ke Prancis, yang akan mengakhiri kebebasan bergerak di Eropa. Hal ini dinilai dapat menciptakan konflik serius.

"Sebagian besar kebijakan (Le Pen) tidak akan mungkin dilakukan di dalam UE. Itu bisa memicu Frexit, atau keluarnya Prancis dari Uni Eropa," kata Grégory Claeys, seorang rekan senior di Bruegel, sebuah think tank di Brussels.

Lanjut di halaman berikutnya.



Simak Video "Singapura Rajai Investasi Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT