Ampun! Ekonomi AS Dibayangi Resesi, Inflasi Naik Hingga Saham Rontok

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 13:28 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Ampun! Ekonomi AS Dibayangi Resesi, Inflasi Naik Hingga Saham Rontok/Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

Ekonomi Amerika Serikat (AS) dalam kondisi rumit. Resesi menjadi ancaman yang menyelimuti AS.

Mengutip CNN, Selasa (17/5/2022), saat ini AS tidak berada dalam resesi, tetapi ada tanda-tanda bahwa itu sudah dekat. Tanda itu di antaranya, The Fed yang menaikkan suku bunga imbas inflasi.

Kenaikan suku bunga acuan dilakukan untuk menekan lonjakan harga, namun ini berujung pada tingginya biaya pinjaman dan bisa memperlambat ekonomi.

The Fed dinilai sangat terlambat menaikkan suku bunga. Inflasi menjadi perhatian yang berkembang sepanjang 2021, tetapi bank sentral baru mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2022. Jadi The Fed perlu mengejar ketinggalan dan mengambil tindakan yang jauh lebih besar daripada jika mulai menaikkan suku bunga tahun lalu.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bulan ini bank sentral AS akan terus menaikkan suku bunga 0,5 poin persentase pada akhir setiap pertemuan sampai inflasi terkendali. Lalu, The Fed akan terus menaikkan suku bunga 0,25 poin untuk sementara waktu.

Kemudian, maraknya aksi jual di pasar saham juga menjadi tanda resesi. Setelah mencapai rekor tertinggi pada awal Januari, pasar saham telah kehilangan hampir seperlima dari nilainya.

Ada kekhawatiran suku bunga yang lebih tinggi akan mengikis keuntungan perusahaan, investor pun memilih jalan untuk keluar. Hal ini tidak bagus untuk sentimen konsumen. Ketika mereka melihat catatan merah di layar ponsel mereka, itu dapat membuat orang berhenti.

Tanda resesi selanjutnya dilihat dari pasar obligasi ketika investor tidak begitu tertarik pada saham. Mereka kerap ke obligasi, namun kali ini justru tidak terjadi.

Invasi Rusia ke Ukraina juga menjadi sebab resesi akan datang karena membuat rantai pasokan putus dan membuat harga energi melonjak. China juga terus me-lockdown beberapa kota terbesarnya karena kasus COVID-19 yang tinggi. Serta, kekurangan tenaga kerja telah membuat gaji melonjak dan menghambat aliran barang di seluruh dunia.

Meski begitu, perencana keuangan menyampaikan ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melindungi keuangan, seperti mendapatkan pekerjaan baru, keuntungan dari penjualan rumah, menyisihkan uang tunai, dan tetap berinvestasi.

Lihat juga video 'Rayu Pengusaha AS, Jokowi Sebut RI Penghasil Nikel Terbesar Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)