ADVERTISEMENT

Thrifting: Awalnya Donasi, Kok Jadi Industri?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 19 Jun 2022 13:00 WIB
Salah satu lokasi yang cukup terkenal dan jadi lokasi utama berburu para thrifter adalah Pasar Senen. Sebelum istilah thrifting tenar di kalangan anak muda, pasar ini memang sudah tersohor sebagai penyuplai pakaian bekas.
Foto: Ilyas F
Jakarta -

Tren belanja pakaian bekas alias thrifting marak berkembang dewasa ini. Muda-mudi di kota besar mulai berlomba untuk shopping pakaian-pakaian bekas.

Ditarik lebih jauh, sebetulnya penggunaan pakaian bekas dimulai dari gerakan donasi kegiatan keagamaan. Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, thrift shop adalah toko yang mengumpulkan uang untuk amal dan organisasi non profit.

Toko-toko ini menjual barang-barang sumbangan dari orang-orang di sekitar komunitas mereka. Orang dapat memberikan donasi barang bekas ke thrift shop. Mereka biasanya menerima sumbangan seperti pakaian, furnitur, sepatu, mainan, elektronik, dekorasi rumah, dan sebagainya.

Hal ini mulai bermunculan di sekitar awal 1900-an, kala itu biasanya kelompok pelayanan yang dibuat Gereja Kristen mulai mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual dan mencoba mendanai program amal.

Penjualan barang bekas, khususnya pakaian bekas, juga didorong oleh adanya revolusi industri. Di mana pakaian-pakaian makin banyak diproduksi, masyarakat berkecukupan bisa membelinya. Sejalan dengan itu, limbah pakaian pun bertambah karena banyak orang memilih membuang pakaiannya bila sudah tidak ingin memakainya.

Sejak saat itu, jual beli barang dan pakaian bekas menjadi tren, meskipun pembeli belanja pakaian bekas mendapatkan stigma 'orang miskin dan tak punya uang'.

Tapi semua berubah ketika depresi ekonomi terjadi. Permintaan sangat tinggi untuk barang-barang bekas yang harganya lebih murah membuat toko barang bekas yang ada pada saat itu tidak dapat memenuhinya. Maka bermunculan lah banyak toko barang dan pakaian bekas yang baru.

Lalu, kenapa belanja pakaian bekas menjadi tren pop di tengah kalangan muda-mudi, bahkan sampai berubah menjadi industri?

Hal itu terjadi di sekitar tahun 1970-an, khususnya ketika kultur anti-kemapanan bermunculan. Thrifting jadi hobi muda-mudi sejak saat itu.

Apalagi mulai bermunculan juga ikon-ikon pesohor yang hobi thrifting misalnya saja Andie Walsh dalam film Pretty in Pink. Walsh memadupadankan outfit-nya dengan barang baru dan bekas.

Di akhir 1980-an mulai bermunculan juga kalangan musisi yang meneriakkan anti-kemapanan seperti aliran punk, grunge, dan sebagainya. Barang-barang thrift banyak dipakai oleh idola-idola anak muda saat itu.

Ikon seperti Kurt Cobain salah satunya. Sejak saat itu thrifting bagaikan menjadi ekspresi individualitas di tengah kaum muda. Belanja barang bekas bagaikan menjadi kebebasan di kaoangan anak muda.

(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT