Bjorka Bikin Heboh Sebar Data, Apa Beda Ahli Cyber Security dan Elite Hacker?

ADVERTISEMENT

Bjorka Bikin Heboh Sebar Data, Apa Beda Ahli Cyber Security dan Elite Hacker?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 10:57 WIB
An illustration picture shows a projection of binary code on a man holding a laptop computer, in an office in Warsaw June 24, 2013. REUTERS/Kacper Pempel/Illustration/File Photo
Ilustrasi/Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta -

Belakangan ini sorotan publik tertuju pada Bjorka yang disebut hacker karena menyebarkan data pejabat publik. Pakar IT sekaligus Komisaris maplecode.id, Ahmad Faizun kembali mengingatkan pentingnya benteng nasional berupa Internet Mandiri untuk Indonesia.

"Internet Mandiri dengan seluruh tingkat kerumitan yang baru, akan tetapi akan mampu melindungi infrastruktur sistem informasi pemerintah yang kokoh secara terintegrasi. Hanya dengan solusi ini, maka penerapan UU Perlindungan Data nanti akan sungguh-sungguh dapat melindungi data warga negara Indonesia secara teknikal, tanpa kecuali," kata Faizun dalam keterangannya, Selasa (13/9/2022).

Menurut Faizun, tanpa Internet Mandiri, UU Perlindungan Data hanya bersifat represif dan ancaman apabila dilanggar, tanpa memiliki solusi perlindungan kokoh dan terintegrasi seperti yang dimiliki pemerintah Rusia dan beberapa negara maju lainnya.

"Jika pertahanan sistem informasi lembaga pemerintah yang silos dan relatif terbuka untuk warga dunia, karena masih bergabung dengan sistem internet dunia secara apa adanya, tidak segera diantisipasi ke depannya, maka tidak mustahil isu peretasan ini akan makin meluas dan mengancam kedaulatan bangsa kita, bangsa yang besar sehingga layak dijadikan target peretasan," tutur Faizun.

Ahli Cyber Security dan Elite Hacker

Faizun menceritakan dalam dunia maya sarat dengan banyak tantangan dari sisi keamanan informasi. Ada dua profesi yang kemudian muncul dari tantangan ini, yaitu ahli cyber security dan elite hacker.

"Ahli keamanan siber (cyber security) atau juga dikenal sebagai topi putih (white hat), adalah ahli keamanan informasi yang melakukan kajian atau asesmen keamanan informasi. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keamanan informasi suatu organisasi. Dengan persetujuan atau sepengetahuan dari pemilik aset IT atau pengurus organisasi. Misi dari ethical hacking akan bertolak belakang dengan tindak kejahatan hacking (peretasan)," jelasnya.

Faizun melanjutkan, ahli keamanan informasi adalah orang-orang yang memiliki sertifikasi CEH (Certified Ethical Hacking, GIAC Certified Penetration Tester (GPEN), GIAC Web Application Penetration Tester (GWAPT), GIAC Exploit Researcher and Advanced Penetration Tester (GXPN), ECCouncil Certified Ethical Hacker (CEH), EC-Council Licensed Penetration Tester - Master (LPT), Certified Penetration Tester (CPT), CompTIA PenTest+, dan Offensive Security Certified Professional (OSCP).

"Orang-orang dengan sertifikasi ini, biasa bekerja untuk korporasi besar, bank, dan institusi pemerintahan," tukasnya.

Sementara mengenai elite hacker, Faizun membeberkan julukan atau profesi ini ditujukan kepada anggota dari segmen orang-orang berbakat dalam komunitas computer underground yang diakui juga oleh kolega siber mereka atas bakat peretasan spesial dimiliki. Akhir-akhir ini label elite telah meluas artinya tidak hanya ke penguji batasan virtual akan tetapi juga pendeteksi sabotase siber.

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menjadi peretas elite yang menurut Faizun sebenarnya berada di ujung tombak atau pelopor, baik dalam industri komputer maupun jaringan.

"Berbeda dengan defisini cracker (perusak), elite hacker dengan sengaja menghindari perusakan informasi atau merusak computer sistem yang telah mereka eksploitas," ucap Faizun.

Beberapa ciri elite hacker di antaranya merupakan sosok pakar keamanan teknologi informasi yang terdepan, seringkali merupakan peretas biasa yang telah maju ke tingkat teknologi berikutnya, dapat dengan mudah menulis eksploitasi mereka sendiri dan memiliki pemahaman mendalam tentang sistemnya, dan ahli dalam beberapa Sistem Operasi dari Linux, Unix, Mac OS X hingga Windows.

Peretas elite juga seringkali membuat sendiri distribusi Linux yang dibuat khusus sesuai dengan kebutuhan mereka dan dengan mudah memiliki semua alat yang tersedia. Tak hanya itu, peretas elit sering menargetkan hanya satu kerentanan saat menyerang target.

"Di mana penyerang pemula menjalankan pemindai kerentanan keamanan jaringan (VA Scanner). Menjalankan pemindai kerentanan jaringan yang tidak senyap dapat memicu sistem pencegahan intrusi dan mengakibatkan peretasan diblokir tanpa berhasil melakukan penetrasi. Peretas yang lebih elit bahkan tidak meninggalkan jejak ketika memasuki sistem," terang Faizun.

Simak video '5 Hacker Berbahaya di Dunia, Siapa Saja?':

[Gambas:Video 20detik]



Berlanjut ke halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT