×
Ad

Kolom

Kumandang Prabowonomics dari Davos

Gede Sandra - detikFinance
Senin, 26 Jan 2026 13:45 WIB
Foto: (Muchlis Jr-Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Setelah sempat tertunda setahun lamanya, Prabowonomics akhirnya mulai berkumandang di World Economic Forum (WEF), Davos, Swiss, pada 23 Januari 2026. Mengapa tertunda? Setahun lalu undangan dari WEF ditolak oleh Presiden Prabowo dengan alasan dirinya baru dua bulan menjabat, sehingga kalaupun datang Beliau merasa pidatonya akan seperti basa-basi belaka.

Kali ini undangan WEF diterima Presiden Prabowo dengan kepercayaan diri tinggi, meyakini bahwa garis kebijakan ekonominya, yang dikenal sebagai Prabowonomics, sudah mulai menjejak di Bumi Indonesia.

Pertumbuhan Tinggi Berkelanjutan

Meskipun membanggakan, ekonomi Indonesia hanya tumbuh di kisaran 5% selama sedasawarsa terakhir. Sementara target Presiden Prabowo di lima tahun pemerintahannya adalah ekonomi tumbuh di kisaran 8% per tahun (bahkan dalam Buku Paradoks Indonesia hal. 42, disebutkan bahwa mimpi Prabowo sebenarnya adalah pertumbuhan di atas 10%/double digit).

Pertumbuhan di kisaran 5% 'saja' memang tidak cukup dan tidak berkelanjutan untuk Indonesia, terbukti dalam lima tahun terakhir (pasca pandemi) jumlah kelas menengah di Indonesia turun sebanyak 9,4 juta jiwa (BPS, 2024).

Sementara di puncak struktur pendapatan, jumlah multi miliuner (individu dengan kekayaan di atas US$ 10 juta) di Indonesia meningkat pesat, dari 2.580 orang pada 2014 menjadi 8.120 orang pada tahun 2024 (Knight Frank, The Wealth Report 2016 dan 2025).

Akhirnya kita semua menjadi saksi bagaimana ketimpangan ekonomi semacam ini kemudian meledak menjadi kerusuhan sosial pada Agustus 2025 lalu. Ini berarti pertumbuhan ekonomi yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir tidaklah berkelanjutan, tidak cukup bagi Indonesia.

Agar berkelanjutan maka sudah sangat tepat bila pertumbuhan ekonomi dipercepat lagi menjadi 8% per tahun. Tambahan 3%, sekitar 1,2 juta lapangan kerja baru (dengan standar 2014) setiap tahun, di luar pertambahan lapangan kerja yang normal (pertumbuhan 5%), akan dapat meningkatkan jumlah kelas menengah secara signifikan.

Terutama bila mesin pertumbuhan diharapkan dari program- program yang mengandalkan usaha-usaha kecil dan juga kooperasi sebagai motornya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang juga dibangga-banggakan Presiden Prabowo dalam pidatonya di Davos, bila mayoritasnya benar-benar dikelola oleh usaha kecil dan kooperasi (karena banyak kritik program ini realitasnya didominasi oleh lingkaran elit politik dan bisnis tertentu, oligarki lokal) akan dapat membagi kue pertumbuhan ekonomi lebih adil untuk masyarakat bawah.

Akan lebih baik juga sebenarnya apabila dapur-dapur sekolah dilibatkan dalam penyelenggara dan organisasi orang tua siswa dilibatkan dalam pengawasan.

Program lain yang juga dibanggakan di Davos adalah program Kooperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ini adalah program ekonomi yang konsisten dengan semangat Pasal 33 UUD 1945, dapat meningkatkan kontribusi kooperasi dalam perekonomian Indonesia yang selama ini sangat kecil, kurang dari 1% dari PDB sepanjang sedekade terakhir.



Simak Video "Video Prabowo Bicara Capaian MBG di WEF: Akan Lampaui Produksi McDonald's"


(ang/ang)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork