×
Ad

Kolom

Tradisi Mudik dari Perspektif Ekonomi Politik

Iramady Irdja - detikFinance
Senin, 23 Feb 2026 14:53 WIB
Foto: ANTARA FOTO/ARDIANSYAH
Jakarta -

"Keletihan dalam perjalanan panjang, tidaklah membuat jera. Silaturahmi dan nostalgia di kampung halaman adalah doping yang menguatkan semangat ketika kembali menghadapi kerasnya hidup di Rantau".

Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

Mudik bukan sekadar fenomena macet tahunan. Ini adalah ritual kolosal yang sudah mendarah daging sejak ratusan tahun lalu, dimulai dari tradisi merantau suku Minangkabau hingga Bugis.

Awalnya, mudik berarti bergerak ke arah hulu sungai (lawan dari hilir), namun kini maknanya bermetamorfosis menjadi gerakan kolektif jutaan orang untuk kembali ke akar leluhur.

Mengapa Mudik Begitu "Dahsyat"? Jika kita teropong dari kacamata Ekonomi Politik, mudik adalah mesin penggerak bangsa yang unik:

(1). Pemerataan Ekonomi Dadakan: Bayangkan, sekitar 20 juta orang membawa "kue ekonomi" dari kota besar ke pelosok desa dalam waktu bersamaan. Ini adalah redistribusi kekayaan paling organik tanpa perlu campur tangan birokrasi yang rumit.

(2). Relaksasi Psikologis & Sosial: Mudik berfungsi sebagai tombol reset. Di tengah tekanan hidup perkotaan, pulang ke kampung adalah cara publik menyembuhkan diri (relaksasi kejiwaan) sekaligus memperkuat jejaring sosial di akar rumput.

(3). Investasi Kultural: Secara politik, mudik menjaga simpul koneksi antara pusat dan daerah. Nilai-nilai religius dan budaya yang dibawa pulang memperkuat identitas bangsa agar tidak tercerabut oleh arus modernisasi.

Fenomena ini adalah bukti bahwa manusia, di mana pun mereka berada baik di Malaysia, Turki, hingga China memiliki kerinduan yang sama untuk kembali ke titik nol.

Mudik adalah fase di mana ekonomi berputar ke daerah, dan jiwa kembali tenang di pangkuan keluarga.



Simak Video "Video Solusi Pemerintah Biar Mudik Gak Macet Parah Lagi di Gilimanuk-Ketapang"


(ang/ang)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork