×
Ad

Kolom

Ekonomi Indonesia: Konduktor, Panglima dan Komando

Riant Nugroho - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2026 08:30 WIB
Halaman ke 1 dari 2
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Selama ini kita terbiasa membedakan sistem ekonomi menjadi kapitalisme, sosialisme, ekonomi pasar, ekonomi campuran, atau ekonomi komando. Klasifikasi tersebut berguna untuk menjelaskan hubungan antara negara dan pasar. Namun, dalam praktik pemerintahan modern, keberhasilan ekonomi sering kali tidak ditentukan oleh sistem yang dipilih, melainkan oleh gaya kepemimpinan ekonomi yang dijalankan.

Negara-negara dengan sistem ekonomi yang relatif serupa dapat menghasilkan kinerja yang sangat berbeda karena dipimpin dengan cara yang berbeda. Ada pemimpin yang bertindak sebagai dirigen sebuah orkestra. Ada yang memimpin sebagai panglima yang mengintegrasikan seluruh sumber daya nasional. Ada pula yang lebih mengandalkan komando langsung dalam setiap pengambilan keputusan. Karena itu, saya mengusulkan tiga tipologi kepemimpinan ekonomi: Ekonomi Konduktor, Ekonomi Panglima, dan Ekonomi Komando. Ketiganya bukanlah ideologi ekonomi, melainkan model kepemimpinan dalam mengelola pembangunan nasional.

Ekonomi Konduktor

Seorang konduktor tidak memainkan seluruh alat musik. Ia bahkan tidak menghasilkan satu pun nada. Namun, tanpa konduktor, setiap pemain dapat memainkan musiknya sendiri-sendiri sehingga menghasilkan kebisingan, bukan simfoni. Demikian pula dalam ekonomi nasional.

Dalam model Ekonomi Konduktor, pemerintah tidak berusaha menjadi pelaku utama di setiap sektor. Peran utamanya adalah mengorkestrasi agar rumah tangga, dunia usaha, koperasi, BUMN, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, hingga investor asing bergerak dalam arah yang sama, arah seperti dalam "partiture" strategi ekonomi nasional.

Pemimpin ekonomi bertindak sebagai arsitek ekosistem. Ia memahami bagaimana ekonomi nasional dan para pelakunya terhubung dengan ekonomi daerah dan para pelakunya, bagaimana ekonomi daerah terhubung dengan rantai pasok regional, serta bagaimana seluruh sistem tersebut harus diposisikan dalam kompetisi global. Karena itu, instrumen utamanya bukan sekadar anggaran negara, melainkan koordinasi, regulasi, insentif, diplomasi ekonomi, dan penciptaan kepastian.

Dalam model ini, negara tidak mendominasi pasar, tetapi juga tidak membiarkan pasar bekerja tanpa arah. Negara memastikan setiap pelaku memperoleh ruang berkembang sesuai keunggulan masing-masing. Target akhirnya bukan memperbesar peran pemerintah, melainkan memperbesar kapasitas seluruh pelaku ekonomi nasional.

Sejarah menunjukkan bahwa sejumlah pemimpin berhasil memainkan peran seperti ini. Bill Clinton mengombinasikan disiplin fiskal dengan inovasi teknologi sehingga sektor swasta Amerika Serikat berkembang pesat pada dekade 1990-an. Tony Blair memadukan reformasi pasar dengan investasi besar pada pendidikan dan layanan publik. Angela Merkel dikenal sebagai pemimpin yang menjaga keseimbangan antara industri, serikat pekerja, dunia usaha, dan pemerintah negara bagian sehingga daya saing manufaktur Jerman tetap terpelihara.

Masing-masing memiliki konteks politik yang berbeda. Namun mereka memperlihatkan karakter yang sama: negara hadir sebagai pengarah dan pengorkestra, bukan sebagai pelaku tunggal. Soeharto pernah berhasil pada tahun 1980an, meski kemudian terkendala ketika memasuki tahun 1990an, karena masalah perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia, dan tumbuhnya ekonomi kroni di dalam negeri yang menggerogoti gagasan besar ekonomi orkestrasi.




(acd/acd)
HALAMAN SELANJUTNYA
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork