Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman optimistis harga beras akan turun dalam sepekan. Amran juga tidak menampik saat ini harga beras saat ini naik.
"(Dalam sepekan akan turun?) pasti turunlah, doakan," kata Amran di kediamannya, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Menurutnya, kenaikan harga beras saat ini juga dipengaruhi oleh kasus beras fortifikasi yang mengklaim tinggi vitamin sehingga harga jualnya tinggi. Namun, dia memastikan sejumlah merek yang diduga melanggar akan ditindak tegas.
"(Karena) fortifikasi. Kenapa? Ada mafia. Nah sebutlah besar-besar. Ada mafia. Ini yang bikin ribut. Tahu nggak? Itu Rp 90 triliun diambil. Haknya rakyat. Itu penipuan," tegasnya.
Untuk menindak tegas, ia juga telah meminta agar produsen menghentikan sementara (moratorium) produksi beras fortifikasi. Adapun pelanggaran yang dilakukan ini, terkait dengan kualitas dan harga beras tersebut.
Temuan Kementan, sebanyak 25 merek melakukan over klaim terhadap kandungan vitamin pada berasnya sehingga dijual dengan harga tinggi.
"Dimoratoriumkan cabut izinnya dulu. Kalau moratorium gimana? Berhenti kan? Terus dicabut izinnya gimana? Ada tiga proses. Cabut izinnya, moratorium, diproses hukum," terang Amran.
Amran menambahkan, saat ini stok beras dalam keadaan aman. Untuk kekosongan di ritel, ia menyebut bagian dari penindakan beras fortifikasi yang disebut melakukan pelanggaran.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional per 21 September 2026, harga rata-rata beras di pasar tradisional tercatat Rp 14.900/kg untuk beras kualitas bawah I, Rp 14.700/kg untuk kualitas bawah II, Rp 16.600/kg untuk kualitas medium I, Rp 16.400/kg untuk kualitas medium II, Rp 17.900/kg untuk kualitas super I, dan Rp 17.300/kg untuk kualitas super II.
Sementara itu, pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras sebesar Rp 13.500/kg untuk beras medium dan Rp 14.900/kg untuk beras premium.
(ada/hns)