Kenapa Bukalapak Berani IPO saat Masih Rugi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 11 Jul 2021 09:00 WIB
bukalapak
Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET
Jakarta -

Bukalapak masih mencatatkan kerugian pada 2020 lalu. Dari laporan keuangan Bukalapak masih mencatat kerugian Rp 1,3 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan kerugian pada 2019 yang mencapai Rp 2,8 triliun dan 2018 rugi Rp 2,2 triliun.Namun tahun ini Bukalapak berani untuk maju ke bursa saham melalui rencana penawaran initial public offering (IPO).

Pendapatan Bukalapak mengalami peningkatan yaitu Rp 1,35 triliun, lebih besar dibanding 2019 Rp 1,07 triliun. Bahkan angka ini juga lebih besar dibanding 2018 yang hanya Rp 292 miliar.

Kemudian transaksi tercatat Rp 85,08 triliun, naik dibandingkan 2019 Rp 57,39 triliun dan Rp 28,34 triliun pada 2018. EBITDA Bukalapak sudah mulai membaik berada di kisaran Rp 1 triliun. Pada 2020, EBITDA Bukalapak minus Rp 1,67 triliun, pada 2019 minus Rp 2,68 triliun, dan 2018 minus Rp 2,22 triliun.

Dana segar yang ditargetkan dari IPO adalah sebesar Rp 21,9 triliun. Nantinya dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja perusahaan dan entitas anak. Sebagai perusahaan berbasis teknologi, Bukalapak akan terus melakukan inovasi tidak hanya di layanan online, tapi juga offline.

Sebenarnya apa yang membuat Bukalapak berani IPO ketika masih mengalami kerugian?

Ekonom & Praktisi Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo mengungkapkan dengan rencana Bukalapak untuk listing di Bursa ini akan menjadi pemimpin di industri sejenis.

"Menurut pandangan saya, momen ini cukup baik. Apalagi sekarang perusahaan juga masih mengalami kerugian finansial. Walaupun rugi ini bukan berarti dia nggak berani IPO, justru ini jadi terobosan bagaimana caranya mendapatkan alternatif permodalan," kata dia saat dihubungi detikcom, Sabtu (10/7/2021).

Dia mengungkapkan, tak hanya Bukalapak yang berani maju ke arena bursa ketika keuangannya merugi. Lucky menyebut pada 2011 Garuda Indonesia juga melakukan hal yang sama. Apalagi saat itu kinerja keuangan Garuda tertekan akibat utang dalam mata uang dolar AS dan tertekan harga minyak yang naik tinggi.

"Dulu Garuda IPO tujuannya untuk mempertahankan kinerjanya, walaupun memang sekarang kembali masuk ke masa kerugian. Tapi ini terbukti menjadi salah satu cara menjaga bisnis. Bayangkan kalau nggak IPO dulu, mungkin sudah ditutup. Jadi ini adalah salah satu strategi sekaligus kesempatan yang bisa diambil perusahaan," ujar dia.

Menurut Lucky, memang untuk saham Bukalapak ini lebih cocok dibeli oleh investor dan bukan trader. Karena visinya menarik untuk jangka panjang. Selain itu dalam waktu dekat, Bukalapak sedang berupaya membenahi kerugian yang mereka alami.

Lucky menambahkan Alibaba sebagai salah satu penyokong dana di Bukalapak juga merupakan unicorn yang melantai di bursa saham Amerika Serikat (AS). Dia mengharapkan Bukalapak ini bisa mengikuti jejak Alibaba yang sukses ketika melantai di bursa.

Dia menyebut, jika IPO ini berhasil maka bisa memberikan kredit yang baik untuk regulator hingga stakeholder. "Jadi BEI, OJK, KSEI, KPEI ini akan dapat kredit yang baik, ada lho perusahaan unicorn yang sukses listing dan berhasil," tambahnya.



Simak Video "Microsoft Akan Genjot Bukalapak Rp 1,46 T"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)