Saham BCA Diborong Asing, Ini Pemicunya

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 29 Agu 2025 15:46 WIB
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA
Jakarta -

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan foreign net buy atau beli bersih asing tertinggi sebesar Rp 145,5 miliar dan menopang IHSG pada perdagangan Kamis (28/8/2025). Kondisi ini memunculkan harapan bahwa saham BBCA bisa kembali rebound di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, perseroan membukukan laba bersih Rp 29 triliun atau tumbuh 8% dibanding periode sama tahun lalu. Angka ini setara hampir 50% dari proyeksi tahunan dari para analis.

Kinerja ini ditopang pertumbuhan kredit 12,9% secara tahunan, dengan porsi terbesar dari segmen korporasi yang naik 16%, disusul komersial 13%, serta SME 11%. Net Interest Margin (NIM) tetap stabil di kisaran 5,8%, sementara rasio dana murah (current account saving account/CASA) meningkat menjadi 83%, mempertegas dominasi BBCA dalam likuiditas dana murah.

Analis Buana Capital, James Stanley Widjaja, menilai kekuatan dana murah tetap menjadi fondasi utama BBCA. BBCA menjaga loan to deposits ratio (LDR) di level 78% sehingga likuiditas tetap ample untuk mengejar peluang di paruh kedua 2025, sekaligus menjaga biaya dana (CoF) tetap rendah di 1,1%.

"Kami mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga Rp 11.150, memberikan potensi kenaikan 33%. Fundamental bank tetap kokoh meski terdapat tekanan kualitas aset, dan kami melihat peluang loan growth 6-8% masih feasible," ujar James, dalam keterangan tertulis, Jumat (29/8/2025).

Pandangan serupa disampaikan analis Ciptadana Sekuritas, Erni Marsella Siahaan. Ia menyebut kinerja BBCA pada semester I-2025 cukup solid, dengan margin bunga bersih (NIM) terjaga 5,8% dan biaya operasional terkendali. Ciptadana mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham BBCA dengan target harga di Rp 11.600 per saham.

"Kami melihat BBCA tetap menjadi salah satu saham pilihan utama, berkat profil laba yang defensif, kualitas aset yang terjaga, serta franchise pendanaan yang terdepan di industri. Faktor-faktor ini membuat BBCA berada dalam posisi yang kuat di tengah ketidakpastian makroekonomi," jelas Erni.

Sementara itu, OCBC Sekuritas dalam riset terbarunya juga menyoroti 4 faktor yang membuat saham BBCA menarik. Pertama, pertumbuhan kredit yang solid, sejalan dengan kebijakan moneter yang lebih akomodatif, peningkatan belanja pemerintah, serta pemulihan pertumbuhan ekonomi. Kedua, likuiditas dan permodalan yang kuat, untuk mengakomodasi peningkatan permintaan kredit.

Ketiga, prinsip penyaluran kredit yang pruden, tercermin dari Loan at Risk (LAR) yang relatif rendah dan coverage ratio yang solid, menjadikan BBCA sebagai pilihan utama kami dalam menghadapi potensi guncangan. Keempat, pendapatan berbasis komisi yang meningkat, efisiensi yang membaik, serta penguatan CASA melalui pengembangan perbankan digital.

"Kami tetap mempertahankan rekomendasi BUY dengan target harga di Rp11.000 per saham, dengan asumsi ROE 20,7% dan cost of equity 9,8%," kata analis OCBC Sekuritas, Budi Rustanto.

CGS Internasional juga menegaskan prospek beli pada saham BBCA. Analis CGSI Handy Noverdanius, melihat BBCA konsisten pada DNA sebagai bank transaksi dengan CASA cost terendah.

"Potensi belanja pemerintah di paruh kedua tahun ini bisa menjadi katalis pertumbuhan kredit," ujar Handy.

Dengan valuasi saat ini di kisaran 3,6-3,8x PBV 2025F, BBCA diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya yang di atas 4x. Secara historis, setiap kali saham berada di area ini, biasanya terjadi technical rebound. Mayoritas analis menyebut level sekarang sebagai entry point menarik.

Selain itu, investor juga menanti dividen interim pada akhir tahun ini serta dividen final tahun depan, dengan yield yang diperkirakan stabil di 3,5-4% per tahun. Likuiditas kuat dengan CAR di atas 28% memberi ruang tambahan bagi potensi peningkatan dividen.

Meski terdapat risiko kualitas aset yang perlu dicermati, secara keseluruhan, konsensus analis masih menempatkan BBCA sebagai salah satu top pick di sektor perbankan Indonesia. Kombinasi valuasi relatif murah, prospek capital gain hingga 40% lebih, serta potensi dividen reguler membuat saham ini berpeluang segera rebound dari level saat ini.

Tonton juga video "Apakah Pemotongan Suku Bunga September Bisa Mendongkrak IHSG?" di sini:




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork