Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat perang tarif hingga kondisi geopolitik, perekonomian Indonesia masih cukup kuat untuk meredam risiko.
Ketangguhan ini didukung oleh bauran energi nasional yang berjalan baik serta eksekusi strategi fiskal yang pruden. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor pada Jumat (29/05).
"Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batu bara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global," ujar Juda Agung, dikutip dari keterangan Kementerian keuangan, Sabtu (30/5/2026).
Juda Agung memaparkan tiga strategi menjaga pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi.
Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan menjaga inflasi dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi melalui kenaikan pengeluaran subsidi.
Program Makan Bergizi Gratis juga diefisiensikan dengan pengurangan di Sabtu. Di saat yang sama, belanja negara difokuskan pada sektor produktif untuk mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru.
"Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan," jelas Wamenkeu.
Kedua, melalui optimalisasi penerimaan negara. Momentum kenaikan harga komoditas dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, optimalisasi penerimaan pajak semakin diperkuat melalui implementasi sistem Coretax.
Ketiga, dari sisi pembiayaan. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, strategi pembiayaan diarahkan pada penerbitan surat utang dengan mata uang non-US$ dan tingkat bunga kompetitif seperti Samurai bonds berdenominasi mata uang Yen (JPY), Dim Sum bonds dengan mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds dengan mata uang Dolar Australia.
Juda Agung menambahkan efektivitas dari penerapan strategi fiskal tersebut tercermin langsung pada performa ekonomi kuartal pertama tahun ini.
Perekonomian Indonesia mampu tumbuh kuat di angka 5,61%. Di samping pertumbuhan yang tinggi, laju inflasi tetap berada di level yang terjaga 2,42%, defisit fiskal terkendali 0,64% pada April 2026, dan yield SBN dan spread masih terjaga.
"Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik," pungkas Wamenkeu Juda.
(igo/hns)