Market Overview
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (17/9) berakhir di zona hijau. IHSG naik 0,40% ke level 6.462,43.
Sejumlah saham menjadi penopang pergerakan indeks. BMRI naik 2,11%, disusul DSSA yang menguat 3,23% dan DCII sebesar 1,50%. Sebaliknya, AMMN turun 4,85%, TLKM melemah 2,63%, dan SRAJ terkoreksi 4,03%.
Aktivitas investor asing juga mencatatkan pembelian bersih. Di pasar reguler, asing mencatat net buy Rp152,69 miliar, sementara di seluruh pasar mencapai Rp160,16 miliar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, 10 sektor berakhir menguat. Consumer Cyclical menjadi sektor dengan kenaikan paling tinggi, yakni 1,63%. Sementara itu, sektor Health menjadi satu-satunya sektor yang melemah paling dalam dengan penurunan 0,55%.
Bursa saham Amerika Serikat juga bergerak positif pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones naik 0,61% ke level 51.778, S&P 500 bertambah 1,14% ke 7.637, dan Nasdaq menguat 1,69% ke 26.418.
Pergerakan tersebut berlangsung di tengah meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak di Arab Saudi yang turut menekan harga minyak. Di pasar Indonesia, ETF EIDO naik 0,95%, sedangkan indeks MSCI Indonesia menguat 0,24%.
Berita Emiten
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
INET melakukan ekspansi bisnis melalui pengambilalihan 60% saham PT Sarana Global Indonesia (SGI). Nilai transaksi mencapai Rp280,40 miliar atau setara 7,35% dari ekuitas INET yang tercatat Rp3,81 triliun.
Transaksi tersebut dilakukan dengan membeli 180.000 saham baru SGI. Berdasarkan nilai transaksi terhadap ekuitas INET, aksi korporasi ini masuk dalam kategori bukan transaksi material maupun transaksi afiliasi.
Setelah transaksi, SGI menjadi entitas anak INET. Akuisisi ini juga membawa INET masuk lebih jauh ke bisnis engineering, procurement, and construction (EPC), termasuk pemeliharaan sistem kabel bawah laut yang digunakan untuk jaringan serat optik dan kabel listrik.
Ekspansi tersebut melengkapi bisnis utama INET di bidang jaringan serat optik. Perseroan sebelumnya memiliki rencana pengembangan tulang punggung serat optik nasional dengan total panjang sekitar 21.800 kilometer.
SGI sendiri memiliki pengalaman dalam pengerjaan proyek Palapa Ring Barat, Timur, dan Tengah. Perusahaan juga memiliki kontrak pemeliharaan jangka panjang yang menjadi sumber pendapatan berulang, serta armada kabel laut Pacific Guardian dan Nostag 10.
Dengan masuknya SGI ke dalam grup, INET kini memiliki kemampuan yang mencakup pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan infrastruktur kabel bawah laut dalam satu ekosistem.
PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)
CLEO menambah kapasitas produksinya pada 2026 dengan membuka fasilitas baru di sejumlah wilayah.
Pabrik baru CLEO di Palu mulai dioperasikan pada kuartal III 2026. Sementara fasilitas produksi di Pontianak dan Pekanbaru dijadwalkan beroperasi pada kuartal IV 2026.
Penambahan fasilitas tersebut akan memperluas jaringan produksi CLEO yang saat ini terdiri dari 33 pabrik air minum di berbagai kota. Ekspansi dilakukan setelah perseroan mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I 2026.
Penjualan bersih CLEO pada enam bulan pertama 2026 tercatat Rp1,69 triliun, naik 23,78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,37 triliun. Laba bersih juga meningkat 27,04% menjadi Rp262,51 miliar dari sebelumnya Rp206,64 miliar.
Segmen produk botol menjadi kontributor terbesar terhadap penjualan perseroan. Sementara itu, untuk memperluas distribusi pada paruh kedua tahun ini, CLEO kini memiliki sekitar 11.000 mitra distribusi dan 500 titik distribusi internal.
CLEO juga menambah produk baru melalui peluncuran CLEO Galon Praktis 15 Liter pada 5 September 2026. Produk tersebut menggunakan kemasan yang 100% bebas bisphenol-A (BPA).
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
MBMA menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback. Jumlah saham yang akan dibeli kembali maksimal mencapai 1,47 miliar lembar.
Untuk aksi tersebut, MBMA menyiapkan dana paling banyak Rp1,38 triliun. Nilai tersebut sudah termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang berkaitan dengan pelaksanaan buyback.
Perseroan memperkirakan aksi pembelian kembali saham tersebut tidak akan menurunkan pendapatan maupun memengaruhi biaya pembiayaan.
Berdasarkan perhitungan proforma dengan mengacu pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026, laba per saham dasar berada di level US$0,00028 dan tidak mengalami perubahan material.
Sementara itu, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tetap tercatat sebesar US$29,95 juta. Dalam perhitungan proforma tersebut, rata-rata tertimbang jumlah saham beredar turun dari 107,99 miliar menjadi 106,53 miliar lembar.
Pelaksanaan buyback saham MBMA dijadwalkan berlangsung paling lama tiga bulan, mulai 17 September hingga 16 Desember 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
CUAN - Buy 930-940 | TP 960-980 | SL 885
INET - Buy 332-336 | TP 342-348 | SL 314
DSSA - Buy 1105-1115 | TP 1140-1160 | SL 1040
VKTR - Buy 755-765 | TP 780-800 | SL 720
DMAS - Buy 193-195 | TP 198-200 | SL 185
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)