Laporan dari Abu Dhabi

Dunia Berlomba Kembangkan Energi Terbarukan

Wahyu Daniel - detikFinance
Minggu, 15 Jan 2017 12:05 WIB
Foto: Wahyu Daniel
Abu Dhabi - Bicara soal energi, biasanya yang ada di kepala kita adalah minyak, gas, atau batu bara. Energi konvensional yang biasa disebut energi fosil ini perlahan mulai ditinggalkan. Tren baru di dunia kini adalah mengembangkan energi terbarukan.

Negara-negara maju saat ini meninggalkan energi fosil yang dinilai 'kotor' dan berlomba mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Demikian gambaran pertemuan forum International Renewable Energy Agency (IRENA), di Hotel St. Regis, Abu Dhabi, Sabtu (14/1/2017). Pertemuan ini berlangsung dua hari hingga hari Minggu ini.

IRENA beranggotakan sekitar 150 negara, termasuk Indonesia.

Pada pertemuan tersebut terkuak, dalam 10 tahun belakang investasi pengembangan energi terbarukan naik pesat. Data terakhir di 2015 tercatat US$ 305 miliar, naik dari 2014 sebesar US$ 270 miliar, dan 2013 sebesar US$ 231 miliar.

Negara-negara maju dan berkembang makin giat mengurangi ketergantungannya kepada energi fosil, dan menggenjot energi terbarukan.

Dalam pertemuan itu, sejumlah negara maju di Eropa dan juga Amerika Serikat serta Jepang, menceritakan bagaimana negaranya tengah terus mengembangkan energi terbarukan.

China jadi salah satu negara dengan investasi energi terbarukan terbesar di dunia. Sepertiga dari investasi energi terbarukan dunia di 2015 disumbang oleh China. Demikian juga Jepang dan India. Investasi energi terbarukan Asia di 2015 mencapai US$ 161 miliar. Kemudian Uni Eropa US$ 52 miliar, dan AS sebesar US$ 51 miliar.

"Energi terbarukan saat ini sudah mainstream di dunia," kata Dirjen Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM, Rida Mulyana yang mewakili delegasi Indonesia, di sela pertemuan tersebut.

Jenis energi terbarukan yang paling banyak dikembangkan dunia adalah, tenaga matahari dan tenaga angin. Secara total listrik dari energi terbarukan di dunia jumlahnya mencapai 640 gigawatt di 2015 lalu.

Contoh negara yang energi terbarukannya berkembang pesat adalah Denmark. Listrik dari energi angin di Denmark mampu memenuhi 116% dari kebutuhan domestik, artinya ada surplus pasokan listrik. Kemudian Portugal, yang 65% pasokan listrik domestiknya dari energi angin di Desember 2025. Lalu pada 8 Mei 2016, sebanyak 95% dari kebutuhan listrik domestik di Jerman dihasilkan dari energi matahari dan angin.

Perkembangan energi terbarukan di dunia diikuti oleh teknologinya. Semakin maju teknologi yang dipakai, maka ongkos investasi dan tarif listrik energi terbarukan bakal lebih murah. Dengan begitu akan makin bersaing dengan listrik dari energi fosil.

Dalam pertemuan IRENA ini juga sempat dibahas, energi terbarukan bisa menjadi jawaban dari adanya miliaran orang di dunia yang belum tersentuh listrik. Negara-negara miskin di Afrika yang menjadi anggota IRENA juga mengembangkan proyek energi terbarukan.

Bahkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak yang merupakan negara kaya minyak, tengah gencar mengembangkan energi terbarukan.

Dalam catatan IRENA, sekitar 40% perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500, tengah mengembangkan energi terbarukan. Perusahaan ini antara lain Facebook, Walmart, Google, IKEA, P&G, dan juga Unilever.

Indonesia sebagai salah satu anggota IRENA juga mengungkapkan komitmen kuatnya mengembangkan energi terbarukan.

"Porsi energi terbarukan di Indonesia saat ini 10% dari total penggunaan energi. Lalu ditargetkan menjadi 13% di 2019, dan mencapai 23% di 2025," kaya Rida.

Berikut rencana pengembangan energi Indonesia hingga 2050:
1. Porsi energi terbarukan mencapai 23% di 2025 dan 31% di 2050
2. Minyak berkurang menjadi 25% di 2025 dan di bawah 20% di 2050
3. Batu bara menjadi 30% di 2025 dan 25% di 2050
4. Gas menjadi 22% di 2025 dan 24% di 2050

Saat ini kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia adalah 55 gigawatt. Dari jumlah itu, 80% masih menggunakan energi fosil dan sisanya energi terbarukan.

Energi terbarukan di Indonesia jadi alternatif untuk bisa melistriki sekitar 2.500 desa yang saat ini belum teraliri listrik. Sumber energinya tergantung geografis daerah dan sumber energi yang dihasilkannya.

Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Contoh saja potensi energi listrik dari tenaga air atau hidro mencapai 19 gigawatt, dan dari panas bumi atau geothermal mencapai 29 gigawatt. Indonesia memiliki 40% potensi panas bumi di dunia. Dari sekian besarnya potensi energi terbarukan di Indonesia, baru 6% yang diutilisasi menjadi listrik. Indonesia masih sangat bergantung kepada energi fosil.

Tantangan pengembangan energi terbarukan di Indonesia salah satunya adalah biaya tinggi, karena teknologinya harus diimpor. Kemudian masalah perizinan dan lahan.

Soal teknologi, Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan, Indonesia perlu ikut serta mengeluarkan biya riset pengembangan teknologi energi terbarukan. Dengan menggandeng produsen atau negara yang memiliki teknologi ini.

"Sehingga kita tidak ketergantungan membeli teknologi dari pihak lain. Bila kita bisa ikut riset pengembangannya, maka nanti pengembangan energi terbarukan di dalam negeri akan makin murah dan efisien," papar Agus. (wdl/dna)