energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
Cerita PLN Soal Mahalnya Biaya Distribusi Gas ke Pembangkit Listrik
Follow detikFinance
Jumat 31 Mar 2017, 10:52 WIB

Cerita PLN Soal Mahalnya Biaya Distribusi Gas ke Pembangkit Listrik

Michael Agustinus - detikFinance
Cerita PLN Soal Mahalnya Biaya Distribusi Gas ke Pembangkit Listrik Foto: Istimewa
Jakarta - Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI kemarin, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyoroti mahalnya biaya distribusi gas di sejumlah tempat, contohnya di Tanjung Benoa. Total biaya pengapalan LNG dari Bontang dan biaya regasifikasi di Terminal Penerimaan dan Regasifikasi LNG Tanjung Benoa mencapai sekitar US$ 4/MMBtu.

Akibat mahalnya biaya distribusi ini, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Pesanggaran tak bisa beroperasi dengan efisien. Biaya produksi listrik jadi mahal, tarif untuk masyarakat jadi susah diturunkan.

Baca juga: Jonan Soroti Biaya Distribusi Gas di Tanjung Benoa

Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso, mengungkapkan bahwa ada sejumlah komponen biaya yang dibebankan sehingga harga gas menjadi mahal begitu sampai di PLTG Pesanggaran. Mulai dari biaya angkut LNG dengan kapal, regasifikasi, sewa lahan dan jasa, serta pajak.

"Yang di Tanjung Benoa itu memang kebutuhannya kecil. Lahannya kan milik Pelindo III sehingga mereka mengenakan fee, karena lahan itu biasanya dipakai untuk komersial, sekarang kita pakai. Ada ongkos kapal, storage dan regasifikasi, pipa, sama penguatan dermaga," kata Iwan kepada detikFinance, Jumat (31/3/2017).

Ia membeberkan, gas untuk PLTG Pesanggaran berasal dari Kilang LNG Bontang, harganya saat ini sekitar US$ 6/MMBtu. Biaya pengiriman gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dari Bontang ke Tanjung Benoa sebesar US$ 1,4/MMBtu.

Sampai di Terminal, LNG diregasifikasi dengan biaya US$ 1,8/MMBtu. Lalu ada biaya sewa lahan dan jasa sebesar US$ 1/MMBtu. Total semua biaya itu sudah US$ 4,2/MMBtu, belum termasuk pajak. Dampaknya, gas untuk PLTG Pesanggaran harganya jadi lebih dari US$ 10/MMBtu.

"Pengapalan US$ 1,4/MMBtu, biaya regasifikasi US$ 1,8/MMBtu, ada biaya sewa lahan dan jasa dari Pelindo III US$ 1/MMBtu, plus pajak. Harga LNG dari Bontang US$ 6/MMBtu, sampai di pembangkit jadi lebih dari US$ 10/MMBtu," ungkap Iwan.

Mahalnya biaya distribusi gas untuk pembangkit listrik terjadi di sejumlah tempat, tak hanya di Tanjung Benoa saja. Biaya regasifikasi, transmisi, dan distribusi gas untuk PLTG Belawan di Sumatera Utara (Sumut) juga lebih dari US$ 4/MMBtu.

Baca juga: Ini Jurus Jonan Atasi Biaya Distribusi Gas Mahal

Gas untuk PLTG Belawan berasal dari Tangguh di Papua, setelah diproses jadi LNG harganya sekitar US$ 6/MMBtu. LNG dikapalkan dengan biaya US$ 0,6/MMBtu. Sampai di Terminal Penerimaan dan Regasifikasi LNG Arun, LNG diregasifikasi dengan biaya US$ 1,56/MMBtu.

Kemudian gas dialirkan ke PLTG Belawan melalui pipa transmisi Arun-Belawan yang mengenakan tol fee sebesar US$ 2,53/MSCF. Total biaya pengapalan, regasifikasi, dan transmisi sudah US$ 4,63/MMBtu. Harga gas jadi di atas US$ 10/MMBtu begitu sampai di PLTG Belawan.

"PLTG Belawan gasnya diangkut pakai pipa dari Arun sepanjang 300-an km. Ongkos angkut pakai kapal US$ 0,6/MMBtu, biaya storage dan regasifikasinya US$ 1,5/MMBtu, tol fee pipanya US$ 2,53/MSCF. Jadi US$ 4,63/MMBtu. Harga gasnya dari Tangguh kira-kira sekarang US$ 6/MMBtu, sampai pembangkit US$ 10,6/MMBtu," paparnya.

Karena itulah, Jonan menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM baru yang membatasi margin keuntungan dari regasifikasi, penyaluran, dan penjualan gas. PLN mendukung penuh langkah ini demi listrik murah untuk rakyat.

"Mungkin itu jadi concern bagaimana bisa turun," tutup Iwan. (mca/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed