Proyek 15.200 MW Ditunda, Jonan Jelaskan Nasib Listrik Panas Bumi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 06 Sep 2018 12:32 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Pemerintah memutuskan untuk menunda proyek kelistrikan 15.200 mega watt (MW). Langkah ini dilakukan untuk mengurangi impor yang berdampak pada nilai tukar rupiah. Lantas, bagaimana nasib pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP)?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, proyek pembangkit panas bumi tetap jalan. Jonan mengatakan, tahap eksplorasi untuk PLTP sendiri waktu yang cukup lama.


"Anda tanya, panas bumi bagaimana? Ini eksplorasi masih lama, eksplorasi paling cepat mungkin 2-3 tahun, pembangunan 4 tahun. Ini masih lama jalan aja. Saya katakan kalau panas bumi kalau eksplorasi masih panjang," ujar Jonan di JCC Senayan Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Jonan menerangkan, penundaan proyek kelistrikan untuk mengurangi kecepatan impor. Terlebih, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan belakangan ini.


"Gini penundaan ini itu ada beberapa hal, kita mengurangi pertumbuhan atau kecepatan impor barang, misalnya kalau nggak perlu ditunda karena pelemahan kurs rupiah belakang juga menjadi hal sangat diperhatikan," kata Jonan.

Selanjutnya, Jonan mengatakan, penundaan ini menimbang permintaan listrik. Tahun ini pemerintah memperkirakan pertumbuhan konsumsi listrik 8%, tapi realisasi sampai kuartal II 2018 baru sekitar 4%.


"Kedua demand-nya bergeser, misalnya tahun ini permintaan listrik diprediksi kalau UU APBN 2018 kira-kira 8% sampai triwulan II 4% lebih, kami lihat mungkin sampai akhir tahun paling banyak 6%. Jadi ada berapa pembangunan belum financial close atau belum disetujui pemerintah kita minta digeser setahun-dua tahun ada 2026," tutupnya. (hns/hns)